- Kolase tvOnenews.com
Kesaksian dr. Sumy Hastry soal Detik-detik Mencekam Eksekusi Mati Freddy Budiman: 9 Penembak Disiapkan
tvOnenews.com - Eksekusi mati Freddy Budiman pada 29 Juli 2016 di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menjadi salah satu peristiwa yang masih membekas dalam perhatian publik.
Satu dekade berlalu, detail mengenai pelaksanaan hukuman mati tersebut kembali terungkap melalui kesaksian dokter forensik Polri Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti.
Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F.M., yang menjabat sebagai Karolabdekkes Pusdokkes Polri, pernah menjadi bagian dari tim medis dalam sejumlah pelaksanaan hukuman mati di Indonesia.
- Tangkapan layar
Dalam perbincangan bersama Andy F. Noya di kanal YouTube Kick Andy Show, dr. Sumy Hastry menceritakan pengalamannya ketika ditugaskan sebagai dokter dalam proses eksekusi mati di Jawa Tengah. Salah satu pelaksanaan yang pernah ditanganinya adalah eksekusi Freddy Budiman bersama sejumlah terpidana lainnya di Nusakambangan.
Andy F. Noya terlebih dahulu menyinggung metode hukuman mati yang dikenal di Indonesia. Menurutnya, masyarakat lebih familiar dengan eksekusi menggunakan regu tembak dibandingkan metode seperti kursi listrik, hukuman gantung, atau suntik mati.
Andy juga menyinggung anggapan mengenai mekanisme penggunaan peluru dalam regu tembak, di mana sebagian penembak tidak mengetahui senjata mana yang berisi peluru tajam.
"Tetapi hanya satu katanya peluru yang betul-betul berisi, sehingga mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang mengakhiri hidup dari terpidana."
Andy kemudian meminta dr. Sumy Hastry menceritakan pengalamannya ketika menjadi bagian dari tim pelaksana eksekusi.
Dokter forensik tersebut mengakui bahwa tugas itu sempat menghadirkan dilema karena bertolak belakang dengan prinsip dasar profesi kedokteran yang berorientasi pada penyelamatan kehidupan.
"Saya pernah jadi tim eksekusi istilahnya, saya sebagai dokternya, karena saya dinas di Jawa Tengah jadi secara perintah untuk melakukan nih, kadang kan dokter nggak mau, dokter kan menolong, melihat kehidupan, kok ini melihat kematian."
Meski demikian, ia tetap menjalankan tugas tersebut karena penugasan itu merupakan bagian dari kewajibannya sebagai anggota Polri.
Terpidana Diperiksa Sebelum Eksekusi
Sebelum pelaksanaan hukuman mati, para terpidana terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan siap, mereka kemudian dibawa menuju lokasi eksekusi.
Menurut dr. Sumy Hastry, para terpidana biasanya dibawa ke lokasi pada tengah malam dan mengenakan pakaian berwarna putih.
"Ketemu mereka, dan mereka dibawa dan mereka memang kita biasa tengah malam, dan dikasih baju putih, diikat ke belakang tiang itu, sehingga datar dan saya sebagai tim dokternya memang menaruh atau titik tempel di titik yang benar-benar kena tembak langsung meninggal."
Sebagai bagian dari tim medis, ia bertugas memastikan titik penembakan berada pada lokasi yang ditentukan sesuai prosedur.
Ia juga mengetahui bagaimana regu tembak dipersiapkan sebelum pelaksanaan eksekusi.
"Jadi tidak lama menunggunya, ditembak langsung meninggal, karena kita tim jadi tahu kalau memang tim Brimob ya karena dari kepolisian, penembak-penembaknya ini senjatanya sudah ada di depan."
Sembilan Penembak untuk Satu Terpidana
Dr. Sumy Hastry kemudian menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan tersebut setiap terpidana ditempatkan di hadapan sembilan penembak.
"Di depan satu orang ini ada sembilan (penembak), dari sembilan ini ada tiga yang berisi peluru, tapi tidak tahu mana yang berisi."
