- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Kata Aa Gym soal Islamophobia Jadi Kekhawatiran Pembangunan Islamic Centre Indonesia di Melbourne Australia
Jakarta, tvOnenews.com - Pendakwah KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym memberikan pandangan terkait Islamophobia di tengah pembangunan Islamic Centre di Kota Melbourne, Australia.
Gedung Islamic Centre dengan ukuran 1.800 meter persegi itu merupakan proyek digagas oleh Komunitas Muslim Indonesia di Australia. Tujuan utamanya sebagai langkah strategis memperluas dakwah di Negeri Kanguru.
Saat ditanya terkait Islamophobia sebagai salah satu kekhawatiran pembangunan Islamic Centre di gedung bekas kantor polisi, Aa Gym meyakini hal itu bukanlah sebagai penghambat syiar agama Islam melalui Kota Melbourne.
"Tenang aja. Yang Islamophobia itu bukan musuh," ujar Aa Gym saat ditemui tvOnenews.com di The Tribrata Darmawangsa Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Berdasarkan laporan dari Aljazeera dan The Guardian, Islamophobia semakin meningkat di Australia sejak insiden dua tersangka penembakan massal dan serangan teror anti-Semit, Sajid Akram (50) dan anaknya, Naveed Akram (24) di Pantai Bondi, Sydney, Australia pada 14 Desember 2025.
Dari laporan Perdana Menteri New South Wales Chris Minns, setidaknya insiden penembakan itu mengakibatkan 16 orang tewas dan 42 orang lainnya terluka, termasuk di antaranya dua petugas polisi.
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese menganggap aksi tragedi penembakan dan serangan teroris ini sebagai sejarah terburuk keamanan Australia. Motif serangan itu diduga terinspirasi dari Islamic State Ideology atau ideologi negara Islam (ISIS).
Albanese tak membantah insiden anti-Muslim semakin meningkat tajam. Akan tetapi, hal itu telah terjadi sejak dimulainya perang Israel-Palestina di Jalur Gaza hingga adanya penembakan tersebut.
"Warga Australia seharusnya bisa merasa aman di rumah mereka di komunitas mana pun. Kita harus memberantas kebencian, ketakutan, dan prasangka yang mendorong Islamofobia dan perpecahan dalam masyarakat kita," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Parlemen Persemakmuran di Sydney, Australia.
Aa Gym memahami peningkatan Islamophobia semakin tajam. Tetapi mereka bukanlah musuh, hanya saja belum memahami tentang betapa indahnya agama Islam.
Kata Aa Gym, hal itu tidak akan menjadi penghambat selama tujuan perluasan dakwah lewat Kota Melbourne, dilakukan dengan cara positif.
"Bukan masalah Islamofobia itu. Yang jadi masalah, kita membantu mereka paham (agama Islam) atau tidak, kita jadi contoh Islam yang baik atau tidak begitu," katanya.
Pendapat Aa Gym soal Komunitas Muslim Indonesia Bangun Islamic Centre di Melbourne
- tvOnenews.com/Hilal Aulia Pasya
Aa Gym berbagi pendapat terkait rencana pembangunan tersebut. Ia sangat mendukung dengan gebrakan dari Komunitas Muslim Indonesia di Victoria bagian Australia, yang ingin menghadirkan adanya Islamic Centre di Kota Melbourne.
"Sangat bahagia, sangat bersyukur Allah memberikan jalan karena yang membolak-balik hati adalah Allah," kata Aa Gym.
Menurutnya, pembelian gedung bekas kantor polisi Laverton meski dari hasil lelang sebagai pencapaian terbaik. Ia tidak menyangka kantor polisi akan berubah menjadi masjid dan pusat dakwah Muslim di Australia.
"Bayangkan kantor polisi dijual jadi masjid, ini sebuah sejarah baru. Oleh karena itu, ini harus disikapi bukan minta sumbangan, tetapi menginformasikan adanya ladang amal," jelasnya.
Pendakwah berusia 63 tahun ini berharap pembangunan Islamic Centre digagas Komunitas Muslim Indonesia di Australia, harus mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia.
"Harusnya masyarakat melihat ini tuh menjadi kesempatan besar supaya mendapatkan pahala amal jariyah yang melimpah," pesannya.
Aa Gym bersyukur langkah baik dari Komunitas Muslim Indonesia untuk membangun pusat dakwah di Kota Melbourne, mendapat sambutan dan antusias besar bagi umat Muslim di Australia.
Sementara, Presiden IMCW, Andri Nursafitri mengatakan, pembelian hasil lelang gedung kantor polisi Laverton itu telah berlangsung pada Desember 2025 lalu. Pasalnya, jarak gedung tersebut hanya 150 meter dari Masjid Baitul Makmur di Melbourne, Australia.
Andri mengatakan, pihaknya telah membeli gedung itu dari hasil lelang sebesar Rp14 miliar. Adapun tenggat waktu untuk melunasi pembelian gedung kantor polisi itu hanya sampai Maret 2026.
Pihaknya masih membutuhkan setidaknya Rp28 miliar untuk pelunasan. Berdasarkan perjanjian dengan pemerintah setempat, apabila tidak dapat melunasi pembelian lelang itu, maka akan kehilangan uang muka sebesar Rp2,8 miliar.
"Sekaligus menghapus peluang memperluas dakwah Islam di Melbourne," kata Andri.
Terkini, Komunitas Muslim Indonesia bagian Victoria, Australia, tengah meminta izin pembangunan Islamic Centre tersebut. Kehadiran gedung itu diharapkan sebagai solusi di tengah peningkatan jemaah Muslim di Masjid Baitul Rahman, yang sudah tidak lagi menampung aktivitas ibadah dan dakwah di Kota Melbourne, Australia.
(hap)