news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, MUI Imbau Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat Pemerintah.
Sumber :
  • Viva.co.id/ANTARA/Teuku Dedi Iskandar

Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, MUI Imbau Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat Pemerintah

Berikut penjelasan MUI soal prediksi idul fitri 2026 bisa berbeda. Namun kepastiannya masih menunggu sidang isbat pemerintah.
Kamis, 19 Maret 2026 - 12:45 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvonenews.com- Perayaan hari raya Idul Fitri 2026 diprediksi berbeda. Hal ini disorot majelis ulama indonesia (MUI) harus menunggu sidang isbat Pemerintah.

Pemudik Padati Stasiun Pasar Senen Jakarta Jelang Perayaan Idul Fitri Kamis (19/3/2026).
Sumber :
  • Adinda Ratna Safira/tvOnenews

Dalam keterangannya, Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, mengungkapkan posisi hilal secara umum di Indonesia berdasarkan perhitungan ilmu falak, pada Kamis 19 Maret 2026 terjadi ijtima' (pertemuan matahari dan bulan) pada pukul 08.25 WIB. 

Setelah matahari terbenam pada hari itu, lanjutnya, hilal sudah berada di atas ufuk, tetapi ketinggiannya masih rendah. 

Lebih lanjut Kiai Cholil menjelaskan, banyak wilayah Indonesia tinggi hilal hanya sekitar 1-2 derajat dan bertahan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam, sehingga secara umum sangat sulit untuk terlihat dengan mata. 

Ilustrasi Idul Fitri 1447 H
Sumber :
  • Ilustrasi AI

"Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh, dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," kata Kiai Cholil, di Jakarta, Senin (16/3/2026). 

Mengutip laman MUI, ia juga menerangkan, kondisi itu menandakan bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari juga sudah mulai terbuka. 

"Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis," kata CEO Amanah Zakat itu.

Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, MUI Imbau Masyarakat Tunggu Hasil Sidang Isbat Pemerintah
Sumber :
  • Viva.co.id/ANTARA/Teuku Dedi Iskandar

Namun berdasarkan kriteria imkanur rukyah MABIMS, minimal tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4° agar secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat. 

Sementara di Aceh, hasil hisab menunjukkan tinggi 2,51° dan elongasi 6,09°, sehingga masih sedikit di bawah kriteria tersebut. 

"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," terang Kiai Cholil.

Dengan begitu, sementara hasilnya hilal sudah berada du atas ufuk, namun hampir di seluruh Indonesia masih rendah. Bahkan di Aceh yang paling tinggi pun masih sedikit di bawah batas kriteria imkanur rukyah. 

"Oleh karena itu, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan Sidang Isbat pemerintah," pesannya.(klw)

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:59
10:46
04:31
02:55
06:37
07:10

Viral