Penyintas Banjir Aceh Tamiang Bertahan di Huntara, Hidup dari Bantuan Sembako
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Banjir yang melanda wilayah Aceh dan Sumatra tidak hanya merendam rumah dan fasilitas publik, tetapi juga memutus mata pencaharian warga.
Sejumlah keluarga penyintas kini bertahan di hunian sementara (huntara) dengan mengandalkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di Huntara Aceh Tamiang, kisah perjuangan dialami pasangan Jali Saputra dan Nurmalina. Sebelum banjir terjadi, Jali bekerja sebagai cleaning service di sebuah rumah sakit.
Namun, ia terpaksa berhenti bekerja setelah mengalami saraf kejepit akibat terjatuh saat bekerja.
Saat banjir datang, kondisi fisik Jali yang lemah membuatnya harus diselamatkan oleh anaknya.
“Waktu tengah malam, ketika air banjir sudah hampir merendam rumah, saya digendong anak laki-laki saya untuk naik ke sampan yang bocor demi menyelamatkan diri,” ujar Jali.
Sejak saat itu kehidupan keluarga mereka semakin berat. Jali tidak lagi mampu bekerja, sementara lima anaknya masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan.
Dalam kondisi tersebut, Nurmalina mengambil alih peran sebagai pencari nafkah.
Ia kini bekerja sebagai cleaning service di rumah sakit yang sama dengan tempat suaminya dulu bekerja. Setiap hari Nurmalina harus menempuh perjalanan dari huntara menuju kota menggunakan sepeda motor tua.
“Alhamdulillah pihak rumah sakit memberi kesempatan istri saya menggantikan saya bekerja. Tapi kadang saya tidak tega, karena jaraknya dari Huntara ke rumah sakit cukup jauh,” tutur Jali.
Penghasilan sang istri sebagian besar disimpan untuk biaya pendidikan anak-anak dan pengobatan Jali. Sementara kebutuhan makan sehari-hari keluarga ini bergantung pada bantuan yang datang.
“Alhamdulillah dari istri kerja kami simpan untuk keperluan anak dan pengobatan. Kalau untuk makan sehari-hari kami makan apa yang kami punya, contohnya dari bantuan sembako dan bagi-bagi takjil seperti ini,” ujarnya.
Bantuan sembako tersebut salah satunya datang dari BSI Maslahat bersama Bank Syariah Indonesia yang menyalurkan paket kebutuhan pokok bagi warga penyintas banjir di Huntara Aceh Tamiang.
Paket bantuan berisi beras, minyak goreng, gula, mi instan, susu hingga ikan kaleng.
Tak hanya keluarga Jali, pasangan Predy Sanjaya dan Tiara juga mengalami nasib serupa. Rumah mereka di Kampung Dalam hilang diterjang banjir bandang dalam waktu singkat.
Predy mengaku kehilangan rumah bukan hal paling menyakitkan baginya. Ia justru terpukul melihat anak-anak menangis kelaparan di pengungsian.
“Saya masih bisa tahan melihat rumah kami terendam banjir. Tapi yang paling tidak sanggup saya dengar adalah tangisan anak-anak di pengungsian. Suara tangisan mereka bersahut-sahutan. Mereka lapar, tapi saat itu bantuan belum ada yang sampai,” ungkap Predy.
Tiara juga mengingat masa-masa sulit saat hari-hari pertama di pengungsian. Selama tiga hari, mereka terpaksa bertahan dengan bahan makanan seadanya.
“Selama tiga hari kami di pengungsian, kami makan apa saja yang ada. Beras yang sudah terendam lumpur kami coba bersihkan, kami saring air banjir agar layak diminum tapi ternyata airnya tetap kotor. Begitupun anak-anak, mereka makan dan minum seperti itu juga. Kami tidak punya pilihan, dari pada mereka kelaparan,” ujar Tiara.
Kini keluarga Predy tinggal di huntara, namun kondisi ekonomi mereka belum pulih. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Predy sesekali mencari pekerjaan serabutan di kota.
“Akibat banjir ini, mata pencaharian saya jadi hilang. Kalau belum ada lagi bantuan datang, saya pergi ke kota Langsa, saya kerjakan apa saja yang bisa saya kerjakan, yang penting bisa untuk beli popok dan susu anak,” kata Predy.
Bantuan sembako yang datang menjadi penopang utama bagi keluarga tersebut, terutama selama Ramadan.
“Alhamdulillah hadirnya bantuan sembako ini sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” ujar Tiara.
Meski kehilangan rumah dan pekerjaan, para penyintas di Huntara Aceh Tamiang tetap berupaya bertahan demi keluarga dan anak-anak mereka sambil menunggu kondisi kehidupan perlahan pulih kembali. (rpi/dpi)
Load more