GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Blak-blakan, Anak dan Cucu DI Pandjaitan dan DN Aidit Cerita soal G30S PKI dari Sudut Pandang Masing-masing

Sejarah kelam peristiwa 30 September 1965 masih menyisakan luka mendalam hingga kini. Namun generasi penerus dari dua pihak yang sama-sama terseret dalam tragedi
Senin, 1 September 2025 - 22:51 WIB
Fico kecil bersama kakeknya Murad Aidit
Sumber :
  • Poppy Anasari

tvOnenews.com — Sejarah kelam peristiwa 30 September 1965 masih menyisakan luka mendalam hingga kini. Namun generasi penerus dari dua pihak yang sama-sama terseret dalam tragedi itu keluarga Jenderal TNI Anumerta DI Pandjaitan dan keluarga elite Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit, sepakat tak ingin mewarisi konflik.

Dilansir dari BBC Indonesia, bagi cucu-cucu DI Pandjaitan, Sifra Panggabean (30) dan Samuel Panggabean (24), tragedi itu dikenang sebagai peristiwa kejam yang merenggut nyawa kakek mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara bagi Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik DN Aidit yang juga dituding terlibat dalam G30S peristiwa itu justru memunculkan rasa kesal terhadap negara karena kakeknya ditahan tanpa pernah diadili.

Cuplikan Film Pengkhiatanan G30S PKI, suasana rapat pimpinan operasi militer G30S PKI
Cuplikan Film Pengkhiatanan G30S PKI, suasana rapat pimpinan operasi militer G30S PKI
Sumber :
  • Dok. Film Pengkhianatan G30S PKI

 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada 23 Juli 2012 menyebutkan tragedi 1965, yang menewaskan lebih dari 500.000 orang dan menyebabkan banyak lainnya ditahan tanpa pengadilan, sebagai pelanggaran HAM berat.

Kenangan Anak dan Cucu DI Pandjaitan

Sifra dan Samuel mengenal peristiwa G30S sejak kecil. Keluarga kerap mengajak mereka mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya setiap 1 Oktober.

Dari situlah mereka tahu bahwa kakek mereka, DI Pandjaitan, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi.

Samuel masih ingat bagaimana ia kerap bertanya pada ibunya, Riri Pandjaitan, tentang alasan sang kakek harus mati begitu tragis.

Pahlawan Revolusi yang gugur dalam tragedi G30S PKI
Pahlawan Revolusi yang gugur dalam tragedi G30S PKI
Sumber :
  • Tim tvOne - Tim tvOne

 

“Kenapa dia mesti meninggal? Kenapa mesti ditembak berkorban di tempat itu? Untuk apa?” kenangnya dilansir dari tayangan BBC Indonesia.

Jawaban sang ibu membuatnya mengerti bahwa kakeknya gugur demi Pancasila.

“Sejak itu saya bangga, saya teguh dalam hati, sebagai keturunan saya juga harus menjaga Pancasila ini,” kata Samuel.

Sang kakak, Sifra, menilai tragedi itu adalah sesuatu yang “hanya terjadi di Indonesia”. Baginya, pengorbanan tujuh jenderal adalah bukti cinta mereka terhadap Pancasila.

Riri, putri bungsu DI Pandjaitan yang kala itu masih berusia delapan tahun, masih menyimpan trauma.

Malam itu, rumahnya di Kebayoran Baru diterobos pasukan bersenjata. Ia menyaksikan ayahnya meminta waktu berdoa sebelum akhirnya dieksekusi.

“Darah kental itu kami lihat sendiri. Saya delapan tahun, nggak ngerti kenapa ayah saya dibunuh. Rusak jiwa saya,” tuturnya.

Meski trauma itu menghantui bertahun-tahun, Riri mengaku mendapat pemulihan melalui imannya. Ia belajar memberi pengampunan, meski tetap menolak ideologi komunisme.

Kisah Murad Aidit dan Cucu yang Marah pada Negara

DN Aidit bersama keluarganya
DN Aidit bersama keluarganya
Sumber :
  • ist

 

Di sisi lain, kisah berbeda datang dari keluarga Aidit. Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, pertama kali mengetahui soal peristiwa 1965 di sekolah dasar.

Ia bingung saat melihat kakeknya kerap difoto bersama Sukarno dan Mohammad Hatta, tapi kemudian namanya dikaitkan dengan PKI.

“Pas masuk bab PKI, kayaknya jahat banget PKI bunuh-bunuh jenderal. Saya tanya ke guru, kok bisa partai punya senjata buat bunuh jenderal? Gurunya nggak bisa jawab,” ucap Fico.

