news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ruben Onsu dan Thalia.
Sumber :
  • YouTube The Onsu Family

Bukan Tidak Sopan, Psikolog Ungkap Alasan Mengejutkan di Balik Sikap Putri Ruben Onsu saat Live

Psikolog ungkap sikap putri Ruben Onsu saat live bukan tidak sopan, melainkan crying for help. Tanda kelelahan mental anak yang butuh semua pihak berhenti menghakimi.
Kamis, 11 Juni 2026 - 13:33 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Sikap putri Ruben Onsu yang terkesan tidak peduli saat live di media sosial ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari yang terlihat. 

Ruben Onsu sendiri sebelumnya mengungkapkan keberatannya karena sang anak dibiarkan membaca komentar netizen yang tidak terkontrol di tengah polemik yang sedang memanas. 

Kini, psikolog Sani Budiantini hadir memberikan penjelasan yang justru membuat banyak pihak merenung dan memahami kondisi sesungguhnya yang sedang dialami putri Ruben Onsu tersebut.

Menurut Sani, reaksi kesal atau penolakan yang ditunjukkan sang anak terhadap komentar netizen soal konflik kedua orang tuanya adalah sesuatu yang sangat wajar. Anak tersebut sudah memasuki fase remaja di mana tekanan dari berbagai sisi, baik akademis, pergaulan, maupun keluarga, sudah cukup berat untuk ditanggung seorang diri.


Psikolog, Sani Budiantini. (Sumber: YouTube The Onsu Family)

"Jadi memang usia anak 11 tahun tu kan usia yang memasuki usia remaja. Di mana usia remaja itu tentunya punya juga ketahanan mental tersendiri ya, di mana perkembangan remaja itu kan lebih sering ada mungkin pressure di akademis, pressure di pergaulan. Nah, ketika ini ditambah lagi pressure mengenai keluarga atau celotehan netizen terhadap ayahnya, ini pasti akan menambah berat ya di fase remaja dia gitu ya," ucap Sani dalam tayangan YouTube Intens Investigasi pada 11 Juni 2026.

Sani melanjutkan bahwa kondisi tersebut bisa berujung pada kelelahan mental yang serius.

"Di mana tidak mudah gitu ya menerima omongan negatif terhadap orang tua mereka. Dari sisi hal ini mungkin ayah, dan akan terjadi yang namanya burnout, kelelahan, capek, atau sudah tidak sanggup lagi menerima hal-hal yang negatif terhadap keluarganya," jelas Sani.

Yang paling mengejutkan adalah penjelasan Sani soal makna sesungguhnya di balik sikap sang anak yang meminta netizen untuk berhenti membahas masalah orang tuanya.

"Makanya biasanya ada semacam permohonan nih terhadap netizen untuk tidak lagi membahas masalah ini, tidak menjelekkan atau tidak mengulik lagi keluarganya, yang mana ini bisa saja bentuk dari minta pertolongan atau kita sebutnya dengan crying for help," ungkap Sani.

"Jadi, ini sedang meminta bantuan, crying for help. Minta bantuan sungguh-sungguh untuk menyetop hal ini supaya tidak lagi dibesar-besarkan, atau mungkin ya mereda, karena tadi bentuk kelelahan secara mental dari anak sebagai korban," lanjutnya.

Sani menegaskan bahwa respons semacam itu adalah hal yang sangat manusiawi dan tidak seharusnya disalahartikan.

"Crying for help itu bisa muncul ketika seorang anak merasakan beban psikologis yang berat, tidak sanggup lagi menerima komentar-komentar negatif, dan oleh karena itu makanya dia minta bantuan kepada semua orang untuk paling tidak mereda," papar Sani.

"Ini wajar terjadi pada siapapun, apalagi di posisi seorang anak, apalagi anak ini memasuki fase remaja yang mana sudah cukup juga mengalami perubahan-perubahan secara hormon, mental, psikologis, fisik. Dan menurut saya ini suatu bentuk sikap atau keputusan yang sangat wajar ketika anak memang minta bantuan untuk membantunya," tambahnya.

Di sisi lain, Sani juga menyoroti situasi yang dialami Ruben Onsu terkait hambatan dalam bertemu anak-anaknya. 

Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, diungkapkan bahwa akses Ruben untuk bertemu anak sesuai kesepakatan dua hingga tiga hari seminggu kerap terhambat oleh pihak Sarwendah dengan alasan kesibukan. 

Pihak Ruben bahkan mulai mempertimbangkan upaya hukum untuk mendapatkan hak asuh penuh jika situasi ini terus berlanjut.

Sani dengan tegas menyarankan agar hak anak untuk bertemu dengan kedua orang tuanya pasca-perceraian tetap dipenuhi tanpa hambatan.

"Memang saya sih sarankan anak pasca perceraian orang tua tetap bertemu dengan orang tuanya karena kan tidak bisa tergantikan posisi orang tua kandung ya, baik ibu maupun bapak. Tapi terkadang konflik antara orang tua mereka bisa membuat akhirnya terhambatnya pertemuan anak dengan salah satu orang tua ya kan. Dan ini yang saya sesali dan saya prihatin karena jangan sampai anak tuh jadi korban lagi. Sudah korban perceraian, korban pula terhambat interaksi yang baik antar kedua orang tua mereka tadi," ucap Sani.

Sani pun mengingatkan bahwa menghambat pertemuan anak dengan orang tuanya bisa berdampak sangat buruk dalam jangka panjang.

"Dan ya pada akhirnya nanti anaknya kalau enggak dipenuhi akan jadi kecewa, akan jadi mungkin ada marah, ada kesal gitu kan, dan bisa jadi bumerang terhadap lingkungan atau orang-orang yang menghambat itu semua gitu," kata Sani.

"Jadi itu yang dikhawatirkan, jangan sampai terhambatnya pertemuan anak ini dengan ayahnya justru jadi akhirnya bumerang buat orang yang menghambat itu. Jadi akhirnya anak tidak ada lagi trust kepada orang dewasa di sekitarnya," lanjut Sani.

"Trust kepada orang tua, trust terhadap suatu hubungan keluarga. Nah, jadi yang jelas diharapkan secepat mungkin atau sebisa mungkin bisa bertemu kembali dengan sang ayah," tutup Sani.

Di balik semua polemik yang terus bergulir, psikolog mengingatkan satu hal yang paling penting yaitu anak-anak adalah pihak yang paling rentan dan paling membutuhkan perlindungan, bukan sebagai objek konflik, melainkan sebagai individu yang berhak mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:39
05:01
09:20
06:52
03:24
01:04

Viral