- Instagram/red__sparks
Tanpa Megawati, Red Sparks Alami Musim Terburuk dan Dijuluki “Mesin Pencetak Poin”
tvOnenews.com - Jung Kwan Jang Red Sparks tengah mengalami penurunan performa signifikan di Liga Voli Korea (V-League) 2025/2026 setelah ditinggal Megawati Hangestri pada musim lalu.
Tim yang sebelumnya tampil kompetitif kini justru terpuruk dalam tren negatif yang panjang.
Setelah kalah dari IBK Altos, skuad asuhan Ko Hee-jin kembali menelan kekalahan telak 0-3 dari Pink Spiders dengan skor 25-22, 25-11, dan 25-13.
- Instagram Red Sparks
Hasil tersebut menambah catatan buruk mereka musim ini menjadi 23 kekalahan dari total 29 pertandingan, dengan hanya enam kemenangan. Lebih dari separuh kekalahan itu—14 di antaranya—berakhir dengan skor 0-3, memperlihatkan betapa timpangnya performa tim.
Pada laga sebelumnya melawan Pink Spiders, situasi semakin mencerminkan kerapuhan Red Sparks. Setelah tertinggal 0-1 di set pertama, mereka kebobolan sembilan poin beruntun di set kedua saat skor 11-16, yang berujung kekalahan telak 11-25 dengan selisih 14 poin.
Pertandingan tandang yang digelar di Incheon Samsan World Gymnasium pada tanggal 14 tersebut sekaligus memperpanjang rentetan kekalahan mereka menjadi 10 kali berturut-turut—terbanyak di divisi wanita musim ini.
Rentetan hasil buruk ini telah berlangsung lebih dari 40 hari, dimulai sejak kekalahan 0-3 dari Heungkuk Life Insurance pada tanggal 4 bulan lalu.
Kondisi ini terasa kontras jika dibandingkan dengan musim sebelumnya, ketika Red Sparks tampil impresif dan mampu membawa seri kejuaraan hingga Game 5 melawan Pink Spiders.
Pada masa kejayaannya, Ko Hee-jin memiliki trio MVP yang solid, yakni Megawati Hangestri, Vanja Bukilic, dan Pyo Seung-ju. Kolaborasi mereka sukses membawa Red Sparks melaju ke final V-League 2024/2025, menghadapi Pink Spiders yang diperkuat Kim Yeon-koung—yang dikenal sebagai Ratu Voli Korea—serta ditangani pelatih kelas dunia asal Italia, Marcello Abbondanza.
Saat itu, Red Sparks bahkan sempat diragukan untuk menembus final. Megawati—yang dijuluki Megatron—kerap dianggap hanya sebagai pemain kuota Asia. Sementara itu, Vanja Bukilic pada putaran pertama dinilai belum sepenuhnya menemukan ritme strategi Ko Hee-jin, berbeda dengan Giovanna Milana yang sebelumnya tampil lebih menyatu dengan sistem permainan tim.