Profil Tomy Winata Sang Konglomerat di Balik Proyek Rempang Eco City yang Tengah Menuai Kontroversi, Ternyata ...
- (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)
Jakarta, tvOnenews.com - Sosok Tomy Winata tengah menjadi sorotan publik, buntut dari polemik Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Tomy Winata, pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa ini menjadi sorotan lantaran perusahaannya PT Makmur Elok Graha (MEG) memegang hak ekslusif untuk mengelola Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City.
PT Makmur Elok Graha merupakan bagian dari Group Artha Graha milik konglomerat Tomy Winata.
Tomy Winata melalui PT MEG berhasil menggaet perusahaan asing asal Tiongkok, China Xinyi Glass Holdings Limited, perusahaan kaca terbesar di dunia.
Rencananya Xinyi Glass Holdings Ltd akan membangun perusahaan kaca terbesar kedua di Pulau Rempang, Batam.Ā

Dimana Kepulauan Riau, khususnya Pulau Rempang memiliki potensi cadangan besar pasir silika atau lebih dikenal dengan pasir kuarsa, yang merupakan bahan baku kaca dan solar panel.
Menariknya pengambangan Pulau Rempang ini digadang-gadang memiliki potensi investasi yang mencapai hingga Rp381 triliun.
PT Makmur Elok Graha nantinya akan mengelola sekitar 17 ribu hektare kawasan di Pulau Rempang.
Namun sayang pengembangan proyek Rempang Eco City yang memiliki potensi investasi hingga ratusan triliun ini mendapat penolakan dari warga setempat.
Warga menolak untuk direlokasi dari kampung halamannya di Pulau Rempang. Padahal sesuai rencana warga harus sudah mengosongkah Pulau Rempang per 28 September mendatang.
Akankah Tomy Winata melalui perusahaanya dan pemerintah setempat berhasil merelokasi warga di Pulau Rempang?
Dan siapa sebenarnya sosok Tomy Winata? Simak profil Tomy Winata.
Tomy Winata lahir di Pontianak, Kalimantan Barat pada 23 Juli 1985. Tomy terlahir bukan dari keluarga berada.Ā
Ia merupakan anak yatim-piatu yang berhasil mencapai kesuksesannya mulai dari nol.Ā
Saat ini diketahui Tomy Winata memiliki lima orang anak, dua diantaranya Panji Winata dan Andi Winata.
Sejak Tomy berusia 15 tahun ia sudah berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja di sejumlah daerah di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Berbagai macam kerja telah ia tekuni. Kariernya dimulai saat dia bekerja menjadi kontraktor untuk membantu Angkatan Darat.
Load more