- iStockPhoto
Berbuat Maksiat di Malam Lailatul Qadar, Apakah Dosanya Setara 1000 Bulan? Begini Penjelasan Buya Yahya
Jakarta, tvOnenews.com - Malam Lailatul Qadar secara umum memiliki definisi sebagai salah satu malam paling mulia di bulan Ramadhan. Biasanya malam ini berlangsung selama sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
Dalam hal ini sejak malam ke-21, umat Islam mendapat anjuran untuk meningkatkan amal ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sebab, keistimewaannya mendapat pahala setara 1000 bulan.
Namun, tak sedikit dari mereka tidak memanfaatkan malam mulia ini. Banyak yang terang-terangan melakukan perbuatan maksiat sehingga diyakini mendapat dosa seribu bulan.
Ulama kharismatik KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya menjawab keyakinan tersebut. Menurutnya, pemahaman tersebut tidak boleh dipelihara oleh umat Islam.
"Jika ada orang yang bermaksiat di malam seribu bulan, itu apakah maksiatnya setara seribu bulan? Kita urusan dengan Dzat yang Maha Kasih," ujar Buya Yahya dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (11/3/2026).
Buya Yahya Ungkap Cara Allah SWT Hitung Kebaikan dan Maksiat di Malam Lailatul Qadar
- YouTube Al Bahjah TV
Buya Yahya memaparkan, dosa dari orang melakukan maksiat di malam mulia ini jangan disamakan dengan ukuran keistimewaan dari kebaikannya.
Menurut Buya Yahya, kejahatan atau kemaksiatan bukan berarti mengarahkan pada jumlah dosa yang dianggap setara seribu bulan.
Ia menjelaskan, cara memperoleh keutamaan dari kebaikan. Allah SWT tentu menghitung pahala perbuatan amal salehnya setara seribu bulan.
"Allah Maha Kasih akan menghitung dari sisi kebaikan. Adapun kejahatan, apakah dihitung juga setara seribu kejahatan atau seribu bulan? Tidak," tegasnya.
Ia menegaskan, Allah SWT Maha Pengampun. Ia tidak bisa membiarkan pemahaman perbuatan kejahatan dicatat akan mendapat dosa seribu bulan.
Kata dia, pemahaman ini sangat keliru. Namun ia tidak bisa membenarkan perbuatan kejahatan dimanfaatkan di malam Lailatul Qadar.
Bagi pengasuh LPD Al-Bahjah, Cirebon itu, perbuatan maksiat sama saja gambaran tidak memperdulikan betapa dahsyatnya keutamaan malam Lailatul Qadar.
"Akan tetapi, apakah kejahatan malam itu menjadi sejahat-jahatnya kejahatan? Iya!," ucapnya.
Buya Yahya menyampaikan, gambara perbuatan maksiat sebagai pelaku kejahatan tidak hanya berlaku di malam Lailatul Qadar, tetapi juga untuk di malam-malam lain atau setiap waktu.
Maka dari itu, Buya Yahya mengingatkan tindakan maksiat harus dilihat dulu dari takaran waktu, tempat, dan pelakunya.
"Sebuah kejahatan dilakukan oleh orang biasa, jahat. Di satu sisi, ketika dilakukan seorang alim lebih jahat lagi. Orang melakukan dosa di tempat asal saja dosa. Tapi, ketika melakukan dosanya di masjid, lebih besar lagi," jelasnya.
Perbuatan Maksiat di Malam Lailatul Qadar Gambaran Dosa Besar
- iStockPhoto
Lebih lanjut, Buya Yahya menegaskan, perbuatan maksiat di hari biasa saja dicap jahat, apalagi melakukannya di bulan Ramadhan potensi mendapat dosa besar.
"Orang melakukan dosa di luar Ramadhan, dosa. Saat Ramadhan, lebih dosa lagi," terangnya.
Ia tidak habis pikir kenapa masih banyak orang berbuat maksiat. Seharusnya mereka menanamkan niat malam mulia ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Orang melakukan kejahatan selain malam Lailatul Qadar adalah jelek. Di malam itu (Lailatul Qadar), maka akan lebih jelek lagi," ucapnya.
Buya Yahya menyimpulkan, perbuatan maksiat di malam Lailatul Qadar gambaran kejahatan buruk. Namun untuk takaran jumlah dosanya tidak dihitung setara dengan keutamaan seribu bulan dari kebaikan.
"Untuk seribu bulan kejahatan itu tidak ada. Tidak dijelaskan atau disebutkan. Allah Maha Kasih, sehingga ketika punya niat baik dikasih satu. Tapi, niat jahat enggak dituliskan begitu," bebernya.
"Kita niat baik dikasih pahala satu, kalau kita melaksanakan 10 sampai 700. Kalau niat jahat, dibatalin enggak dutlis karena Allah Maha Kasih. Namun bukan berarti kemudahan ini mengarahkan seseorang mengentengkan juga," tukasnya.
(hap)