news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Studi: 1 dari 15 Orang Dewasa Pernah Alami Pelecehan Gambar AI, Dampaknya Bisa Meluas.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI

Studi: 1 dari 15 Orang Dewasa Pernah Alami Pelecehan Gambar AI, Dampaknya Bisa Meluas

Studi terhadap 7.200 orang di tiga negara menemukan 7 persen orang dewasa pernah mengalami pelecehan berbasis gambar AI. Kenali bentuk, dampak, dan risiko
Kamis, 5 November 2026 - 16:43 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kemampuan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan gambar realistis kini menghadirkan persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga keselamatan dan hak individu. 

Foto seseorang dapat dimanipulasi menjadi gambar intim tanpa persetujuannya, kemudian digunakan untuk mempermalukan, mengancam, atau merusak reputasi orang tersebut.

Risiko ini semakin sulit diabaikan ketika gambar hasil manipulasi terlihat meyakinkan. Korban tidak harus pernah membuat atau membagikan foto intim untuk mengalami pelecehan. 

Cukup dengan foto biasa yang tersedia di internet, seseorang dapat menjadi sasaran pembuatan konten seksual palsu yang kemudian disebarkan tanpa izin.

Dampaknya pun tidak berhenti ketika gambar dihapus dari sebuah platform. Korban dapat menghadapi tekanan psikologis, gangguan hubungan sosial, hingga masalah dalam kehidupan profesional. 

Sebuah studi yang dipimpin Universitas RMIT Australia memperlihatkan bahwa pelecehan berbasis gambar AI telah dialami oleh sebagian masyarakat dewasa di sejumlah negara, bukan hanya figur publik yang kerap menjadi sasaran manipulasi digital.

Pelecehan Gambar AI Tidak Hanya Menimpa Selebritas

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Human-Computer Interaction pada 2026 tersebut melibatkan 7.230 orang dewasa di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Survei yang dilakukan pada Juli–Agustus 2024 menemukan bahwa 7 persen responden pernah mengalami sedikitnya satu bentuk pelecehan seksual berbasis gambar AI sejak berusia 18 tahun. Angka ini setara dengan sekitar satu dari 15 orang dewasa.

Temuan itu memperlihatkan bahwa penyalahgunaan AI bukan sekadar persoalan gambar palsu yang beredar di kalangan selebritas. Masyarakat umum juga dapat menjadi sasaran, termasuk orang yang tidak memiliki banyak pengikut di media sosial.

Profesor Nicola Henry dari RMIT University, penulis utama penelitian tersebut, mengatakan, “Kami kini memiliki bukti tentang seberapa luas pelecehan berbasis gambar AI memengaruhi masyarakat, bukan hanya selebritas dan tokoh publik.”

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa angka 7 persen belum tentu menggambarkan keseluruhan masalah. Sebagian orang mungkin tidak pernah mengetahui bahwa gambar intim yang menampilkan dirinya telah dibuat atau disebarkan menggunakan AI.

Apa Saja Bentuk Pelecehan Berbasis Gambar AI?

Pelecehan berbasis gambar AI atau *AI-generated image-based sexual abuse* (AI-IBSA) mencakup pembuatan, penyebaran, maupun ancaman menyebarkan gambar intim tanpa persetujuan orang yang ditampilkan.

Teknologi AI generatif memungkinkan gambar seksual dibuat dari foto biasa, termasuk foto profil atau potret profesional. Karena itu, seseorang tidak perlu pernah mengambil foto intim untuk menjadi korban manipulasi semacam ini.

Penelitian RMIT menemukan tiga bentuk utama pelecehan tersebut:

- Gambar intim seseorang dibuat atau diubah menggunakan AI tanpa persetujuannya.
- Gambar intim hasil AI disebarkan kepada orang lain tanpa izin.
- Seseorang diancam akan menerima penyebaran gambar intim hasil AI yang menampilkan dirinya.

Survei itu juga menemukan bahwa pelecehan berbasis gambar tidak selalu melibatkan konten yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Sebanyak 15,1 persen responden melaporkan pernah mengalami pelecehan melalui gambar intim yang dimanipulasi secara digital, termasuk gambar yang dibuat dengan AI maupun metode lain.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata apakah gambar tersebut asli atau palsu. Yang menjadi inti masalah adalah penggunaan gambar intim seseorang tanpa persetujuan, termasuk ketika gambar itu dibuat melalui manipulasi digital.

Dampak Pelecehan AI dan Pentingnya Pencegahan

Hampir 87 persen korban atau penyintas dalam penelitian RMIT melaporkan setidaknya satu dampak terhadap kehidupan mereka. Dampak tersebut meliputi kesehatan dan kesejahteraan, hubungan antarpribadi, pekerjaan, serta kondisi keuangan.

Laki-laki melaporkan tingkat pengalaman pelecehan lebih dari dua kali lipat dibandingkan perempuan, yakni 10,2 persen berbanding 3,8 persen. Namun, perempuan melaporkan lebih banyak reaksi dan dampak negatif, termasuk ketakutan terhadap keselamatan serta gangguan kesehatan mental dan fisik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian tidak selalu menggambarkan besarnya penderitaan yang dialami korban. Pengalaman setiap orang dapat berbeda, bergantung pada bentuk pelecehan, hubungan dengan pelaku, serta bagaimana gambar tersebut digunakan dan disebarkan.

Dalam penelitian lain yang menggunakan kumpulan data serupa, para peneliti menemukan bahwa 3,2 persen responden mengaku pernah membuat, menyebarkan, atau mengancam menyebarkan gambar seksual hasil AI tanpa persetujuan. Sementara itu, 18 persen responden mengaku pernah sengaja melihat gambar seksual hasil AI yang menampilkan orang nyata.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan perlu mencakup dua sisi: mengurangi pembuatan dan penyebaran gambar intim tanpa izin, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak menganggap konten semacam itu sebagai hiburan yang tidak berbahaya.

Karena itu, penulis utama penelitian, Nicola Henry, menekankan pentingnya tanggung jawab perusahaan teknologi dalam mencegah pelecehan sebelum terjadi. Ia juga menyoroti perlunya pendidikan yang lebih baik, dukungan yang mudah diakses bagi korban, serta pengembangan teknologi yang mengutamakan keselamatan sejak awal.

Bagi pengguna, pemahaman mengenai persetujuan dan privasi digital menjadi bagian penting dari pencegahan. Gambar yang tersedia secara terbuka di internet tidak berarti boleh dimanipulasi menjadi konten intim atau digunakan untuk mempermalukan seseorang.

Pada akhirnya, temuan RMIT menegaskan bahwa pelecehan berbasis gambar AI merupakan persoalan keselamatan digital yang sudah dialami masyarakat luas. Ketika teknologi semakin mudah digunakan untuk membuat gambar realistis, tanggung jawab untuk mencegah penyalahgunaannya tidak bisa dibebankan kepada korban saja. 

Perusahaan teknologi, pengembang AI, dan masyarakat perlu mengambil peran agar kemajuan teknologi tidak menjadi sarana baru untuk melakukan kekerasan seksual. (udn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:07
08:21
14:13
09:50
04:54
08:02

Viral