- ANTARA/Ali Khumaini
Mengenal Lagu Sunda 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' Ciptaan Bupati Purwakarta, Beserta Lirik dan Terjemahannya
Purwakarta, tvOnenews.com - Lirik lagu menggunakan Bahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" milik Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein alias Om Zein terus mencuri perhatian publik.
Bukan karena unsur nada dan musikalitas, makna lirik dalam lagu ciptaan Bupati Purwakarta tersebut yang justru mendadak viral di media sosial.
Lirik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat menuai kontroversi. Isinya dinilai mengandung stereotip terhadap gender perempuan yang pertama kali diperkenalkan dalam acara Hajat Bumi di Lingga Mukti.
Mulanya, alasan Om Zein menciptakan karya lagu tersebut untuk menyampaikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Terkini, gelombang kritik semakin meluas lantaran sebagian dalam liriknya dianggap mengandung pengalaman biologis perempuan.
Lirik lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" Ciptaan Bupati Purwakarta Om Zein
- TikTok/@omzein_bupatiaing
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Cacak mun jadi awewe
Andai saja jadi perempuan
ES-Em-Pe kelas tilu
SMP kelas tiga
Tos Karuron tujuh kali
Sudah keguguran tujuh kali
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Teu Kudu Meuli Kutang
Tidak usah membeli bra
Nu busana leuwih gede batan susu
Yang busanya lebih besar daripada payudara
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek
Tidak usah keluyuran mencari apotek
Alatan telat bulan
Karena telat bulan (datang bulan)
Nuhun Gusti
Terima kasih Tuhan
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki
Sudah menciptakan aku jadi laki-laki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata
Tidak usah melukis alis dan bulu mata
Sakalina ngiceup hese beunta
Yang sekali berkedip susah melek
Lalaki langit
Lelaki langit
Lalanang bejad
Lelaki bejat.
Makna Lagu Milik Bupati Purwakarta yang Tuai Kontroversi
Sebagian lirik lagu tersebut menunjukkan adanya perbandingan pengalaman atara menjadi laki-laki dan perempuan. Makna di dalamnya menyinggung persoalan kehamilan, keguguran, menstruasi.
Tak hanya itu, lirik ini juga menyinggung terkait penggunaan atribut perempuan dijadikan materi berbasis humor. Sebagian kalangan menilai hal ini bentuk candaan yang tidak sensitif.