- tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Papua di Mata Dedi Mulyadi: Penyayang, Penuh Cinta, dan Lembut Mirip Orang Sunda
Papua Harus Didekati dengan Perasaan, Bukan Taktik
Dari pengalaman panjang itulah Dedi Mulyadi sampai pada satu kesimpulan yang ia yakini sepenuh hati: Papua tidak bisa didekati dengan kalkulasi dingin. Papua hanya bisa dipahami dengan perasaan.
"Dia perasa. Seringkali kita pahami orang perasa sebagai orang yang kalau mudah dikalahkan, tidak. Dia punya ikatan emosi yang sangat tinggi. Karena orang perasa, maka memahami Papua harus dengan perasaan lagi," ujar Dedi Mulyadi.
Ia juga menekankan bahwa yang perlu berubah bukan masyarakat Papua, melainkan cara kita memandang dan mendekati mereka.
"Untuk itu bukan dia yang harus ngerti kita, kita yang harus mengerti dia. Kalau makan tidak boleh telat, karena itu orang Sunda sama, orang perasa," kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi menutup pesannya dengan kalimat sederhana namun sarat makna, yang sekaligus menjadi inti dari seluruh pandangannya tentang Papua.
"Cinta harus bertemu dengan cinta," pungkas Dedi Mulyadi.
Pernyataan Dedi Mulyadi ini menjadi pengingat bahwa pendekatan terhadap Papua tidak cukup hanya dengan program dan anggaran. Dibutuhkan ketulusan, empati, dan kesediaan untuk benar-benar memahami manusia Papua apa adanya.
(anf)