- Istimewa
Mengenal Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf, Penceramah yang Viral Berujung Diboikot MUI
Jakarta, tvOnenews.com - Sosok penceramah bernama Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf menjadi sorotan publik. Gelombang kritik semakin mencuat berawal dari unggahan potongan rekaman video memuat ceramah kontroversial yang viral di media sosial.
Dalam potongan video viral, warganet mengidentifikasi sosok penceramah tersebut sebagai Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Ia menjadi perbincangan setelah menyebut tarif ceramahnya paling rendah mencapai Rp75 juta.
Polemik semakin memanas ketika Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf melontarkan candaan mengenai permintaan untuk menghadirkan santriwati. Ia menyebut keinginannya mencari calon istri keempat.
Selain itu, pernyataan Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf mengenai jemaah perempuan lanjut usia (lansia) juga menuai kecaman.
Akibat potongan video tersebut menyebar luas, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan agar umat Islam tidak lagi mengikuti majelis maupun mengundang Habib Alwi sebagai penceramah. Di tengah itu, publik juga ramai membahas identitas sosok sang penceramah.
Berikut profil Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf yang dirangkum tvOnenews.com dari berbagai sumber pada Rabu (21/10/2026).
Profil Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf
Habib Alwi Assegaf memiliki nama lengkap Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Ia lahir pada 20 September 1955. Dengan demikian, usianya pada 2026 genap 71 tahun.
Dalam aktivitas dakwahnya, Habib Alwi dikenal sebagai pimpinan Majelis Ta'lim Zaadul Muslim (ZM). Majelis tersebut berlokasi di Al-Busyro, Kampung Jati, Citayam, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Majelis yang dipimpinnya menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian fikih dan akidah hingga peringatan Maulid Nabi dan Tahun Baru Islam.
Habib Alwi merupakan putra dari ulama kharismatik asal Betawi, almarhum Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir Assegaf. Sang ayah dikenal dengan sebutan Sayyidul Walid.
Habib Abdurrahman lahir di Bogor pada 1908. Ia merupakan lulusan Jam'iyat Al-Khair dan dikenal sebagai pendiri Madrasah Tsaqafah Islamiyah di Bukit Duri, Jakarta, serta Majelis Taklim Zaadul Muslim.
Selain itu, Habib Alwi berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan kuat. Ia merupakan saudara kandung almarhum Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, pendiri Majelis Al-Afaf, serta Ustaz Umar bin Abdurrahman Assegaf.
Dalam bidang keagamaan, Habib Alwi juga disebut memiliki sejumlah karya, di antaranya Hilyatul Janan dan doa Tawasul Sayyidil Walid.
Saat berdakwah, Habib Alwi dikenal dengan gaya penyampaian yang kental dengan logat Betawi. Ia membawakan materi ceramah secara lugas dan kerap menyelipkan kelakar.
Gaya tersebut membuatnya dikenal oleh sejumlah jemaah di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Namun, gaya ceramah yang dibumbui candaan itu kini menjadi sorotan setelah sejumlah pernyataannya memicu polemik. Kritik pun bermunculan, termasuk dari MUI, yang menyerukan agar umat Islam tidak lagi mengikuti maupun mengundangnya untuk berceramah.
Kronologi Ceramah Kontroversial Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf
Polemik ceramah Habib Alwi Assegaf berawal dari potongan video seorang pendakwah melontarkan pernyataan kontroversial. Ia bahkan dinilai merendahkan kaum perempuan.
Dalam rekaman tersebut, ia terdengar meminta agar santriwati dihadirkan di hadapannya. Permintaan itu disampaikan dengan alasan ingin mencari calon istri keempat.
"Keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih. Mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat," ujar Habib Alwi Assegaf.
Pernyataan lain yang memicu kecaman berkaitan dengan jamaah perempuan berusia lanjut. Dalam potongan video yang sama, ia mengomentari keberadaan ibu-ibu berusia di atas 60 tahun dengan ungkapan yang dianggap merendahkan martabat mereka.
"Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata. Tapi kalau perawan segar. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda," ucapnya.
Reaksi MUI
Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis bereaksi terkait video viral tersebut. Ia menyerukan agar seluruh umat Islam di Indonesia tidak lagi mengikuti majelis maupun kegiatan dakwah Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf.
Cholil Nafis juga mendesak agar seluruh umat Islam tidak lagi mengundang Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf sebagai penceramah. Ia menyampaikan seruan tegas ini akibat adanya video viral yang dinilai merendahkan harkat perempuan serta merusak citra dakwah Islam.
Kiai Cholil sapaannya berpendapat materi ceramah tersebut tidak pantas disampaikan oleh seorang pendakwah. Pasalnya, hal itu berpotensi memberikan dampak buruk bagi masyarakat.
"Sodare-sodare, jangan undang lagi dan tak usah diikuti majelisnya orang model gini ya," tulis Cholil Nafis dalam akun X pribadinya pada Minggu (18/10/2026).
Ia juga menekankan bahwa, status maupun latar belakang seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan etika ketika menyampaikan pesan keagamaan. Baginya, seorang penceramah semestinya menjaga tutur kata dan memberikan teladan yang baik kepada jamaah.
"Seperti ceramahnya asli ini. Begini ini mau apapun statusnya tak layak menjadi penceramah. Bikin rusak agama dan manusia dengan ceramah model gini. Boro-boro menyebarkan Islam, malah ini yang merusak Islam," tegas Rais Syuriah PBNU itu.
Kemenag Ingatkan Etika Berdakwah
Ceramah tersebut juga menuai reaksi dari Kementerian Agama (Kemenag) melalui Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar pada Rabu (21/10/2026).
"Dalam agama Islam itu, selain berfungsi menyampaikan pesan keagamaan, dakwah menyampaikan keteladanan lewat tutur kata dan perilaku. Rasulullah SAW adalah rujukan agung bagaimana dakwah Islam dijalankan," ujar Thobib Al Asyhar.
Ia yang mewakili Kemenag mengingatkan setiap dai maupun penceramah agar selalu menjaga etika, termasuk saat menyampaikan materi ceramah. Kegiatan tersebut tidak seharusnya merendahkan atau melukai martabat perempuan dan kelompok lansia.
"Untuk itu, setiap penceramah atau dai yang berbicara di ruang publik hendaknya senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan materi ceramah, termasuk dalam gaya humor agar tidak merendahkan atau melukai martabat orang lain," pungkasnya.
(hap)