news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi ibadah haji 2025.
Sumber :
  • Tovic/Media Center Haji 2024

Jangan Bangga Dulu Disebut Pak Haji setelah Pulang dari Tanah Suci, Pendakwah Ingatkan itu Bukan Gelar

Penyebutan "Pak Haji" atau "Bu Hajah" bukan gelar bagi yang sudah menyelesaikan ibadah haji di Tanah Suci, melainkan pengingat diri menjauhi segala keburukan.
Minggu, 17 Mei 2026 - 07:01 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah masyarakat Indonesia, panggilan "Pak Haji" maupun "Bu Hajah" tak asing lagi. Biasanya penyebutan ini diberikan kepada mereka yang sudah pulang ibadah haji dari Tanah Suci.

Tujuan menyebut Pak Haji atau Bu Hajah dinilai bentuk penghormatan sosial. Tak hanya itu, orang yang menuntaskan ibadah haji mendapat pengakuan besar karena sudah memenuhi rukun Islam kelima.

Sayangnya banyak orang belum menyadari panggilan Pak Haji bisa bergeser sebagai simbol status sosial dalam agama Islam. Ironisnya, sebutan ini tidak lagi menjadi doa maupun penghormatan.

Pendakwah kondang, Ustaz Adi Hidayat mengingatan satu hal terkait penyebutan Pak Haji. Ia memahami banyak yang bangga terhadap gelar setelah ibadah haji di Tanah Suci.

"Jika ada yang menyebutkan Pak Haji, sebenarnya ini bukan gelar," ujar Ustaz Adi Hidayat dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube pribadinya, Minggu (17/5/2026).

Kenapa Ustaz Adi Hidayat Sebut Pak Haji Bukan Gelar?

Ustaz Adi Hidayat (UAH)
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa, penyebutan Pak Haji memang sudah familiar di Indonesia. Sebutan ini bukanlah sebuah gelar, tetapi menjadi pengingat diri bagi yang sudah berhaji.

"Itu mengingatkan agar jangan sampai kebaikan yang dimilikinya luntur lagi," terangnya.

UAH sapaan populernya membahas seputar haji mabrur. Predikat ini sebagai tanda bahwa ibadah haji diterima oleh Allah SWT.

Tanda-tanda haji mabrur meliputi beberapa hal. Pertama mengacu pada perubahan perilaku yang menjadi lebih baik.

Tanda kedua meliputi di mana seseorang lebih bertakwa. Ketiga mengarah pada konsistensi untuk melakukan perbuatan kebaikan atau berakhlak mulia pasca kembali ke Tanah Air.

Maka dari itu, ciri utamanya tidak berpacu pada gelar. Haji mabrur menunjukkan seseorang meningkatkan kepedulian sosial, menjaga lisan hingga menjauhi segala perbuatan kemaksiatan.

UAH bahkan memandang tanda-tanda haji mabrur menunjukkan ketika seseorang sudah meninggalkan sifat buruknya sebelum bertolak ke Tanah Suci.

Kupas Tuntas Definisi Kata "Haji Mabrur"

Ilustrasi: Petugas Penyelenggara Ibadah Haji mendata jamaah calon haji
Sumber :
  • ANTARA

Dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat menyampaikan definisi dari haji mabrur. Ia mulanya menuturkan kata dari "mabrur" yang berawal dari kata "birrun".

Ia menegaskan bahwa, kata birrun memiliki definisi yang mendalam. Kata ini berarti sifat buruk hilang dan datang sifat baik.

"Birrun artinya kebaikan yang lahir setelah buruknya hilang, kebaikan yang muncul setelah keburukan hilang, ada orang berbuat buruk ditinggalkan menjadi baik," tuturnya.

Ia mencontohkan beberapa sifat buruk yang hilang dari predikat haji mabrur. Ia mengambil hal-hal umum yakni marah yang harus ditinggalkan seseorang untuk menjadi lebih sabar.

"Sombongnya ditinggalkan menjadi tawadhu, kebaikan yang muncul setelah meninggalkan yang buruk disebut Birrun. Jika melekat pada pelakunya, disebut Mabrurun," terangnya.

Ia menjelaskan awal mula seseorang mendapat predikat penyebutan haji mabrur. Hal ini terjadi ketika jemaah melempar jumrah sebagai waktu melepaskan seluruh sifat jelek dalam dirinya.

"Ada haji mabrur, kenapa disebut haji mabrur? Saat dia berada di wukuf di Arafah, dia istighfar. Dia mengenali keburukannya, dia meningngalkan itu datang ke Musdalifah, lalu ia lemparkan," paparnya.

Melalui penjelasan ini, Ustaz Adi Hidayat memberikan saran kepada calon jemaah haji, baik yang belum atau sudah berangkat ke Tanah Suci. Ia mengingatkan sebaiknya mencatat apa saja hal buruk dalam dirinya.

"Maka sebelum haji, catat dulu buat mengenali diri kita dulu. Jangan gengsi menanyakan itu kepada pasangan kita, kepada anak, kepada orang tua, kepada siapapun terkait apa salah kita," pesannya.

Ia menyarankan setelah calon jemaah haji tiba di Tanah Suci, khususnya ketika melempar jumrah. Untuk melepas sifat buruk, sebaiknya sudah hafal untuk mengucap "Bismillahi, Allahu Akbar".

Hal ini serupa bagi yang tidak berangkat ibadah haji dan memilih berkurban. Kedua ibadah tersebut sebagai bentuk membuang sifat buruk seseorang.

"Yang di sana melontar, di sini menyembelih tanggal 10 Dzulhijjah itu. Kalimat sama di sana Bismillahi Allahu Akbar, di sini juga mengucap Bismillahi Allahu Akbar," jelasnya.

"Apa yang dilempar sifat Hewani, maka sifat hewan itu disembelih dan di sana melontar. Karena sudah dilontar hilanglah buruknya, kemudian dibawa pulang sifat kebaikan, itu yang disebut haji mabrur," sambungnya.

Menyikapi penyebutan Pak Haji sebagai gelar, Ustaz Adi Hidayat mengingatkan agar tidak salah langkah. Menurutnya, hal itu hanya membuang waktu dan tenaga jika kemabrurannya hilang.

"Karena itu diingatkan oleh Nabi, jika sudah haji, sayang udah fisik, tenaga, waktu, biaya, jangan ditukar suurga yang sudah diberikan oleh Allah. Mari menjaga, jangan ditukar dengan maksiat lagi," tukasnya.

(put/hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:06
05:01
05:14
03:43
03:22
03:33

Viral