Rasa penasaran itu ia teruskan kepada ibunya, Poppy Anasari, putri Murad Aidit. Sang ibu menyarankan agar ia langsung bertanya kepada kakeknya. Dari Murad, Fico mendengar cerita yang jauh berbeda dari buku pelajaran.

Murad, menurutnya, tidak aktif berpolitik. Ia hanya aktif di komunitas seni, kemungkinan Lekra. Saat pulang dari Rusia, tempatnya menimba ilmu dengan biaya DN Aidit ia ditangkap begitu mendarat di Jakarta. Ia ditahan bertahun-tahun tanpa diadili.

“Kakek saya nggak salah, diadilin juga nggak. Cuma main ditahan-tahan aja. Pas terbukti nggak bersalah, nggak ada ganti rugi. Saya kesal sama negara,” ungkap Fico.

Luka Anak-anak yang Terpisah dari Orang Tua

Murad Aidit bersama istrinya Nurtjahja Murad
Murad Aidit bersama istrinya Nurtjahja Murad
Sumber :
  • Poppy Anasari

 

Poppy Anasari, anak Murad Aidit, juga menyimpan kenangan getir. Hanya tujuh hari setelah lahir, ia ikut dibawa ke penjara bersama ibunya.

“Saya tapol termuda. Nyusu di sana sampai umur 40 hari,” kenangnya.

Masa kecilnya diwarnai perpisahan panjang dengan kedua orangtuanya. Hingga usia 15 tahun, ia baru bertemu lagi dengan mereka, yang semula diperkenalkan sebagai paman dan bibi.

“Hati kecil saya kesal karena kebersamaan itu direnggut. Siapa bisa ganti kerugian spiritual, material, kasih sayang yang hilang?” ujar Poppy.

Meski demikian, ia menegaskan tak lagi menyimpan dendam. Kini ia aktif dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), wadah yang mempertemukan anak-anak korban G30S dari berbagai pihak.

“Kita berhenti mewarisi konflik dan nggak buat konflik baru,” katanya.

Sama-sama Tak Mau Mewarisi Konflik

Baik keluarga Pandjaitan maupun Aidit sepakat, generasi setelah mereka tidak boleh lagi hidup dalam bayang-bayang kebencian. Sifra Panggabean menegaskan bahwa tragedi 1965 harus dipahami dalam konteks politik dan hukum saat itu yang belum matang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara Fico dan Poppy menekankan bahwa pelurusan sejarah penting, tapi rekonsiliasi jauh lebih utama.

Tragedi yang menelan ratusan ribu korban itu meninggalkan luka panjang. Namun suara generasi ketiga dari kedua belah pihak memberi harapan: masa lalu yang pahit tak harus diwariskan menjadi konflik abadi.

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

AVC Champions League 2026: Melaju ke Final, Foolad Sirjan Persembahkan Kemenangan atas JTEKT Stings untuk Masyarakat Iran

AVC Champions League 2026: Melaju ke Final, Foolad Sirjan Persembahkan Kemenangan atas JTEKT Stings untuk Masyarakat Iran

Foolad Sirjan Iranian berhasil menyegel satu tempat di babak final AVC Champions League 2026 setelah berhasil menaklukan JTEKT Stings Aichi di babak semifinal
Kabar Buruk untuk John Herdman: Jay Idzes Cedera Parah di Italia, Terancam Absen Bela Timnas Indonesia di FIFA Matchday

Kabar Buruk untuk John Herdman: Jay Idzes Cedera Parah di Italia, Terancam Absen Bela Timnas Indonesia di FIFA Matchday

Kabar kurang sedap menghampiri Timnas Indonesia menjelang persiapan melakoni agenda krusial FIFA Matchday periode Juni 2026 mendatang. Benteng kokoh sekaligus -
AVC Champions League 2026: Libero JTEKT Stings Aichi Ungkap Biang Keroek Kekalahan Mereka atas Foolad Sirjan Iranian

AVC Champions League 2026: Libero JTEKT Stings Aichi Ungkap Biang Keroek Kekalahan Mereka atas Foolad Sirjan Iranian

Langkah wakil dari Jepang di gelaran AVC Champions League 2026 yakni JTEKT Stings Aichi dipastikan gagal melaju ke babak final setelah kalah dari Foolad Sirjan.
Ramalan Asmara Weton Tanggal 17 Mei 2026, Apakah Neptu Anda Masuk Daftar yang Beruntung Soal Cinta Besok?

Ramalan Asmara Weton Tanggal 17 Mei 2026, Apakah Neptu Anda Masuk Daftar yang Beruntung Soal Cinta Besok?

