- Pexels/Mohamad Tamer
Teks Khutbah Jumat 31 Juli 2026: Tanda Allah Mencintai Hamba-Nya, Bukan Sekadar Harta dan Jabatan
tvOnenews.com - Banyak orang menganggap kekayaan yang melimpah, karier yang cemerlang, atau jabatan yang tinggi sebagai bukti bahwa Allah SWT mencintainya.
Sebaliknya, ketika diuji dengan kesempitan rezeki atau berbagai kesulitan hidup, tidak sedikit yang merasa telah dijauhkan dari kasih sayang-Nya.
Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar. Dalam khutbah Jumat ini, umat Islam diajak memahami hakikat cinta Allah SWT kepada hamba-Nya.
Ukuran cinta Allah bukanlah kemewahan dunia, melainkan keimanan, ketakwaan, dan kesungguhan seorang hamba dalam mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
Berikut rangkuman isi khutbah Jumat bertema "Bukti Cinta Allah Padamu" yang dapat menjadi renungan bagi setiap muslim, sebagaimana dilansir dari Ngaji.id.
- pexels.com/@suryo-patriandito
Ketakwaan Menjadi Jalan Meraih Kebahagiaan
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, setiap muslim hendaknya terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan merupakan bekal terbaik untuk meraih keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman... bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)
Takwa tidak cukup hanya diucapkan atau ditampilkan melalui status media sosial. Ketakwaan harus tampak dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, senantiasa bersyukur, dan menjaga keimanan hingga akhir hayat.
Apakah Kekayaan Menjadi Bukti Cinta Allah?
Sering terdengar ungkapan, "Alhamdulillah, Allah masih mencintai saya karena diberi rezeki yang banyak."
Namun, benarkah banyaknya harta, jabatan, dan kemudahan hidup merupakan tanda cinta Allah?
Allah SWT justru menjelaskan bahwa manusia sering keliru dalam menilai nikmat dan ujian.
فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِ
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku'." (QS. Al-Fajr: 15)
Lalu Allah berfirman:
وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِ ۚ كَلَّا
"Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: 'Tuhanku menghinakanku.' Sekali-kali tidak demikian." (QS. Al-Fajr: 16-17)
Ayat ini menegaskan bahwa kelapangan maupun kesempitan rezeki bukan ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Bukti Cinta Allah Adalah Keimanan
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dunia diberikan kepada siapa saja, baik yang dicintai Allah maupun yang tidak.
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ
"Allah berbagi dunia ini kepada semua orang yang Allah cintai dan yang Allah tidak cintai." (Silsilah As Shahihah 2714)
Namun beliau melanjutkan:
وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
"Tetapi Allah tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang yang Allah cintai." (Silsilah As Shahihah 2714)
Karena itu, ketika seseorang dimudahkan untuk menjaga shalat, mencintai Al-Qur'an, rajin beribadah, bangun malam untuk tahajud, serta istiqamah dalam ketaatan, itulah salah satu tanda kasih sayang Allah kepadanya.
Cara Agar Dicintai Allah
Mengaku mencintai Allah saja tidaklah cukup. Allah memberikan ukuran yang jelas dalam Al-Qur'an.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
"Katakanlah: 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'" (QS. Ali 'Imran: 31)
Mengikuti Rasulullah SAW berarti menjadikan Al-Qur'an dan sunnah sebagai pedoman hidup dalam setiap aspek kehidupan.
Amalan yang Dicintai Allah
Dalam hadis qudsi, Allah SWT menjelaskan bahwa amalan yang paling dicintai-Nya adalah menjalankan kewajiban.
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ
"Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain apa yang telah Aku wajibkan kepadanya." (HR. Bukhari)
Setelah itu, seorang hamba dianjurkan memperbanyak ibadah sunnah.
وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
"Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari)
Karena itu, jangan pernah meremehkan amalan sunnah seperti shalat tahajud, shalat rawatib, puasa Senin-Kamis, sedekah, maupun ibadah lainnya. Justru melalui amalan-amalan tersebut seorang hamba semakin dekat dengan cinta Allah SWT.
Keutamaan Hamba yang Dicintai Allah
Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, kemuliaannya akan diumumkan kepada para malaikat.
يَا جِبْرِيْلُ، إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ**
"Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian Jibril menyerukan kepada seluruh penghuni langit agar turut mencintai hamba tersebut hingga akhirnya ia diterima oleh manusia di bumi.
Bahkan Allah juga berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ
"Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya."
وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ
"Dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan perlindungan kepadanya." (HR. Bukhari)
Inilah kemuliaan terbesar yang seharusnya menjadi cita-cita setiap muslim, yaitu memperoleh cinta dan pertolongan dari Allah SWT.
Zuhud Menjadi Jalan Meraih Cinta Allah
Pada khutbah kedua dijelaskan sebuah hadis ketika seseorang meminta amalan agar dicintai Allah dan juga dicintai manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا ، يُحِبَّكَ اللهُ
"Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu."
Kemudian beliau melanjutkan:
وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
"Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah)
Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau enggan mencari rezeki. Sikap zuhud adalah menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, tidak tamak terhadap dunia, menjaga kehalalan rezeki, serta tidak iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.
Sebagai penutup, khutbah ini mengingatkan bahwa masih banyak amalan yang dapat dilakukan agar semakin dekat dengan cinta Allah SWT. Salah satunya adalah memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, terlebih pada hari Jumat yang merupakan hari paling mulia dalam Islam.
(gwn)