- Unsplash/David Rodrigo
Teks Khutbah Jumat 23 Oktober 2026 Singkat: Peran Santri dalam Menjaga Agama dan Membangun Bangsa
tvOnenews.com - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam menjaga agama sekaligus berkontribusi bagi kemerdekaan dan kemajuan Indonesia.
Semangat tersebut perlu terus diwariskan, terutama di tengah perkembangan zaman yang menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan umat Islam.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, khutbah Jumat dapat menjadi sarana untuk kembali mengingatkan umat Islam tentang pentingnya ilmu agama, akhlak mulia, dan tanggung jawab dalam membangun masyarakat.
Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu yang dipelajari di pesantren, tetapi juga mengamalkan serta menyampaikannya dengan bijaksana kepada masyarakat.
Di era digital, tantangan tersebut semakin nyata. Arus informasi yang begitu cepat, maraknya berita bohong, serta konten yang berpotensi merusak moral membutuhkan peran orang-orang berilmu untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.
Berikut teks khutbah Jumat 23 Oktober 2026 bertema peran santri dalam menjaga agama dan membangun bangsa, bisa menjadi referensi bagi khatib shalat Jumat.
- Pexels/Furkan Furkan_Uslu57
Khutbah Jumat Pertama
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، اَلقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنفِرُوْا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ (التوبة: ١٢٢)
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk golongan hamba yang senantiasa mendapatkan petunjuk, pertolongan, dan rahmat Allah SWT dalam menjalani kehidupan di dunia hingga akhirat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Peringatan Hari Santri Nasional yang baru saja kita lalui hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat tentang besarnya tanggung jawab umat Islam dalam menjaga agama, menuntut ilmu, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Santri merupakan bagian penting dalam perjalanan pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia. Dari pesantren, para santri belajar memahami ajaran agama, membentuk akhlak, melatih kedisiplinan, serta menanamkan keikhlasan dalam mengabdi. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal untuk menghadapi berbagai persoalan umat dan tantangan zaman.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَممَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِككُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS At-Thalaq: 2-3)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ketakwaan dan tawakal merupakan bekal penting dalam menghadapi persoalan kehidupan. Namun, tawakal bukan berarti berdiam diri tanpa ikhtiar. Seorang Muslim tetap dituntut untuk berusaha, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Begitu pula dengan santri. Ilmu yang dipelajari di pesantren harus menjadi bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan, termasuk dalam menjaga nilai-nilai agama di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu tantangan besar pada masa sekarang adalah perkembangan teknologi digital dan penggunaan media sosial yang semakin luas. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi, belajar agama, dan menyebarkan kebaikan. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana penyebaran berita bohong, fitnah, ujaran kebencian, serta berbagai konten yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Tidak sedikit orang yang langsung mempercayai dan membagikan suatu berita tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Akibatnya, hubungan antarsesama dapat rusak, persaudaraan menjadi renggang, bahkan konflik di tengah masyarakat semakin sulit dihindari.
Dalam keadaan seperti ini, kehadiran orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang baik sangat dibutuhkan. Santri dan para pencari ilmu agama memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun masyarakat yang lebih bijak, beradab, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذذَرُونَ
Artinya: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”
Ayat ini menjelaskan pentingnya sebagian umat Islam memperdalam pengetahuan agama agar dapat memberikan pemahaman dan peringatan kepada masyarakat. Dengan demikian, ilmu tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi kehidupan bersama.
Tanggung jawab santri pada masa kini dapat diwujudkan melalui dakwah yang menyejukkan, pendidikan yang mencerdaskan, serta penyampaian ajaran agama yang sesuai dengan tuntunan Islam. Santri juga perlu membekali diri dengan kemampuan memahami perkembangan zaman agar mampu menjawab persoalan masyarakat tanpa kehilangan prinsip-prinsip agama.
Perjuangan santri pada masa lalu dan masa kini memang menghadapi bentuk tantangan yang berbeda. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para ulama dan santri ikut berjuang melawan penjajahan, pada masa sekarang perjuangan tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan ilmu, pembinaan akhlak, pemberantasan kebodohan, serta upaya meluruskan pemahaman keagamaan yang keliru.
Perjuangan tersebut tentu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana, damai, dan bertanggung jawab. Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu, tetapi juga harus mampu menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami, sikap yang santun, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pentingnya mempelajari agama dan mengajak masyarakat kepada kebenaran juga ditegaskan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir, juz 11, halaman 79:
يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ المَقْصُوْدُ مِنَ التَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ دَعْوَةَ الخَلْقِ إِلَى الحَقِّ، وَإِرْشَادَهُمْ إِلَى الدِّيْنِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ
Artinya: “Maksud dari memahami dan mempelajari ilmu agama harusnya adalah mengajak masyarakat kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada agama yang lurus dan ajaran yang benar.”