Sebelum pelaksanaan dimulai, senjata laras panjang telah disiapkan di lokasi. Para anggota regu tembak kemudian mengambil senjata masing-masing dan menunggu aba-aba dari komandan regu.
Andy kembali memastikan mekanisme tersebut.
"Satu napi, sembilan penembak, sembilan senjata, di antara tiga berisi peluru yang mematikan," jelas Andy F. Noya.
Dr. Sumy Hastry menjelaskan bahwa para penembak telah mendapatkan pelatihan sehingga tidak mengetahui senjata mana yang menggunakan peluru tajam.
"Begitu diaba-aba komandan regu, siap, terus istilahnya komandan regunya ngasih tanda aba-aba, terus langsung lampu sorot naik, langsung tembak, karena kan gelap, makanya saya ngasih spotlight tertentu warnanya, begitu disorot lampu, langsung tembak."
Menurutnya, dalam kondisi tersebut para anggota regu tembak tidak lagi memikirkan apakah senjata yang mereka pegang berisi peluru atau tidak.
"Jadi sudah tidak tahu, saya pikir anggota pun sudah tidak pikir bisa merasakan ini senjata ada (peluru) atau tidak."
Dokter Memastikan Terpidana Telah Meninggal
Setelah penembakan dilakukan, regu tembak kemudian kembali meletakkan senjata. Tim medis selanjutnya menunggu sekitar 30 menit sebelum melakukan pemeriksaan terhadap para terpidana.
"Setelah itu maju didampingi komandan regu untuk memastikan bahwa para napi ini sudah meninggal dunia," tuturnya.
Dr. Sumy Hastry juga mengungkapkan bahwa dalam salah satu pelaksanaan eksekusi terakhir yang ditanganinya, terdapat empat terpidana yang dieksekusi secara bersamaan, termasuk Freddy Budiman.
Andy kemudian kembali memastikan jumlah penembak yang terlibat.
"Itu empat sekaligus? Jadi penembaknya ada berapa orang?"
Dr. Sumy Hastry menjawab singkat.
"Banyak."
Dengan sembilan penembak untuk setiap terpidana, pelaksanaan eksekusi dilakukan secara serentak di lokasi yang telah disiapkan.
Lokasi Eksekusi Mengalami Perubahan
- Kolase tvOnenews.com
Dr. Sumy Hastry juga menceritakan adanya perubahan dalam penataan lokasi eksekusi mati di Nusakambangan.
"Tapi setelah itu, Bali Nine mungkin ingat, Mary Jane itu nggak jadi akhirnya, udah bagus, lapangannya jadi satu, terakhirnya yang Freddy Budiman menjadi satu."
Ia menjelaskan bahwa pada pelaksanaan sebelumnya, lokasi eksekusi untuk masing-masing terpidana dapat berada di tempat yang berbeda. Namun, kemudian dibuat satu area khusus yang lebih representatif dan dilengkapi fasilitas untuk penanganan jenazah.
"Kalau dulu pisah nih, satu (terpidana) di sini, satu di sinilah. Mungkin karena dianggap perlu jadi dibuat lapangan yang bagus, dan memang ada tempat pemulasaran jenazah. Jadi itu penting sekali," pungkasnya.
Tugas dr. Sumy Hastry sebagai dokter forensik tidak berhenti setelah proses penembakan. Ia juga harus memastikan kematian para terpidana melalui pemeriksaan medis sebelum jenazah diserahkan untuk menjalani proses pemulasaraan.
Sebagai informasi, Freddy Budiman merupakan salah satu terpidana yang dieksekusi di Nusakambangan pada 29 Juli 2016. Pada periode sebelumnya, pelaksanaan eksekusi juga sempat menjadi sorotan dalam kasus Mary Jane Fiesta Veloso. Eksekusi terhadap Mary Jane yang semula dijadwalkan pada April 2015 akhirnya ditunda pada menit-menit terakhir.