- Tangkapan Layar YouTube Al-Bahjah TV
Buya Yahya Blak-blakan Bilang Begini soal 10 Muharram Disebut Hari Anak Yatim: Ini Harus Diluruskan
Jakarta, tvOnenews.com - Ulama kharismatik asal Cirebon, KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya membahas seputar bulan Muharram. Bulan ini menjadi bagian dari bulan haram.
Buya Yahya kemudian menjelaskan keistimewaan bulan haram ini terletak pada 10 Muharram. Tanggal itu dikenal sebagai Hari Asyura dan umat Muslim dianjurkan untuk menjalani puasa Asyura.
Selain memiliki banyak keutamaan, 10 Muharram juga disebut sebagai "Hari Anak Yatim" atau "Lebaran Anak Yatim". Sebutan ini pun mengundang perhatian bagi Buya Yahya.
Buya Yahya memahami sebutan Hari Anak Yatim di 10 Muharram sangat populer di Indonesia. Namun, ia meluruskan pelabelan ini agar tidak mengundang kekeliruan.
"Yang perlu sedikit diluruskan adalah menjadikan 10 Muharram Hari Anak Yatim. Ini yang perlu diperhatikan," ujar Buya Yahya dilansir tvOnenews.com dari Al-Bahjah TV, Kamis (11/6/2026).
- Istimewa
Buya Yahya mulanya menjelaskan istilah tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura juga adalah Lebaran Anak Yatim. Penyebutan ini berangkat dari tradisi dan sejarah agama Islam.
Hari Asyura tidak sekadar menjadi hari yang penuh berkah. Di balik itu, ada banyak peristiwa penting dan membuat Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan Hari Asyura.
Perhatian inilah mendorong Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, selain mengerjakan amalan puasa Asyura.
Di Indonesia, terdapat tradisi menyantuni anak yatim di setiap tanggal 10 Muharram. Tradisi ini bahkan sudah berlangsung turun-temurun.
Buya Yahya mengambil penjelasan dari hadis riwayat. Ada beberapa menjelaskan bahwa umat Muslim diajak untuk memperbanyak sikap dermawan.
"Kalau dia dermawan kepada keluarga dan kerabatnya, maka Allah SWT akan memberikan rezeki berlimpah kepadanya di tahun itu," terangnya.
Ia menyebut hadis riwayat terkait anjuran tersebut bersifat lemah. Namun para ulama menyepakati sikap kedermawanan sangat dibolehkan karena menuntun seseorang untuk sedekah.
"Para ulama lebih cenderung mengambil kesepakatan bahwasanya hari itu untuk bersenang-senang, hari bergembira dengan saudara, dengan kerabat," jelasnya.
Lanjut Buya Yahya, anjuran tersebut membuat seseorang ingin menciptakan suasana penuh kebersamaan dan kebahagiaan, misalnya mengadakan kegiatan santunan.
Tak sedikit umat Muslim dari berbagai daerah, masjid, yayasan hingga komunitas sosial biasanya tidak mau ketinggalan menggelar kegiatan santunan massal selama Muharram.
Acara ini biasanya diiringi dengan doa bersama, pemberian bantuan pendidikan. Selain itu, agenda santunan ini juga menjadi ajang memberikan perlengkapan sekolah hingga kegiatan hiburan membahagiakan anak-anak yatim.
Buya Yahya justru meluruskan pemahaman terhadap tradisi tersebut. Pandangan seperti ini akan membuat orang peduli kepada anak yatim hanya di bulan Muharram, khususnya Hari Asyura.
"Anak yatim itu harinya setiap hari, bukan di Hari Asyura saja. Yang dijamin oleh Nabi melalui hadis shahih dan penjelasan di dalamnya menjamin kehidupan anak yatim," katanya.
Ia berharap pemahaman mengenai tradisi "Lebaran Anak Yatim" harus dicermati dengan baik. Tujuannya untuk menghindari acara santunan hanya digelar di bulan Muharram.
"Jadi, mari berpikirlah untuk bagaimana kita memperhatikan anak yatim dengan maksimal, bukan sekadar kasih bantuan hanya setahun sekali," tegasnya.
"Bahkan, kadang-kadang kesalahpahaman ini membawa orang menyantuni anak yatim harus menunggu Hari Asyura, dari mana itu? Maka jika meyakini Asyura Hari Anak Yatim, kalau menjadikan kita teledor, kita tutup pemahaman itu semuanya karena yang menjamin kehidupan enggak kenal Asyura. Pokoknya setiap hari kita memperhatikan mereka," pungkasnya.
(hap)