- jabarprov.go.id
Bukan Sekadar Pusaka, Naskah Akademik Mahkota Binokasih Diroyeksikan Jadi Acuan Masa Depan Jawa Barat ala Dedi Mulyadi
Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa Prasasti Batutulis di Bogor dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang memimpin Kerajaan Pajajaran pada 1482–1521.
Menurut Titi, keberadaan peninggalan Pajajaran kini sangat terbatas akibat runtuhnya kerajaan dan masuknya pengaruh kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa berikutnya. Karena itu, Mahkota Binokasih dan Prasasti Batutulis menjadi artefak penting untuk melacak kejayaan masa lalu Tatar Sunda.
Dalam naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih disebut pertama kali dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol legitimasi kekuasaan.
Ketika Pajajaran runtuh, mahkota tersebut diselamatkan oleh empat utusan kerajaan dan kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang.
Fakta sejarah itu membuat Mahkota Binokasih tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga simbol kesinambungan politik, budaya, dan identitas masyarakat Sunda selama ratusan tahun.
Ahli BRIN Ungkap Makna Kosmologi Mahkota Binokasih
Menariknya, penelitian ilmiah terhadap Mahkota Binokasih juga mengungkap filosofi mendalam di balik desainnya. Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, menyebut mahkota tersebut mengadopsi konsep Kosmologi Tritangtu.
Konsep itu menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Menurut Harry, struktur Mahkota Binokasih terbagi menjadi tiga bagian utama yang melambangkan sistem kepemimpinan Sunda kuno.
Bagian atas berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai yang melambangkan golongan rohaniawan atau pemimpin spiritual. Filosofi ini menggambarkan kebijaksanaan dan nilai moral yang menjadi penuntun masyarakat.
- tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Bagian tengah merepresentasikan raja atau pemimpin pemerintahan. Ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur melambangkan ketegasan, keberanian, serta tanggung jawab pemimpin dalam melindungi rakyat.
Sementara bagian bawah melambangkan kaum intelektual atau penasihat kerajaan yang bertugas memberikan ilmu pengetahuan dan pertimbangan logis dalam pemerintahan.
Kajian ilmiah tersebut memperlihatkan bahwa Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol kerajaan, melainkan juga menyimpan sistem nilai yang kompleks dan relevan hingga saat ini.
Karena itulah, kirab budaya Mahkota Binokasih 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi masyarakat Jawa Barat untuk kembali memahami identitas budaya mereka secara lebih ilmiah dan modern. (udn)