- ANTARA
Tidurnya Orang Berpuasa Adalah Ibadah, Apa Maksudnya?
Namun fadilah ini tidak akan berlaku jika seseorang yang puasa mengotori puasanya dengan melakukan perbuatan maksiat, seperti menggunjingkan orang. Hal tersebut dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Ittihaf Ahli al-Islam bi Khushushiyyat as-Shiyam.
قال أبو العالية: الصائم فى عبادة ما لم يغتب أحدا، وإن كان نائما على فراشه، فكانت حفصة تقول: يا حبذا عبادة وأنا نائمة على فراشي
Artinya: Abu al-Aliyah berkata: Orang berpuasa tetap dalam ibadah selama tidak menggunjing orang lain, meskipun ia dalam keadaan tidur di ranjangnya. Hafshah pernah mengatakan: Betapa nikmatnya ibadah, sedangkan aku tidur di ranjang. (Ahmad ibnu Hajar al-Haitami, Ittihaf Ahli al-Islam bi Khushushiyyat as-Shiyam, halaman 65).
Larangan tidak melakukan ghibah juga dijelaskan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Tanqih al-Qul al-Hatsits, seperti yang tercantum di bawah ini.
وهذا في صائم لم يخرق صومه بنحو غيبة، فالنوم وإن كان عين الغفلة يصير عبادة، لأنه يستعين به على العبادة.
Artinya: Hadits ‘tidurnya orang berpuasa adalah ibadah’ ini berlaku bagi orang berpuasa yang tidak merusak puasanya, misal dengan perbuatan ghibah. Tidur meskipun merupakan inti kelupaan, namun akan menjadi ibadah sebab dapat membantu melaksanakan ibadah. (Syekh Muhammad bin ‘Umar an-Nawawi al-Bantani, Tanqih al-Qul al-Hatsits, halaman 66)
Dari hadits-hadits di atas, menurut Ustadz M Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember, Jawa Timur, maka tidur pada saat berpuasa dapat disebut sebagai ibadah ketika memenuhi dua kriteria.
"Pertama, tidak dimaksudkan untuk bermalas-malasan, tapi untuk lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah," katanya.
Kedua, tidak mencampuri ibadah puasanya dengan melakukan perbuatan maksiat.(put)