Industri Logistik Hadapi Tantangan Penghitungan Emisi Karbon
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Kebutuhan industri terhadap pengukuran emisi karbon yang lebih akurat terus meningkat, khususnya di sektor logistik dan transportasi. Kondisi ini dipicu oleh berkembangnya regulasi terkait emisi serta tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di berbagai perusahaan.
Merespons tren tersebut, TransTRACK memperkenalkan Smart Fleet Management System berbasis Internet of Things (IoT) bersamaan dengan penyelenggaraan Mini Bootcamp Sustainable Supply Chains yang akan digelar secara daring pada 8 Mei 2026.
Saat ini, banyak perusahaan dinilai masih berada pada tahap awal dalam mengintegrasikan data operasional armada secara menyeluruh. Keterbatasan visibilitas data secara real-time membuat proses pengambilan keputusan terkait efisiensi distribusi dan pengurangan emisi belum berjalan maksimal, meskipun komitmen ESG telah dituangkan dalam kebijakan perusahaan.
Sejumlah studi kasus di Indonesia menunjukkan bahwa tingginya durasi kendaraan dalam kondisi idle serta distribusi rute yang kurang efisien menjadi faktor utama meningkatnya konsumsi bahan bakar. Situasi tersebut turut berdampak pada bertambahnya emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas transportasi.
Melalui Smart Fleet Management System, perusahaan dapat memantau performa armada secara real-time. Teknologi ini memungkinkan identifikasi potensi inefisiensi operasional sekaligus melakukan penghitungan emisi karbon otomatis berdasarkan aktivitas kendaraan.
Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, mengatakan tantangan utama dalam penerapan sustainability supply chain saat ini bukan lagi sebatas kesadaran perusahaan terhadap isu keberlanjutan, melainkan kemampuan menjalankan strategi berbasis data.
“Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tetapi belum memiliki visibilitas data yang memadai untuk mengidentifikasi sumber inefisiensi dan emisi secara real-time,” ujar Anggia.
Menurut dia, keterbatasan data yang akurat membuat banyak perusahaan kesulitan menerjemahkan komitmen ESG menjadi implementasi nyata di lapangan. Karena itu, sistem manajemen armada berbasis digital dinilai dapat membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat, baik dari sisi efisiensi biaya maupun pengurangan emisi karbon.
TransTRACK menyebut teknologi tersebut telah digunakan di berbagai sektor, termasuk logistik dan pertambangan. Implementasi sistem diklaim mampu meningkatkan produktivitas armada hingga 40 persen serta menekan biaya operasional sampai 30 persen. Selain efisiensi, sistem ini juga diarahkan untuk mendukung pelaporan emisi yang lebih terukur dan berbasis data.
Load more