news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya & Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein.
Sumber :
  • Kolase tangkapan layar YouTube Najwa Shihab & Instagram Om Zein

Kenapa Lagu Bupati Purwakarta Tuai Kontroversi? Atalia Praratya Heran dengan Lirik yang Rendahkan Gender Perempuan

Anggota Komisi VIII DPR, Atalia Praratya menyoroti lirik lagu Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein berjudul "Lalaki Langit Lalanang Bejat".
Rabu, 1 Juli 2026 - 13:49 WIB
Reporter:
Editor :

Purwakarta, tvOnenews.com - Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya menyoroti Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein. Perhatian itu tak lepas dari lagu menggunakan lirik Bahasa Sunda.

Atalia protes keras terhadap karya lagu milik Bupati Purwakarta. Judul lagu "Lalaki Langit Lalanang Bejat" kian menuai kontroversi di ruang publik.

Mulanya karya tersebut dipresentasikan dalam acara Hajat Bumi di Lingga Mukti, Purwakarta. Lagu ciptaan Om Zein kini dikritik keras khususnya dari Atalia Praratya yang menyoroti makna liriknya.

Atalia memberikan penilaian lirik lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat. Menurutnya, maknanya mengabaikan bahkan merendahkan gender perempuan sehingga berlawanan pada nilai budaya Sunda.

"Jujur, saya tidak habis pikir," tulis atalia Praratya melalui Instagram pribadinya dikutip tvOnenews.com, Rabu (1/7/2026).

Awal mula lagu ini menunjukkan sebagai ungkapan rasa syukur. Seiringnya waktu, lirik karya ciptaan Om Zein semakin merebak hingga viral di media sosial.

Sejumlah kalangan termasuk Atalia merasa heran. Mereka bertanya-tanya terkait makna pesan yang tersirat dalam lirik lagu tersebut.

Beberapa bagian liriknya dianggap berpotensi adanya stereotip gender. Maksudnya, hal ini mengandung adanya pandangan, asumsi atau generalisasi secara berlebihan terkait peran, sifat, dan perilaku dianggap pantas bagi seseorang hanya karena jenis kelaminnya.

Stereotip seperti ini menunjukkan adanya akar ketidakadilan. Selain itu, pandangan ini juga rentan memicu diskriminasi dalam masyarakat.

Selaras dengan sejumlah makna lagu tersebut. Liriknya juga dianggap menunjukkan bahwa laki-laki sangat superior hingga bias terhadap perempuan lewat guyonan secara sensitif.

"Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," katanya.

Pandangan Atalia Praratya soal Karya Lagu Bupati Purwakarta

Atalia Praratya menyoroti lagu milik Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein berjudul 'Lalaki Langit Lalanang Bejat'
Sumber :
  • Instagram/@ataliapr

Ia membagikan pandangan terkait lagu tersebut. Akar persoalannya disebabkan karena selera seni hingga menunjukkan adanya kebebasan dalam berekspresi.

Ia berpendapat, lagu ini tidak hanya tentang hal tersebut, tetapi juga mengacu pada aspek pemilihan penggunaan kata yang dinilai berlawanan pada nilai-nilai di tengah budaya Sunda.

Bahasa Sunda, kata dia, sebagai salah satu anugerah terindah lantaran memiliki kekayaan kosakata yang indah. Selain itu, bahasa ini juga mempunyai sarat pesan moral.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini bertanya narasi tersebut dipilih dan dibawa oleh seorang kepala daerah. Pasalnya, hal ini dianggap mengandung penyimpangan terhadap perempuan.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah, dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan, mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih?," gemas dia.

Filosofi Sunda Bagi Atalia Praratya

Ia juga berbagi pandangan terkait filosofi Sunda. Menurutnya, hal ini mengutamakan nilai saling menyayangi, saling mencerdaskan, saling membimbing, serta saling menghargai.

Dalam lirik tersebut, Atalia menilai adanya unsur bahan candaan terhadap persoalan biologis perempuan. Menurutnya, hal itu tidak memberikan cerminan terkait semangat budaya Sunda.

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya mengetahui bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, slih asuh, silih wawangi. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," paparnya.

Persoalan patriarki juga menjadi sorotan Atalia. Aspek ini terus menjadi tantangan guna menciptakan adanya kesetaraan gender.

Ia merasa heran narasi tersebut seperti mengandung unsur patriarkal. Ironisnya, hal ini muncul hingga dilahirkan oleh seorang pejabat publik dianggap mempunyai pengaruh besar khususnya di wilayahnya.

"Mengapa narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?," tanya Atalia.

Belakangan ini, beberapa bagian lirik lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat semakin menuai sorotan publik. Bagian ini dianggap kontroversi hingga problematik.

Lirik menuai sorotan memiliki bunyi "Makasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli k*tang yang busanya lebih besar daripadad payudara".

Kandungan dalam kalimat lirik tersebut dinilai mengandung seksualisasi terutama mengarah pada tubuh perempuan. Selain itu, bagian ini juga memicu pandangan negatif terhadap kalangan perempuan.

Tidak hanya bagian tersebut. Lirik lain juga memicu kontroversi yang berbunyi "Sebab, kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3, aku udah keguguran 7 kali".

Tak sedikit publik memberikan penilaian dari bagian lirik lagu tersebut. Isinya dinilai merendahkan hingga menganggap enteng terhadap isu kehamilan remaja dan keguguran yang dianggap tak wajar dibuat bahan candaan.

Bagian lainnya menunjukkan kecemasan reproduksi perempuan dianggap menjadi bahan lelucon. Isu seperti ini sangat bereratan pada bagian kesehatan hingga kondisi biologis yang sensitif. Adapun liriknya berbunyi "Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan".

(hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
02:32
01:33
01:17
04:04
03:20

Viral