Akdemisi Ungkap Indonesia Berada di Fase Sejarah Krusial Soal Bonus Demografi
- Istimewa
Menyikapi permasalahan yang ada, Yusriani menawarkan tiga pilar strategis untuk menghubungkan bonus demografi dengan transisi energi hijau berupa reorientasi kurikulum pendidikan tinggi melalui pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) dan riset terapan.
Kedua beupa penguatan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) yang melibatkan Generasi Z sebagai inovator dan pelaku ekonomi berkelanjutan, serta ketiga berupa keberanian intelektual dalam kebijakan, di mana akademisi dan pembuat kebijakan harus berani mengedepankan kebenaran ilmiah demi kepentingan jangka panjang bangsa.
“Generasi Z tidak cukup diposisikan sebagai pengguna teknologi energi bersih. Mereka harus didorong menjadi pencipta teknologi, perancang kebijakan, dan pemimpin masa depan sektor energi hijau,” katanya.
Selain itu, dirinya juga mengungkap peran penting pendidikan terutama perguruan tinggi dalam menjembatani bonus demografi dan agenda transisi energi hijau.
“Pendidikan bukan sekadar mengisi bejana, melainkan menyalakan api. Generasi muda kita adalah api itu. Tugas kita sebagai pendidik adalah memastikan api tersebut tidak padam oleh birokrasi yang kaku atau keputusasaan ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Rektor USNI, Sihar P. H, Sitorus menilai orasii ilmiah tersebut relevan dengan kondisi demografi Indonesia saat ini dengan meningkatnya tekanan lingkungan dan sumber daya alam.
“Bonus demografi harus dibaca dengan kesadaran ekologis. Tanpa kebijakan dan perilaku yang bijak, kita justru mewariskan keterbatasan sumber daya bagi generasi setelah bonus demografi berlalu,” katanya.(raa)
Load more