Pemerintah akan Pasang Chattra di Puncak Candi Borobudur Pasca Waisak 2026, APTABI Sarankan Prinsip Kehati-hatian
- Kemenparekraf
tvOnenews.com – Wajah Candi Borobudur dipastikan akan segera berubah demi menyempurnakan fungsinya sebagai pusat spiritual dunia.
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon berencana memasang kembali chattra (payung batu/mahkota) pada stupa induk candi setelah perayaan Waisak 2026 mendatang.
Berbeda dengan aslinya yang berbahan batu, chattra yang akan dipasang merupakan replika berbahan perunggu. Pemilihan material ini dilakukan sebagai bentuk adaptasi agar beban pada struktur candi jauh lebih ringan, yakni kurang dari 1 ton.
- Istimewa
"Bukan dari batu. Adaptasi istilahnya itu. Itu adaptasi jadi jauh lebih ringan. Metode ini juga dipakai di seluruh situs-situs dunia, termasuk di India, Thailand, hingga Kamboja," ujar Fadli Zon saat menjelaskan progres pemasangan chattra, Rabu (6/5/2026).
Fadli Zon optimis, kehadiran chattra akan menjadi daya tarik luar biasa bagi jutaan umat Buddha dari seluruh penjuru dunia untuk berkunjung ke Magelang.
Ia menargetkan setidaknya satu persen dari 500-600 juta populasi umat Buddha global bisa hadir di Borobudur.
Dukungan Akademik dari APTABI
Rencana ini mendapat respons positif dari Asosiasi Pendidikan Tinggi Agama Buddha Indonesia (APTABI). Ketua APTABI Dr. Li. Edi Ramawijaya Putra menilai langkah ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap kelestarian nilai spiritual Borobudur sebagai living heritage.
Menurut Edi, kajian akademik membuktikan bahwa chattra adalah elemen fundamental dalam kosmologi Buddhis.
Pemasangannya diyakini akan mengembalikan dimensi intangible heritage yang telah hilang selama lebih dari 200 tahun.
“APTABI mengakui bahwa chattra memiliki makna simbolik yang fundamental. Langkah ini akan membuat Borobudur berfungsi kembali secara utuh sebagai pusat spiritual global,” tegas Edi kepada tvOnenews.com, Rabu (5/5/2026).
- Anis Efizudin-Antara
Dorong Prinsip Kehati-hatian dan Standar UNESCO
Meski mendukung penuh, APTABI mengingatkan pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk tetap bersandar pada prinsip scientific prudence atau kehati-hatian ilmiah.
Edi menekankan pentingnya pendekatan Heritage Impact Assessment (HIA) untuk menilai dampak fisik maupun visual terhadap situs warisan dunia tersebut.
Sebagai organisasi yang menaungi 12 Perguruan Tinggi Agama Buddha di Indonesia, APTABI memberikan beberapa poin penekanan:
- Prinsip Reversibel: Pemasangan harus bersifat non-invasif dan dapat dilepas kembali tanpa merusak struktur asli.
- Standar Konservasi Global: Menjaga nilai Authenticity (keaslian) dan Integrity (keutuhan) sesuai kaidah UNESCO.
- Dasar Evidensial: Setiap rekonstruksi wajib memiliki dasar arkeologis dan historis yang kuat, seperti yang tercantum dalam Prasasti Kayumwungan (824 M).
Pemasangan chattra ini diharapkan tidak hanya mempercantik fisik candi, tetapi juga memicu diskursus akademik lintas negara terkait studi filologi dan ikonografi Buddhis Nusantara yang lebih mendalam.
Load more