- YouTube/Reyben Entertainment
Bahasa Tubuh Sarwendah Jadi Sorotan Pakar Mikro Ekspresi, Katanya Mantan Istri Ruben Onsu Itu Hanya Pura-pura Sedih
tvOnenews.com - Video klarifikasi dan permintaan maaf Sarwendah setelah aksi marah-marahnya viral di berbagai platform media sosial terus memicu perbincangan hangat publik.
Banyak netizen yang mempertanyakan apakah permohonan maaf tersebut benar-benar tulus atau sekadar formalitas belaka.
Menanggapi fenomena ini, seorang pakar ekspresi bernama Kirdi Putra "menguliti" secara mendalam setiap gerak-gerik serta ucapan mantan personel Cherrybelle tersebut.
Lewat analisisnya, sang pakar secara gamblang menyatakan bahwa bahasa tubuh Sarwendah sama sekali tidak sinkron dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
- Instagram/hiburanlayarsentuh | Instagram/sarwendah29
Sejak awal tayangan video permintaan maaf mantan istri Ruben Onsu tersebut, Kirdi langsung menangkap adanya penanda verbal (ucapan) dan nonverbal (bahasa tubuh) yang sangat kompleks.
Dari sisi verbal, sebuah permohonan maaf yang tulus idealnya harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu kejelasan mengenai siapa yang meminta maaf, kepada siapa maaf itu ditujukan, dan alasan spesifik di balik kesalahan tersebut.
Sayangnya, menurut Kirdi, Sarwendah tidak memenuhi dua dari tiga syarat tersebut, walau pada awalnya memang ia mengatakan meminta maaf.
"Kalau kita bicara tentang apa yang dilakukan oleh Sarwendah, Sarwendah tidak cerita, tidak ngomong, tidak mengucapkan kenapa dia minta maaf," ujar Kirdi, dikutip dari YouTube Reyben Entertainment pada Sabtu (6/6/2026).
"Kalau kita mau bicara apakah kemudian dia beneran minta maaf atau tidak, saya akan bilang tidak," sambungnya.
- YouTube/Reyben Entertainment
Kontradiksi terbesar justru terlihat jelas pada analisis nonverbal atau bahasa tubuhnya yang sangat defensif.
Di awal klarifikasi, Sarwendah menunjukkan gestur tangan yang diletakkan di depan sambil saling menggenggam erat.
Pakar ekspresi menyoroti bahwa genggaman tangan tersebut mendadak menjadi jauh lebih kencang, rapat, dan tegang tepat saat ia mulai berbicara tentang perlindungan terhadap anak-anaknya.
Pengetatan gestur tangan ini mengindikasikan adanya tekanan ego serta emosi defensif yang tinggi.
"Ketika bicara tentang anak, itu makin kenceng dia megangnya, makin kenceng ketika bicara soal anaknya."
"Kemudian mulai loose, mulai lepas (genggaman tangannya), menandakan dia lebih santai ketika menjelang akhir," tutur Kirdi.
- YouTube/Reyben Entertainment
Puncak dari ketidaksinkronan bahasa tubuh tadi terjadi di bagian akhir video. Kirdi menilai, bahwa seseorang yang meminta maaf dengan tulus biasanya akan menunjukkan emosi sedih atau malu yang konsisten pada wajahnya.
Namun, ketika Sarwendah mencoba menampilkan kesan sedih, mikro ekspresinya justru memperlihatkan sebaliknya.
Menurut Kirdi, tarikan garis bibir Sarwendah yang terlihat di detik-detik terakhir justru cenderung naik dan hampir membentuk sebuah senyuman tipis.
"Kalau dilihat, dia ingin menampilkan sedih, tetapi tarikan garis bibirnya itu sebetulnya lebih cenderung agak hampir senyum."
"Jadi buat saya, apa yang dia sampaikan, kata-kata verbal yang disampaikan itu tidak sinkron dengan nonverbal yang dia tampilkan.
Oleh karena itu, sang pakar menyimpulkan bahwa video klarifikasi Sarwendah tidak lebih dari sebuah pertunjukan drama teatrikal semata.
Tujuan utamanya dinilai bukan karena penyesalan yang murni dari dalam hati, melainkan sebuah strategi komunikasi yang sengaja dirancang demi menyelamatkan reputasi serta menjaga citra dirinya di hadapan para penggemar.
"Jadi, kalau ditanya sekali lagi, apakah ini adalah sebuah ee katakanlah permintaan maaf yang tulus? Jawabannya adalah bukan."
"Ini adalah sebuah pertunjukan untuk menjaga citra dia di hadapan banyak orang," tegas Kirdi dengan penuh penekanan.