Lokakarya Teknik Ratus Batik: Menghidupkan Kearifan Lokal sebagai Metode Preservasi Wastra Nusantara
- UP Museum Seni Provinsi DKI Jakarta
Penjelasan tersebut merupakan ilustrasi nyata bahwa praktik ratus masih hidup dalam keseharian masyarakat Jawa.
Paparan kedua berjudul "Praktik Ratus sebagai Indigenous Conservation pada Wastra Batik" disampaikan oleh Absari Hanifah, S.Si., M.Si., konservator kain sekaligus anggota Tracing Pattern Foundation.
Ia menjelaskan bahwa ancaman utama terhadap koleksi kain berasal dari serangga seperti ngengat tekstil (Tineola bisselliella), rayap, dan kutu yang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada serat.
Absari menelusuri jejak historis teknik meratus yang tercatat dalam Serat Centhini sebagai praktik kaum bangsawan Jawa, yang lazimnya digunakan untuk pengharum ruangan dan perawatan tubuh perempuan.
“Secara ilmiah, pengasapan herbal melepaskan senyawa volatil berupa minyak atsiri melalui proses pemanasan. Senyawa aktif dari bahan-bahan seperti sirih, kayu manis, cendana, dan akar wangi memiliki sifat antimikroba dan antifungi, sehingga efektif dalam mengusir serangga dan menghambat pertumbuhan jamur pada serat kain. Pendekatan ini menempatkan ratus sebagai bagian dari preventive conservation sesuai standar International Council of Museums.” Jelas Absari Hanifah yang melihat ratus dari kacamata ilmiah.
Ia juga melanjutkan bahwa teknik ratus ini banyak yang belum meneliti khasiatnya sehingga akan sangat bagus jika ada penelitian lanjutan bagaimana ratus bisa menjadi konservasi herbal yang dapat digunakan dalam konservasi tekstil di museum.
Sesi tanya jawab berlangsung aktif dengan pertanyaan yang berasal dari mahasiswa Arkeologi FIB UI, perwakilan Pusat Konservasi Cagar Budaya DKI Jakarta, Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Kasubbag Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Banten, dan perwakilan Museum Batik Indonesia.
Diskusi mencakup efektivitas ratus terhadap berbagai jenis kain, frekuensi ideal pengulangan ratus pada koleksi yang sama, kemungkinan penerapannya pada koleksi non-tekstil seperti lukisan dan wayang, serta makna budaya yang terkandung dalam praktik meratus.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik yang dilaksanakan di halaman pendopo Museum Tekstil.
Peserta dibagi ke dalam lima kelompok, masing-masing dipandu oleh kedua narasumber dengan bantuan panitia. Setiap kelompok mempraktikkan teknik meratus menggunakan anglo kecil berisi briket arang yang dibakar, kemudian ditaburi ratus bubuk dan dikipasi hingga menghasilkan asap.
Load more