- Instagram @ruben_onsu
Komnas Anak Beri Peringatan ke Giorgio Antonio, Tegaskan Pacar Sarwendah Tak Berhak Ambil Keputusan untuk Anak
tvOnenews.com - Perdebatan mengenai keterlibatan Giorgio Antonio dalam kehidupan anak-anak Sarwendah dan Ruben Onsu kembali menjadi perhatian publik.
Setelah sebelumnya Ruben Onsu mengkritik kekasih mantan istrinya karena dinilai ikut mengambil keputusan terkait anak, kini Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Agustinus Sirait, ikut memberikan pandangannya.
Menurut Agustinus, seseorang yang masih berstatus sebagai pacar tidak memiliki dasar hukum maupun kewenangan untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan anak dari pasangannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga batasan demi melindungi kepentingan terbaik anak.
Agustinus Sirait menilai persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan etika dalam keluarga, tetapi juga menyangkut perlindungan anak.
Ia menegaskan bahwa selama hubungan masih sebatas pacaran, seseorang belum memiliki kedudukan hukum sebagai bagian dari keluarga inti sehingga tidak berhak menentukan keputusan yang berkaitan dengan anak.
“Ya enggak ada haknya di situ ya. Apalagi ini pasangannya juga dalam bentuk berpacaran ya. Kan enggak ada dasar hukumnya juga. Dan tentang masalah etis dan tidak etis, kan ini enggak etis gitu ya,” kata Ketua Komnas Anak Agustinus Sirait di YouTube Reyben Entertainment.
Pernyataan tersebut muncul setelah beredarnya video yang memperlihatkan Giorgio Antonio memberikan jawaban kepada anak Sarwendah saat meminta izin mengunyah permen karet.
Video itu kemudian memicu reaksi Ruben Onsu yang merasa keputusan mengenai anak seharusnya tetap menjadi kewenangan orang tua.
Selain menyoroti kasus yang sedang ramai dibicarakan, Agustinus juga menyampaikan imbauan kepada para orang tua, khususnya ibu yang memiliki pasangan baru.
Menurutnya, penting untuk memahami bahwa pasangan yang belum resmi menjadi anggota keluarga tetap merupakan pihak luar dalam konteks pengasuhan anak.
Karena itu, ia menyarankan agar orang tua tetap memberikan batasan yang jelas mengenai interaksi pasangan dengan anak.
"Saya juga mengimbau buat Sarwendah dan ibu-ibu yang lain, pasangan ini kan sementara baru sebatas pacar, itu bagian dari orang lain kalau dalam keluarga kita, harusnya juga bisa memberikan batasan-batasan bagaimana anak-anak kita itu diatur sedemikian mungkin untuk bisa membatasi.”
Agustinus menilai batasan tersebut merupakan bagian dari langkah preventif dalam melindungi anak dari berbagai risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Dalam kesempatan yang sama, Agustinus juga menyinggung pentingnya pendidikan mengenai body safety atau keamanan tubuh bagi anak sejak usia dini.
Konsep body safety merupakan salah satu pendekatan yang banyak direkomendasikan oleh organisasi perlindungan anak di berbagai negara untuk membantu anak mengenali batasan tubuhnya serta memahami hak atas keamanan diri.
Menurut Agustinus, orang tua perlu mengajarkan kepada anak mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain tanpa izin.
"Kalau di Komnas Anak itu ada body safety, anak-anak kita harus kita lindungi bagian mana tubuhnya yang enggak boleh disentuh orang lain, apalagi orang lain ya. Dan seperti itu harus kita ajarkan sedini mungkin bagaimana body safety kepada anak-anak. Mana yang boleh dipegang, mana yang tidak."
Ia melanjutkan bahwa pendidikan tersebut penting sebagai bentuk perlindungan jangka panjang.
"Itu juga bagian dari upaya melindungi anak-anak kita dari kemungkinan tindakan kita enggak tahu nanti di kemudian hari," ujarnya memungkasi.
Sejumlah lembaga perlindungan anak, termasuk organisasi internasional seperti UNICEF, juga mendorong orang tua untuk memberikan edukasi tentang batasan tubuh, persetujuan (consent), serta keberanian melapor apabila anak merasa tidak nyaman terhadap perlakuan orang lain.
Polemik ini bermula setelah Ruben Onsu mengunggah video di akun Instagram pribadinya pada Rabu (15/7/2026).
Dalam video tersebut, salah satu anak Sarwendah terlihat meminta izin kepada sang ibu untuk mengunyah permen karet.
Namun sebelum Sarwendah memberikan jawaban, Giorgio Antonio lebih dulu memperbolehkannya.
Momen singkat itu kemudian menjadi sorotan Ruben.
Presenter tersebut menilai keputusan sekecil apa pun yang berkaitan dengan anak tetap menjadi bagian dari pola asuh yang telah disepakati dirinya bersama Sarwendah sebagai orang tua.
Ruben juga mengungkapkan ketidaknyamanannya apabila pihak lain ikut mengambil keputusan mengenai anak-anaknya.
Menurutnya, keberadaan Giorgio sebagai kekasih Sarwendah seharusnya tidak menggeser peran maupun kewenangan orang tua kandung dalam pengasuhan.
Perdebatan mengenai peran Giorgio Antonio muncul di tengah proses hukum sengketa hak asuh anak antara Ruben Onsu dan Sarwendah yang saat ini masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Ruben sebelumnya mengajukan gugatan hak asuh terhadap kedua putrinya dengan alasan salah satunya berkaitan dengan pelaksanaan pola pengasuhan yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
Sementara itu, pihak Sarwendah melalui kuasa hukumnya menyatakan tetap mengedepankan kepentingan terbaik anak dan berharap proses mediasi dapat menghasilkan solusi yang baik bagi semua pihak.
Terlepas dari perbedaan pandangan kedua belah pihak, para pemerhati perlindungan anak menekankan bahwa setiap keputusan dalam proses pengasuhan semestinya berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak (best interests of the child).
Prinsip tersebut juga menjadi salah satu dasar penting dalam sistem perlindungan anak di Indonesia maupun berbagai instrumen internasional yang telah diratifikasi pemerintah.
(tsy)