- iStockPhoto
Khutbah Idul Fitri 2026: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Setelah Ramadhan
Selain itu, Idul Fitri juga menjadi hari kegembiraan. Setelah sebulan menahan diri dari makan dan minum di siang hari, Allah kembali menghalalkan semua yang sebelumnya ditahan. Kebahagiaan ini merupakan bentuk rahmat dan kemudahan dari-Nya.
Makna Idul Fitri yang Sebenarnya
Banyak orang memahami Idul Fitri sebagai hari kembali suci. Padahal, secara bahasa dan syariat, kata fitri bermakna kembali berbuka atau tidak berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih.” (HR. Tirmidzi 632).
Karena itu, Idul Fitri tidak otomatis menjadikan seseorang kembali bersih dari dosa. Justru setelah beramal, seorang Muslim dianjurkan merasa khawatir apakah amalnya diterima atau tidak, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS yang berdoa:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)
Menjaga Diri dari Kebiasaan yang Menjerumuskan
Setelah Ramadhan berlalu, sering kali semangat ibadah menurun. Masjid yang sebelumnya ramai kembali lengang. Bahkan, ada kebiasaan yang dianggap sepele padahal mengandung dosa, seperti bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram saat bersilaturahmi.
Rasulullah SAW bersabda:
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thabrani).