- Logo BWF
Miris, 3 Pebulu Tangkis Indonesia Ini Dilarang Bermain Seumur Hidup oleh BWF
tvOnenews.com - Dunia bulu tangkis Indonesia pernah diguncang skandal besar yang meninggalkan noda dalam sejarah olahraga tepok bulu Tanah Air.
Di tengah reputasi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama bulu tangkis dunia, kabar tentang keterlibatan sejumlah atlet dalam praktik match-fixing atau pengaturan skor menjadi pukulan telak.
Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) akhirnya menjatuhkan sanksi berat kepada delapan pebulu tangkis Indonesia dalam kasus tersebut.
Dari jumlah itu, tiga nama menerima hukuman paling berat: larangan bermain seumur hidup dari seluruh aktivitas bulu tangkis.
Mereka adalah Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, dan Androw Yunanto.
Keputusan ini diumumkan BWF setelah investigasi panjang yang berawal dari laporan whistleblower.
Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan manipulasi pertandingan, taruhan, hingga upaya memengaruhi hasil laga demi keuntungan finansial.
BWF menegaskan, hukuman berlaku efektif sejak 18 Januari 2021, dan ketiganya dilarang terlibat dalam kegiatan apa pun yang berkaitan dengan bulu tangkis, baik sebagai pemain, pelatih, ofisial, maupun peran lain di lingkungan olahraga tersebut.
Tiga Pebulu Tangkis Indonesia yang Dihukum Seumur Hidup oleh BWF
1. Hendra Tandjaya
Nama pertama yang terseret paling dalam dalam skandal ini adalah Hendra Tandjaya. Berdasarkan hasil penyelidikan BWF, Hendra dinilai sebagai salah satu figur sentral dalam jaringan pengaturan skor yang melibatkan pemain Indonesia di turnamen level bawah internasional.
BWF menemukan Hendra terlibat dalam 10 pertandingan yang dimanipulasi.
Tak hanya itu, ia juga disebut memperoleh keuntungan dari aktivitas taruhan di ajang resmi bulu tangkis.
Perannya yang sangat dominan membuat hukumannya menjadi yang paling berat: larangan seumur hidup dari dunia bulu tangkis.
2. Ivandi Danang
Nama berikutnya adalah Ivandi Danang. Dalam temuan BWF, Ivandi bukan hanya ikut terlibat dalam pengaturan pertandingan, tetapi juga disebut mendanai skema manipulasi skor yang melibatkan pemain lain.
Ivandi terbukti berupaya memengaruhi hasil dua pertandingan, dan dari aktivitas tersebut ia diduga memperoleh keuntungan finansial.
Peran aktifnya dalam pendanaan praktik ilegal itu menjadi salah satu alasan BWF menjatuhkan sanksi paling keras, yakni larangan bermain seumur hidup.