- Instagram/@dasadlatif1212
Soroti Challenge Hafalan Surah Al-Quran Ditukar Miras, Ustaz Dasad Latif: Bukan Dapat Simpati Malah Kebencian
Jakarta, tvOnenews.com - Pendakwah Ustaz Dasad Latif menyoroti tantangan atau challenge hafalan surah Al-Quran berupa Surah Ad-Dhuha ditukar minuman keras (miras) yang viral di media sosial.
Ustaz Dasad Latif mengetahui kehebohan challenge surah Al-Quran dihadiahkan miras terjadi di salah satu booth brand minuman beralkohol dalam acara konser musik The Sounds Project di kawasan Ancol, Jakarta Utara pada 9 Agustus 2026.
Sayembara berhadiahkan sebotol miras menimbulkan kecaman publik karena dinilai mengandung unsur dugaan penistaan agama. Ustaz Dasad Latif pun coba mengambil tinjauan ini dalam hukum agama Islam.
Ustaz Dasad Latif menegaskan, pembahasan terkait hukum miras telah jelas dan bersifat haram. Hal ini tak lepas dari tafsir Surat Al-Maidah Ayat 90 berarti mengenai miras sebagai perbuatan terlarang.
"Ini secara jelas dalam konstitusi Al-Quran tegas haram karena perbuatan setan sehingga harus dijauhi. Jadi, definisinya sudah jelas minuman khamr itu memabukkan, haram," ujar Ustaz Dasad Latif saat dihubungi tvOne, Rabu (12/8/2026).
Tinjauan dari Ustaz Dasad Latif
- Istimewa
Ia juga menyoroti penyelenggara acara. Kegiatan tersebut menjadi salah satu akses untuk mempromosikan minuman beralkohol yang bersifat khamr. Menurutnya, aktivitas ini masuk kategori batil.
"Dengan batilnya khamr itu, maka segala kegiatan berkaitan batil, maka perbuatan dan hukumnya jelas haram," tegasnya.
Ia kemudian mengacu dari tinjauan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Challenge hafalan surat Al-Quran dalam sebuah booth brand miras tidak hanya masuk kategori perbuatan haram, tetapi telah menodai agama Islam.
Terkait dari tinjauan hukum pidana, Ustaz Dasad Latif menjabarkan dari isi Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) lama. Pasal ini mengatur tentang tindak pidana penodaan agama.
Menurutnya, tindakan sayembara berhadiahkan sebotol miras dikaitkan dengan hafalan surat Al-Quran tentu potensi menimbulk kerusuhan hingga kegaduhan.
"Sekarang ini, adakah unsur kebencian? Jelas. Lihat di konten saya di medsos sudah jelas karena ada ribuan yang mengecam (challenge hafalan surah Al-Quran) dan akhirnya menimbulkan kericuhan," terangnya.
Tinjauan selanjutnya, kata sang pendakwah, mengacu dari ilmu promosi. Aktivitas ini tak lepas dari momentum promosi dapat mengundang simpati para pengunjung agar membeli brand tersebut.