- Kolase tvOnenews.com / http://bwfshuttletime.com / Instagram @t_gun75
Tak Terduga, 3 Pebulu Tangkis Indonesia Ini Malah Pilih Pindah Kewarganegaraan setelah Raih Medali Olimpiade
Setelah karier kompetitifnya berakhir, Ardy mengambil jalan baru dengan menetap di Kanada.
Di negara tersebut, ia melanjutkan kiprahnya di dunia bulu tangkis sebagai pelatih dan kemudian diketahui telah menjadi warga negara Kanada.
Meski tak lagi berstatus WNI, nama Ardy tetap lekat sebagai salah satu legenda tunggal putra Indonesia yang pernah membawa Merah Putih bersinar di Olimpiade.
2. Mia Audina, peraih dua medali perak Olimpiade bersama dua negara berbeda
Jika membicarakan kisah paling unik dalam daftar ini, nama Mia Audina hampir pasti berada di urutan teratas.
Pebulu tangkis kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1979, ini merupakan salah satu talenta paling istimewa yang pernah dimiliki Indonesia di sektor tunggal putri.
Mia mencuri perhatian sejak usia sangat muda. Ia sudah tampil di level tertinggi ketika remaja, bahkan menjadi bagian penting Indonesia saat merebut Uber Cup.
Kehebatannya kemudian berlanjut di Olimpiade Atlanta 1996, ketika Mia yang masih sangat belia sukses mempersembahkan medali perak untuk Indonesia di nomor tunggal putri.
Ia bahkan sempat menempati posisi ranking satu dunia di usia muda, sebuah pencapaian langka dalam bulu tangkis putri Indonesia.
Perjalanan hidup Mia kemudian berubah setelah ia menikah dengan pria asal Belanda.
Pada 2000, Mia pindah ke Belanda dan selanjutnya berganti kewarganegaraan.
Yang membuat kisahnya begitu spesial, Mia tidak hanya melanjutkan hidup di sana, tetapi juga kembali tampil di level tertinggi mewakili negeri barunya.
Di Olimpiade Athena 2004, Mia kembali menembus final dan meraih medali perak, kali ini untuk Belanda.
Catatan tersebut membuatnya menjadi salah satu pemain paling langka dalam sejarah bulu tangkis Olimpiade: peraih medali untuk dua negara berbeda.
BWF bahkan menyoroti fakta unik itu dalam ulasan mereka tentang sejarah bulu tangkis Olimpiade.
Bagi Indonesia, kepergian Mia tentu menjadi kehilangan besar, mengingat ia pernah dipandang sebagai penerus kejayaan tunggal putri nasional.
Namun dari sisi sejarah, perjalanan Mia Audina juga menunjukkan betapa luar biasanya kualitas seorang atlet Indonesia yang mampu bersaing di level tertinggi, bahkan setelah berganti bendera.