Berdasarkan perhitungan Primbon Jawa, berikut lima weton yang diprediksi akan mandi keberuntungan dalam hal asmara esok hari pada tanggal 17 Mei 2026.
Media Malaysia Akui Timnas Indonesia sebagai Pelopor dan Negara Asia Pertama di Piala Dunia

Media Malaysia Akui Timnas Indonesia sebagai Pelopor dan Negara Asia Pertama di Piala Dunia

Menariknya, kali ini giliran media asal Malaysia, Makan Bola, yang tiba-tiba mengulas kembali rekam jejak legendaris Timnas Indonesia sebagai pionir atau negara
Pro Kontra Fans Oxford United Soal Kelayakan Marselino Ferdinan Bertahan di Klub, Singgung Erick Thohir sebagai Owner

Pro Kontra Fans Oxford United Soal Kelayakan Marselino Ferdinan Bertahan di Klub, Singgung Erick Thohir sebagai Owner

Suporter Oxford United mulai berdebat setelah muncul pertanyaan dari akun penggemar klub apakah Marselino Ferdinan layak untuk dipertahankan pada musim depan.

Trending

Sikap Resmi SMAN 1 Sambas soal Polemik Lomba Cerdas Cermat MPR RI: Hormati Keputusan Hasil Penyelenggaraan LCC

Sikap Resmi SMAN 1 Sambas soal Polemik Lomba Cerdas Cermat MPR RI: Hormati Keputusan Hasil Penyelenggaraan LCC

SMAN 1 Sambas melalui kepala sekolah resmi merilis pernyataan sikapnya. Sekolah menghargai hasil final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Kalbar.
Ketua MPR Sebut Juri LCC Tak Perlu Minta Maaf, Federasi Serikat Guru Indonesia Justru Desak Keduanya Memohon Maaf

Ketua MPR Sebut Juri LCC Tak Perlu Minta Maaf, Federasi Serikat Guru Indonesia Justru Desak Keduanya Memohon Maaf

Dua dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 MRP RI di Kalimantan Barat, didesak meminta maaf secara langsung soal polemik salahkan jawaban siswa.
Suku Togutil Ragukan Janji Pemprov Malut Buatkan Bangunan Layak Huni, Sherly Tjoanda: Kita Bikin Lebih Bagus

Suku Togutil Ragukan Janji Pemprov Malut Buatkan Bangunan Layak Huni, Sherly Tjoanda: Kita Bikin Lebih Bagus

Janji Gubernur Malut Sherly Tjoanda yang ingin membangun pemukiman di Desa Koil bekerja sama dengan Kemensos diragukan oleh penduduk setempat yaitu suku Togutil
Soal Hikmah Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI, Ayah Siswi SMAN 1 Pontianak: Seorang Anak Gagah Suarakan Keadilan

Soal Hikmah Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI, Ayah Siswi SMAN 1 Pontianak: Seorang Anak Gagah Suarakan Keadilan

Andre Kuncoro, ayah siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra bicara hikmah polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Kalimantan Barat (Kalbar).
Ikut Murka Lihat yang Dialami Ocha Siswi SMAN 1 Pontianak di LCC MPR, Gubernur Malut Sherly Tjoanda Beri Reaksi Begini

Ikut Murka Lihat yang Dialami Ocha Siswi SMAN 1 Pontianak di LCC MPR, Gubernur Malut Sherly Tjoanda Beri Reaksi Begini

Polemik pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI menyita perhatian banyak orang setelah potongan video beredar di media sosial.
Kaesang Pangarep Terpilih Jadi Ketua Timses Calon Ketua HIPMI, Terlihat Hadiri Malam Kolaborasi Daerah

Kaesang Pangarep Terpilih Jadi Ketua Timses Calon Ketua HIPMI, Terlihat Hadiri Malam Kolaborasi Daerah

Ketua Tim Pemenangan calon ketua Hipmi Reynaldo Bryan, Kaesang Pangarep hadiri acara “Malam Kolaborasi Daerah” yang diselenggarakan oleh tim sukses (timses) Reynaldo Bryan, di Plataran Senayan, Jakarta Pusat, pada Jumat (15/5/2026).
Pantas Berani Lawan Juri LCC MPR RI, Ayah Bongkar Josepha Alexandra Rajin Belajar sejak Kecil: Ini Anak Gak Stres Kah?

Pantas Berani Lawan Juri LCC MPR RI, Ayah Bongkar Josepha Alexandra Rajin Belajar sejak Kecil: Ini Anak Gak Stres Kah?

Andre Kuncoro, ayah Josepha Alexandra (Ocha), siswi SMAN 1 Pontianak peserta final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026 Kalbar ungkap tabiat anaknya.
Selengkapnya

Viral