- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Viral, Ramai Ajakan Tarik Dana Massal dari Bank, Apa yang Terjadi Jika Nasabah Kompak Ambil Uangnya?
“Dalam hal tidak ditemukan unsur pelanggaran pidana, maka akses kepada rekening seharusnya akan dibuka kembali,” ujar Dian.
Jika Nasabah Tarik Uang Bersamaan, Bank Bisa Tertekan
Lantas, apa yang terjadi apabila masyarakat benar-benar menarik uang secara massal?
Fenomena tersebut dikenal sebagai bank run. Kondisi ini terjadi ketika banyak nasabah menarik simpanannya dalam waktu hampir bersamaan karena kehilangan kepercayaan atau khawatir terhadap kondisi bank.
Yang perlu dipahami, bank tidak menyimpan seluruh dana nasabah dalam bentuk uang tunai di brankas. Sebagian dana dikelola dan disalurkan kembali melalui kredit, pembiayaan, maupun ditempatkan dalam berbagai aset.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar jumlah uang yang ditarik, melainkan seberapa cepat penarikan terjadi dibandingkan kemampuan bank menyediakan likuiditas.
Dana masyarakat yang tersimpan di perbankan memiliki fungsi penting karena turut mendukung penyaluran kredit. Jika seluruh nasabah datang bersamaan untuk mengambil uangnya, bank dapat menghadapi tekanan likuiditas.
Kalau bank tiba-tiba didatangi oleh semua nasabah menarik uang. Ini namanya rush. Bank yang sangat sehat pun akan bangkrut karena mereka nggak punya uang.
Meski demikian, bukan berarti setiap aksi penarikan dana otomatis membuat bank bangkrut. Bank memiliki mekanisme pengelolaan likuiditas dan berada dalam pengawasan regulator. Besarnya risiko bergantung pada skala, kecepatan, serta durasi penarikan.
Efek Domino Bisa Menjalar ke Ekonomi
Risiko bank run tidak berhenti di sektor perbankan. Jika tekanan likuiditas berlangsung besar dan lama, dampaknya dapat menjalar ke dunia usaha dan masyarakat.
Pengamat Perbankan Arianto Muditomo mengatakan kesulitan likuiditas menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai dalam industri perbankan.
Penarikan uang secara besar-besaran dapat meningkatkan tekanan terhadap operasional bank. Dari sisi ekonomi tentunya risiko inflasi dan meningkatnya biaya produksi dan distribusi bank notes.
Ketika dana perbankan tersedot untuk memenuhi penarikan tunai, kemampuan bank menyalurkan kredit baru kepada rumah tangga maupun pelaku usaha dapat ikut terpengaruh.
Jika kredit melambat, aktivitas bisnis berpotensi mengalami tekanan, termasuk investasi dan penciptaan lapangan kerja.