Pesan tersebut mengajarkan bahwa tujuan menuntut ilmu agama bukan sekadar memperoleh pengetahuan atau pengakuan dari orang lain. Ilmu harus menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membimbing sesama menuju kebaikan.
Karena itu, para santri hendaknya menggunakan masa belajar di pesantren dengan sebaik-baiknya. Kesempatan untuk belajar kepada para kiai dan guru merupakan karunia yang patut disyukuri. Ilmu perlu dipelajari secara sungguh-sungguh, disertai adab kepada guru, kesabaran, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Santri juga harus memahami bahwa ilmu agama tidak boleh digunakan untuk merendahkan orang lain, memicu permusuhan, atau merasa paling benar. Sebaliknya, ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap persoalan umat.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya mengambil ilmu sebelum hilangnya kesempatan untuk memperolehnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi dalam Musnad Ad-Darimi atau yang dikenal dengan Sunan Ad-Darimi, juz 1, halaman 308, disebutkan:
عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلّٰى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ. قَالُوْا: وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللّٰهِ، وَفِينَا كِتَابُ اللّٰهِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ: ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فِيْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ، فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟ إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ، إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
Artinya: “Dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau besabda: Ambillah ilmu sebelum pergi/hilang. Para sahabat bertanya Bagaimana ilmu bisa pergi wahai Nabi, sedangkan Al-Quran masih bersama kami? Nabi bersabda: Celakalah kalian, bukankah Taurat dan Injil masih ada bersama Bani Israil, tetapi tidak bermanfaat untuk mereka? Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama. Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama.”
Hadis tersebut mengingatkan kita akan pentingnya memanfaatkan kesempatan belajar sebelum para ulama yang menjadi sumber ilmu meninggalkan dunia. Keberadaan kitab dan sumber pengetahuan memang penting, tetapi keberadaan guru yang membimbing pemahaman, menjelaskan persoalan, dan memberikan teladan juga memiliki kedudukan yang sangat berarti.
Oleh sebab itu, para santri hendaknya menghormati para kiai dan guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, serta tidak menyia-nyiakan waktu dengan perkara yang tidak bermanfaat. Kelak, ketika kembali ke tengah masyarakat, mereka diharapkan mampu meneruskan perjuangan dakwah dan pendidikan dengan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, tanggung jawab menjaga agama dan membangun bangsa bukan hanya berada di pundak santri. Setiap Muslim memiliki peran sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan nilai agama dan akhlak, guru membimbing muridnya dengan ilmu, pemimpin menjalankan amanah secara adil, dan masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan.
Kita semua dapat mengambil pelajaran dari semangat santri, yakni kesungguhan dalam menuntut ilmu, keteguhan menjaga akhlak, serta keikhlasan dalam mengabdi. Jika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, insyaallah akan tumbuh masyarakat yang lebih berpengetahuan, rukun, dan bertanggung jawab.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita jadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri. Bagi para santri, gunakanlah masa belajar untuk memperdalam ilmu dan membentuk akhlak. Bagi para orang tua, dukunglah anak-anak dalam menuntut ilmu yang bermanfaat. Bagi seluruh umat Islam, marilah kita menghargai ilmu, memuliakan para guru, serta menyebarkan kebaikan dengan cara yang santun.
Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita lalai terhadap adab. Jangan sampai banyaknya informasi menjadikan kita mudah menghakimi orang lain. Sebaliknya, jadikan teknologi sebagai sarana untuk belajar, mempererat silaturahmi, dan menyebarkan pesan-pesan yang membawa manfaat.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu, memuliakan ulama, menjaga persaudaraan, serta senantiasa berusaha memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Jumat Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga keimanan, memperbaiki akhlak, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Hari Santri Nasional hendaknya mendorong kita untuk semakin menghargai pendidikan agama dan perjuangan para ulama. Santri yang berilmu dan berakhlak merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang beradab. Namun, kemajuan bangsa juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat yang bekerja dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Marilah kita mendukung generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang mencintai ilmu, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Semoga ilmu yang dipelajari menjadi penerang kehidupan dan amal yang membawa keberkahan bagi sesama.
Kita juga memohon kepada Allah SWT agar para ulama, kiai, guru, dan seluruh pendidik diberikan kesehatan serta kekuatan untuk terus membimbing umat. Semoga para santri diberi kemudahan dalam menuntut ilmu dan kelak mampu mengamalkannya demi kebaikan agama, masyarakat, dan bangsa.
Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
اَللّٰهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَعَمَلًا صَالِحًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَوَفِّقْ طُلَّابَ الْعِلْمِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْعَلْ عِلْمَهُمْ نَافِعًا وَعَمَلَهُمْ صَالِحًا.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَأَدِمْ عَلَيْنَا نِعْمَةَ الْأَمْنِ وَالسَّلَامَةِ، وَوَفِّقْ قَادَتَنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يَسْعَوْنَ فِي الْخَيْرِ وَيَدْعُوْنَ إِلَى السَّلَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
(gwn)