- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
Jelang Ramadhan, Buya Yahya Ingatkan tentang Kesadaran Diri Akan Dosa
tvOnenews.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak orang mulai melakukan introspeksi diri.
Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga momentum terbaik untuk jujur pada diri sendiri, tentang dosa yang masih dilakukan, kebiasaan buruk yang belum ditinggalkan, dan kesalahan yang kerap diulang.
Tak sedikit yang merasa minder, bahkan putus asa, karena menganggap masa lalunya terlalu kelam untuk diperbaiki.
Dalam suasana jelang Ramadhan, Buya Yahya mengingatkan bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup.
Kuncinya bukan pada seberapa bersih masa lalu kita, tetapi pada kesadaran, penyesalan, dan keberanian untuk kembali kepada Allah dengan hati yang jujur.
- Ilustrasi AI
Allah yang Mengangkat Derajat, Bukan Manusia
Buya Yahya menegaskan bahwa seorang hamba tidak perlu sibuk memikirkan penilaian manusia. Yang memiliki kuasa penuh untuk mengangkat atau merendahkan derajat seseorang hanyalah Allah SWT.
“Sudahlah kita dengan Allah Yang Maha Kuasa untuk mengangkat Anda,” tutur Buya Yahya, dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Ia lalu mengajak umat Islam melihat sejarah para sahabat Nabi yang memiliki masa lalu kelam, namun diangkat derajatnya oleh Allah setelah mendapatkan hidayah.
“Kalau bicara tentang jelek-jelekan, tidak ada orang yang lebih jelek daripada Sayidina Umar bin Khattab sebelum masuk Islam. Impiannya memenggal leher Nabi,” kata Buya Yahya.
Begitu pula dengan Khalid bin Walid yang sebelum masuk Islam pernah menjadi sebab kekalahan kaum Muslimin.
“Khalid bin Walid mukul mundur kaum muslimin waktu di perang Uhud sampai Sayidina Hamzah terbunuh,” lanjutnya.
Namun Allah membuktikan bahwa masa lalu bukan penghalang untuk kemuliaan.
“Tapi setelah itu Allah angkat menjadi seorang Umar bin Khattab,” tambahnya.
Sadar Dosa, Titik Awal Perubahan
Menurut Buya Yahya, masalah terbesar bukanlah banyaknya dosa, melainkan tidak adanya kesadaran bahwa seseorang sedang berada dalam kesalahan.
“Maksudnya apa? Yang penting sadar dulu kejelekan Anda ini apa. Yang repot enggak sadar,” ujar Buya Yahya.
Ia menegaskan bahwa siapa pun, seburuk apa pun masa lalunya, masih memiliki peluang untuk kembali kepada Allah.
Kesadaran inilah yang menjadi pintu awal turunnya pertolongan Allah.
“Sejelek apapun, kelam, dia mabuk iya, judi iya, enggak shalat, zina, semuanya,” tutur Buya Yahya.
“Yang mengangkat kita adalah Allah. Mulailah dari menyadari itu semuanya,” tambahnya.
- Freepik
Mengadu kepada Allah di Tengah Malam
Buya Yahya mengajak umat Islam untuk membiasakan diri mengadu langsung kepada Allah, terutama di waktu-waktu sunyi, sebagai bagian dari persiapan spiritual menuju Ramadhan.
“Setelah kita mulai dari menyadari, ngadulah setiap malam kepada Allah,” ujar Buya Yahya.
Ia mencontohkan dosa yang sering sulit dilepaskan, seperti riba.
Menurutnya, doa yang diulang dengan penuh penyesalan akan membuka jalan keluar.
“Riba, riba, riba setiap hari sampai Anda betul-betul menyesal, lihat bersama itulah akan ada pertolongan,” ujarnya.
Jangan Umbar Aib, Cukup Allah yang Tahu
Dalam proses bertaubat, Buya Yahya juga mengingatkan agar seseorang tidak membuka keburukan dirinya kepada manusia.
Tobat yang tulus tidak membutuhkan pengakuan publik, cukup kejujuran di hadapan Allah.
“Enggak usah, jangan terang-terangan dengan orang ketahuan. Kalau Anda punya kebiasaan jelek, ngadu di tengah malam, waktu sendiri, adukan kepada Allah subhanahu wa taala,” kata Buya Yahya.
Jelang Ramadhan, Kurangi Maksiat Lebih Dulu
Buya Yahya menekankan bahwa persiapan terbaik menyambut Ramadhan bukan hanya memperbanyak ibadah sunnah, tetapi mulai meninggalkan maksiat.
Ia menegaskan bahwa menjauh dari dosa akan memudahkan seseorang untuk taat.
“Ini persiapan di bulan Ramadan ya. Insyaallah persiapannya adalah kita membiasakan ayo mengurangi kemaksiatan,” kata Buya Yahya.
“Semakin orang jauh dari maksiat, lihat semakin mudah kita melakukan ketaatan pada akhirnya,” lanjutnya.
Waspada Merasa Aman dengan Ibadah
Di akhir nasihatnya, Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak merasa aman hanya karena rajin beribadah, sementara dosa masih dipelihara tanpa penyesalan.
“Jangan sampai kita tertipu ya, tertipu melakukan ibadah seolah-olah dia menjadi orang yang beruntung ternyata tidak beruntung,” tutupnya.
Pesan ini menjadi pengingat penting jelang Ramadhan, bulan suci bukan sekadar soal banyaknya ibadah, tetapi tentang kejujuran hati untuk berubah.
Karena sejatinya, ketika kesadaran itu hadir, Allah-lah yang akan mengangkat derajat hamba-Nya, setinggi apa pun Dia kehendaki. (gwn)