- ANTARA/Xinhua/aa
Mengenal Houthi, Kelompok Bersenjata asal Yaman yang Serang Bandara Riyadh, Mengapa Berseteru dengan Arab Saudi?
tvOnenews.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan serangan rudal yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026).
Insiden tersebut dikaitkan dengan kelompok Houthi, organisasi bersenjata yang telah lama terlibat dalam konflik di Yaman.
Melansir dari laporan Al Jazeera, serangan itu dilaporkan menimbulkan 12 korban jiwa dan 309 orang luka-luka serta mengganggu aktivitas penerbangan.
- Saudi Ministry of Media/Handout via Reuters
Nama Houthi sendiri bukan hal baru dalam dinamika keamanan kawasan Timur Tengah. Selama bertahun-tahun, kelompok ini terlibat dalam pertarungan kekuasaan di Yaman dan berhadapan dengan Arab Saudi yang mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Lantas, bagaimana kelompok Houthi terbentuk dan apa yang menyebabkan perseteruannya dengan Arab Saudi berlangsung begitu lama?
Mengenal Houthi, Kelompok Bersenjata yang Berasal dari Yaman Utara
Houthi, yang juga menggunakan nama Ansar Allah, merupakan gerakan politik dan militer yang tumbuh dari wilayah Sa'ada di bagian utara Yaman.
- ANTARA
Kelompok ini memiliki akar dalam tradisi keagamaan Zaidiyah, cabang Syiah yang telah berkembang selama berabad-abad di negara tersebut.
Pada tahap awal, gerakan Houthi berfokus pada penguatan identitas keagamaan dan kebudayaan masyarakat Zaidiyah. Akan tetapi, aktivitas mereka kemudian meluas ke ranah politik, terutama dalam menentang pemerintah pusat yang dinilai tidak mampu mengakomodasi kepentingan kelompok tersebut.
Salah satu figur penting dalam perkembangan awal Houthi adalah Hussein Badreddin al-Houthi. Di bawah pengaruhnya, gerakan tersebut semakin berseberangan dengan pemerintah Yaman hingga pecah bentrokan bersenjata pada 2004.
Pertempuran di wilayah Sa'ada itu menjadi awal dari rangkaian konflik yang dikenal sebagai Perang Sa'ada.
Perselisihan tersebut dipengaruhi berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan pembangunan dan ketidakpuasan politik hingga persaingan antara pemerintah pusat dan kelompok-kelompok lokal.
- Al Jazeera
Perjalanan politik Yaman kemudian memasuki babak baru ketika gelombang demonstrasi Arab Spring pada 2011 mendorong Presiden Ali Abdullah Saleh meninggalkan kekuasaan. Jabatan presiden selanjutnya dipegang Abdu Rabbu Mansour Hadi yang menghadapi tantangan berat dalam menjalankan transisi pemerintahan.
Ketidakstabilan politik dan kegagalan mencapai kesepakatan di antara berbagai kelompok membuat posisi pemerintah semakin lemah. Houthi memanfaatkan situasi tersebut untuk memperluas pengaruhnya.
Pada September 2014, kelompok itu berhasil menguasai Sanaa, ibu kota Yaman. Keberhasilan tersebut memperkuat posisi Houthi dalam konflik politik nasional sekaligus meningkatkan kekhawatiran negara-negara di sekitarnya.
Awal Mula Perseteruan Houthi dengan Arab Saudi
Penguasaan Sanaa oleh Houthi menjadi salah satu faktor yang mendorong keterlibatan langsung Arab Saudi dalam konflik Yaman.
Pada Maret 2015, Riyadh memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Presiden Hadi yang saat itu semakin terdesak oleh kemajuan kelompok tersebut.
Keterlibatan Arab Saudi tidak terlepas dari persoalan keamanan perbatasan. Yaman terletak tepat di sebelah selatan kerajaan, sehingga perubahan kekuasaan di negara itu berpengaruh langsung terhadap kepentingan keamanan Riyadh.
Arab Saudi memandang perluasan kekuatan Houthi sebagai ancaman, terlebih ketika kelompok tersebut mulai menunjukkan kemampuan menyerang sasaran di luar wilayah Yaman.
Penggunaan rudal dan pesawat nirawak menjadi perhatian karena berpotensi mengancam fasilitas militer, infrastruktur energi, serta pusat transportasi.
Di sisi lain, Houthi memiliki hubungan dengan Iran yang memberikan dukungan politik dan militer. Hubungan ini turut menjadikan konflik Yaman bagian dari persaingan pengaruh yang lebih luas antara Iran dan Arab Saudi.
Meski demikian, menyederhanakan perang Yaman sebagai pertarungan kedua negara tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan persoalan yang terjadi.
Konflik ini juga dipicu perebutan kekuasaan di dalam negeri, perbedaan kepentingan politik, serta persaingan antarkelompok yang telah berlangsung lama.
Perang berkepanjangan tersebut membawa dampak besar bagi masyarakat Yaman. Kerusakan infrastruktur, terbatasnya layanan dasar, dan krisis kemanusiaan menjadi persoalan yang terus membayangi negara itu.
Ketegangan Regional dan Ancaman Serangan Rudal
Upaya menghentikan pertempuran sempat menghasilkan gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022.
Kesepakatan tersebut membantu meredakan sebagian kekerasan, tetapi tidak menghasilkan penyelesaian politik permanen antara pihak-pihak yang bertikai.
Akibatnya, persoalan mendasar dalam konflik Yaman masih belum terselesaikan. Houthi tetap menguasai sejumlah wilayah penting, termasuk Sanaa, sementara pemerintahan yang diakui secara internasional dan kelompok-kelompok lain mempertahankan pengaruh di kawasan berbeda.
Perkembangan konflik pada 2026 kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan di Timur Tengah.
Setiap serangan lintas perbatasan berpotensi memicu aksi balasan dan memperluas keterlibatan pihak-pihak yang selama ini mendukung kubu berbeda.
Laporan mengenai serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026 karena itu perlu dilihat dalam konteks ketegangan regional yang lebih luas. (asl)