- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Niatnya Cek Ruang Kelas, Dedi Mulyadi Malah Kaget Siswa SMAN 2 Cikarang Tak Bisa Hitung Pembagian Dasar
tvOnenews.com - Dedi Mulyadi datang ke SMAN 2 Cikarang untuk mengecek kondisi ruang kelas dan sejumlah fasilitas sekolah yang membutuhkan perbaikan. Namun, kunjungan tersebut justru berujung pada momen mengejutkan ketika Dedi Mulyadi menguji kemampuan matematika dasar siswa dan menemukan mereka kesulitan mengerjakan pembagian 200 ribu dibagi 34.
Kedatangan Dedi Mulyadi ke SMAN 2 Cikarang awalnya dilakukan untuk melihat langsung kondisi fasilitas belajar siswa. Ia menyoroti beberapa ruang kelas yang membutuhkan perbaikan, termasuk kondisi atap, AC yang tidak berfungsi, serta fasilitas kelas yang dinilai perlu ditata agar lebih nyaman digunakan.
Saat berdiskusi dengan para siswa, perhatian Dedi Mulyadi kemudian beralih pada kemampuan akademik mereka. Ia memberikan tantangan kepada siswa kelas 12 jurusan IPS untuk menghitung 200.000 dibagi 34 sebagai gambaran sederhana mengenai kemampuan matematika dasar.
Dedi Mulyadi mengaku khawatir kemampuan tersebut akan menjadi kendala bagi siswa ketika nantinya masuk ke dunia industri. Terlebih, Bekasi merupakan salah satu kawasan industri dengan banyak perusahaan yang membutuhkan kemampuan dasar dalam proses seleksi calon pekerja.
“Di sini banyak pabrik. Nanti matematika dasarnya enggak lulus ketika masuk pabrik. 200.000 dibagi 34. Ayo, berapa? Ayo, caranya gimana?” ucap Dedi Mulyadi kepada salah seorang siswi yang diminta mengerjakan hitungan tersebut.
Tidak hanya meminta satu siswa mencoba, Dedi Mulyadi kemudian menantang siswa lain untuk mengerjakan soal tersebut. Ia bahkan menawarkan hadiah berupa uang kas kelas jika ada siswa yang berhasil menyelesaikan pembagian tersebut.
“Kalau ada yang bisa mengerjakan di kelas ini, saya kasih sumbangan Rp2,5 juta kelas ini untuk uang kas. Ayo, siapa? Masa enggak bisa? Bekasi kawasan industrinya banyak. Kalau matematika dasarnya lemah, Anda masuk pabrik susah,” kata Dedi Mulyadi.
Beberapa siswa dan siswi kemudian maju untuk mencoba mengerjakan soal. Dedi Mulyadi juga menanyakan apakah ada yang memahami metode bagi kurung, tetapi para siswa masih mengalami kesulitan menyelesaikan hitungan tersebut.
Melihat kondisi itu, Dedi Mulyadi kemudian meminta guru matematika menjelaskan penyebab kemampuan berhitung siswa masih rendah. Ia ingin mengetahui persoalan yang membuat siswa kelas 12 masih kesulitan memahami perhitungan dasar.
“Ada yang mana Bu gurunya? Jelasin guru matematikanya mana, Bu. Apa yang menjadi problem dari anak-anak ini?” tanya Dedi Mulyadi.
Guru matematika tersebut kemudian mengungkapkan bahwa kemampuan berhitung para siswa memang masih menjadi persoalan. Menurutnya, kesalahan dalam menghitung bahkan sudah terlihat sejak siswa berada di kelas 10.
“Menghitungnya masih kurang banget, Pak. Dan kelas 10 pun cara menghitungnya itu masih banyak kesalahan-kesalahan itu, Pak. Memang dari kelas 10. Waktu pernah dari sudah kelas 3 saya tanya 1 x 0 aja enggak bisa, Pak,” jawab ibu guru.
Mendengar penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi kembali mengingatkan pentingnya matematika dasar bagi siswa yang nantinya ingin bekerja di kawasan industri. Ia juga menyinggung keterkaitan kemampuan berhitung dengan pelajaran ekonomi dan akuntansi yang dipelajari siswa jurusan IPS.
“Mereka itu kan nanti kalau masuk industri kan diseleksi. Dan setiap masuk pabrik pasti seleksinya matematika dasar. Akuntansinya gimana kalau bisa ngitung gini? Kan dia berarti IPS. Ada akuntansi kan? Ada ekonomi ada kan ya?” tanya Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi kemudian kembali mempertanyakan faktor yang membuat kemampuan berhitung siswa masih kurang. Menurutnya, kemampuan menghitung tidak hanya dibutuhkan ketika mengikuti seleksi kerja, tetapi juga dalam berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan angka.
“Pokoknya mau pelajaran ekonomi, mau pelajaran akuntansi, ya pasti ujungnya ngitung. Ini problemnya apa?” tanya Dedi Mulyadi serius.
Guru matematika tersebut menduga penggunaan HP menjadi salah satu faktor yang membuat siswa kurang fokus belajar. Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah kini sudah melarang penggunaan HP di kelas agar siswa dapat lebih berkonsentrasi selama pembelajaran.
“Problemnya mungkin terlalu banyak itu kali ya, Pak. Apa kadang suka banyak main HP. Jadi belajarnya sekarang HP di sini kita sudah melarang,” ucap ibu guru.
Dedi Mulyadi kemudian menanggapi penggunaan HP yang masih terlihat ketika dirinya berada di kelas. Ia meminta siswa yang membawa HP untuk mengikuti pembelajaran matematika dan kembali fokus pada materi yang diberikan guru.
“Oh, di kelas masih pakai mereka tadi. Masih pakai. Masih mana yang bawa HP tadi? Ayo diajarin sama Ibu, ya. Silakan, Bu,” ujar Dedi Mulyadi.
Setelah mengetahui persoalan tersebut, guru matematika kemudian memberikan penjelasan mengenai cara mengerjakan pembagian secara bertahap. Para siswa diarahkan memahami metode bagi kurung agar dapat mengetahui proses perhitungan, bukan sekadar mencari jawaban akhir.
Selain menguji kemampuan matematika dasar, Dedi Mulyadi tetap melanjutkan perhatian terhadap kondisi fasilitas sekolah. Sebelumnya, ia melihat langsung sejumlah ruang kelas yang membutuhkan perbaikan, termasuk fasilitas pendingin ruangan yang tidak berfungsi.
Dedi Mulyadi kemudian memberikan sumbangan Rp2,5 juta untuk kas kelas. Uang tersebut akan digunakan untuk kebutuhan kelas, salah satunya perbaikan gorden agar fasilitas belajar siswa menjadi lebih baik.
Tidak hanya memberikan bantuan untuk kas kelas, Dedi Mulyadi juga menyatakan komitmennya membantu renovasi lima ruang kelas di SMAN 2 Cikarang. Ia turut menyampaikan rencana pemasangan AC untuk mendukung kenyamanan siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kunjungan yang awalnya dilakukan untuk mengecek kondisi ruang kelas itu akhirnya menjadi perhatian terhadap kemampuan matematika dasar siswa. Dedi Mulyadi menilai kemampuan berhitung perlu diperkuat agar siswa lebih siap menghadapi kebutuhan pendidikan lanjutan maupun persaingan di dunia industri setelah lulus.
(anf)