news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pak Di, saksi kasus pencabulan Kiai Ashari terhadap santriwati di Ponpes Ndholo Kusumo.
Sumber :
  • YouTube Curhat Bang Denny Sumargo

Saksi Ceritakan Awal Mula Didirikan Ponpes Ndholo Kusumo oleh Kiai Ashari: Belum Ada Kejanggalan tapi Gerak-geriknya Mencurigakan

Pak Di, saksi yang lebih dari 10 tahun bekerja dengan Kiai Ashari menceritakan awal mula didirikannya Ponpes Ndholo Kusumo Pati sebelum ramai kasus pencabulan.
Selasa, 12 Mei 2026 - 03:48 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Pak Di, nama samaran sekaligus saksi kasus pencabulan Kiai Ashari terhadap Santriwati membongkar awal mula terbentuknya Ponpes Ndholo Kusumo Pati.

Menurut Pak Di, Ponpes Ndholo Kusumo yang didirikan oleh Kiai Ashari di Pati pada awalnya hanya tempat pengajian untuk jemaah thoriqoh dari Jawa Timur.

Ashari bin Karsana atau Kia Ashari atau AS (51) yang merupakan pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Pati akhir-akhir ini tak lepas dari sorotan masyarakat luas.

Pasalnya, kedudukan Kiai Ashari sebagai orang yang paham agama malah dipergunakan untuk melakukan tindakan senonoh yaitu pencabulan terhadap santriwati.

Tercatat ada 50 santriwati yang sejauh ini terdata sebagai korban nafsu sesaat Kiai Ashari menurut saksi. Hal inilah yang membuat pihak berwajib langsung bergerak.

Sempat melarikan diri ke Jakarta dan Bogor, Ashari bin Karsana mengakhiri pelariannya di Kecamatan Purwantoro, Wonogiri sebelum diamankan petugas berwajib.

Tim gabungan Polresta Pati dan Jatanras Polda Jateng langsung mengamankan Kiai Ashari yang saat itu hendak pergi ke suatu tempat pakai motor bebeknya.

Awal Mula Didirikan Ponpes Ndholo Kusumo 

Kiai Ashari yang diduga melecehkan santri di Ponpes Ndolo Kusumo
Sumber :
  • Youtube FHI Multimedia/Gemini AI

Saksi yang punya nama samaran Pak Di datang ke podcast Denny Sumargo untuk membongkar kelakuan tak pantas dari pendiri Ponpes Ndholo Kusumo, Pati.

Ia hadir bersama kuasa hukum Ali Yusron beserta salah satu santriwati yang menjadi korban pencabulan Kiai Ashari yang memakai nama samaran Tari.

Pak Di menceritakan bagaimana situasi lingkungan sekitar sebelum akhirnya Ashari bin Karsana membentuk Ponpes Ndholo Kusumo di Tlogowungu, Pati.

“Saya mulai disitu dari 2015 atau 2016 ya. Di situ, mula-mula jadi temen, ngaji lah disitu, banyak orang-orang tua yang ngaji disitu saya nimbrung,“ kata Pak Di.

Awalnya kata Pak Di, tempat yang sekarang menjadi Ponpes Ndholo Kusumo merupakan kawasan untuk jemaah thoriqoh dari Jawa Timur berkumpul membentuk pengajian.

Pria paruh baya tersebut bahkan sampai dengan sukarela membantu Kiai Ashari untuk berkeliling mencari santri sebelum sebanyak sekarang.

“Sebelumnya belum bikin pondok itu, belum ada. Disitu dikumpulin orang tuh untuk jemaah thoriqoh di Jawa Timur,” ucapnya.

“Disitu mulai bikin pondok, terus saya bantulah, bantu cari santri, untuk bantu bangun pondok, bangun sekolahan jadi saya mulai disitu pembangunan gedung MI,“ jelasnya.

Pak Di Curiga dengan Kiai Ashari

Terduga pelaku pencabulan santriwati Kiai Ashari
Sumber :
  • Youtube FHI Multimedia

Setelah Ponpes Ndholo Kusumo, Tlogowungu, Pati resmi berdiri, kecurigaan satu per satu mulai terlihat dalam gerak-gerik dari seorang Ashari bin Karsana.

Berdasarkan kesaksian Pak Di, pria 51 tahun tersebut selalu mengajak santriwati untuk keluar pergi malam-malam dengan alasan ziarah atau sholawatan.

“Di situ tuh saya juga gerak-geriknya pak kiai-nya kurang, menurut saya kurang pas,“ kata Pak Di.

“Contohnya begini, dia tuh selalu yang diajak pergi malam, entah kegiatan sholawatan, entah ziarah itu kebanyakan santriwati atau wanita, ada di situ yang udah berkeluarga diajak,“ tegasnya.

Tabir kecurigaan Pak Di berlanjut setelah dia menyadari bahwa Kiai Ashari tak pernah sekalipun menyuruh santri laki-laki untuk memijatnya.

“Kejanggalan-kejanggalan di situ, dia tuh selalu kenapa ya yang disuruh mijit ketika sudah banyak santri itu ya kok gak pernah dia nyuruh anak laki-laki untuk mijit,“ beber Pak Di.

Tak jarang, Kiai Ashari juga menyeleksi siapa-siapa saja santriwati yang bisa memijatnya. Ia memilih korban dengan paras wajah cantik hingga terampil pijat.

“Setiap kali kan sering jagong (berkunjung) ya sama saya terus kalo saya begadang malam ya ikut jagong di situ,“ ujarnya.

“Ketika dianya gak cocok sama yang satu, itu alasannya 'wah tangannya gatal', dalam arti kurang enak mijitnya,“ papar Pak Di.

(han)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:56
01:33
02:53
07:16
00:53
01:07

Viral