news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi korban tewas.
Sumber :
  • Ilustrasi by tvOnenews.com/Wildan

Terungkap Pangeran Arab Saudi yang Ditemukan Meninggal Dunia, Imbas Konsumsi Alkohol hingga Pesta Narkoba

Pangeran Arab Saudi yang ditemukan meninggal dunia di hotel di London, Inggris, Abdullah bin Fahad bin Abdullah akibat pesta konsumsi alkohol hingga narkoba.
Rabu, 29 Juli 2026 - 12:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Penemuan jasad seorang pangeran Arab Saudi di London, Inggris pada tahun lalu menggegerkan publik. Pangeran muda tersebut bernama Abdullah bin Fahad bin Abdullah bin Abdulaziz bin Jalawi Al Saud (29).

Menariknya, pangeran Arab Saudi tersebut ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar hotel mewah, tepatnya di kamar London Marriott Hotel Kensington yang harga sewanya mencapai 600 poundsterling atau setara Rp14,3 juta per malam.

Dilansir tvOnenews.com dari TheTelegraph, Rabu (29/7/2026), laporan toksikologi yang dipaparkan di pengadilan menunjukkan bahwa Pangeran Abdullah memiliki kadar alkohol dalam darahnya.

Merujuk dari NDTV, kadar alkohol tersebut hampir tiga kali lipat melebihi batas legal yang diperbolehkan untuk mengemudi, baik saat keadaan mabuk ketika dirinya meninggal dunia.

Berdasarkan dari hasil sidang pemeriksaan kematian di Pengadilan Koroner Inner West London, jantung anggota keluarga kerajaan Arab Saudi tersebut berhenti mendadak. Hal itu terjadi pasca mengonsumsi alkohol hingga beberapa obat-obatan dalam kadar yang cukup banyak.

Pihak berwenang mendapatkan jejak dalam tubuh sang pangeran. Pangeran Abdullah memiliki kadar gamma-hydroxybutyrate (GHB), ganja, dan Xanax. Akibat overdosis, ia ditemukan di kamar mandi kamar hotel di Kensington, London Barat pada 25 November 2025.

Sudah Lama Lawan Kecanduan Alkohol hingga Xanax

Kronologi Pangeran Arab Saudi meninggal dunia diterangkan di pengadilan. Hal ini berawal bahwa Pangeran Abdullah sudah lama berjuang mengatasi masalah kecanduan alkohol dan Xanax.

Pangeran Abdullah pernah dirawat sebagai pasien rawat inap di Klinik Priory di Roehampton, London. Hal itu terjadi tiga bulan sebelum jasadnya ditemukan meninggal dunia.

Menariknya, ia dirawat di ruang rawat inap yang totalnya bisa menyentuh angka 35.000 poundsterling. Jumlah tersebut setara dengan Rp837,4 juta per minggu.

Di tengah proses rehabilitasi, Abdullah menjalani program detoksifikasi beberapa hal dalam tubuhnya, mulai dari alkohol, benzodiazepin, serta obat pregabalin yang berfungsi untuk menghilangkan gangguan kecemasan.

Kemudian, Pangeran Abdullah dirawat di Rainford Hall setelah keluar dari Priory Clinic. Klinik ini menjadi salah satu tempat rehabilitasi swasta terletak di Merseyside dan membanderol biaya sekitar 7.000 euro atau setara Rp143 juta per mingguu.

Pangeran Abdullah pun didiagnosis mengalami infeksi pada bagian atas saluran pernapasannya. Hal itu terjadi sebelum dirinya diperbolehkan pulang dari klinik tersebut pada 14 Oktober.

Meninggal Dunia di Kamar Hotel Mewah di London

Pada 19 November 2025 atau setelah beberapa minggu kemudian, Pangeran Abdullah memutuskan untuk menginap di London Marriott Hotel Kensington selama satu minggu.

Dalam rekaman kamera CCTV yang beredar, ia keluar untuk merokok pada malam sebelum kematiannya. Pada keesokan harinya, seorang petugas kebersihan terkejut melihat dirinya terbaring dengan pakaian lengkap.

Ia ditemukan di lantai kamar mandi kamarnya dalam kondisi terkunci di lantai lima. Hal ini membuat petugas medis darurat gagal menyelamatkan nyawa Pangeran Abdullah bin Fahad.

Mengacu dari laporan toksikologi, pemuda dari Bangsawan Arab Saudi itu mempunyai konsentrasi etanol. Di dalam darahnya telah menyentuh angka 222 miligram per 100 ml darah.

Di Inggris, batas maksimum legal mengemudi hanya 80 mg. Jumlah tersebut tentu melebihi tiga kali lipat dari ketentuan yang ditetapkan sehingga kadar GHB dalam darahnya berpotensi mematikan.

Tidak hanya kadar GHB, jejak ganja, obat penenang berjenis alprazolam atau Xanax hingga obat penenang lainnya juga ditemukan. Hal ini berdasarkan dari hasil penemuan tim forensik.

Seorang psikiater konsultan, Victoria Chamorro menilai upaya sang pangeran selama perawatan detoksifikasi di The Priory telah "berpartisipasi dengan baik". Sebab, hal ini tidak menimbulkan efek samping secara fisik.

"Dia bersikap mendukung dan ramah terhadap sesama pasien, serta menjalin pertemanan. Saat masuk rumah sakit, dia dinilai mengalami gejala suasana hati yang rendah dan kecemasan. Saat ia dipulangkan, ia dinilai tidak berisiko bunuh diri. Ia dipulangkan bersama seorang teman, namun kemudian tidak hadir dalam janji temu Zoom yang telah dijadwalkan," kata Chamorro.

Selaras dengan hasil autopsi dan penyelidikan, kematian Abdullah tidak terindikasi bunuh diri. Sebab, polisi tidak mendapatkan bukti keterkaitan dari pihak lain dan hanya terekam dalam CCTV bahwa dirinya seorang diri pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia.

(hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:59
01:57
01:21
16:31
06:11
05:03

Viral