7 Kuliner Legendaris Jakarta yang Kini Mulai Langka, Nomor 3 Dulu Mudah Ditemukan di Pinggir Jalan
- Ilustrasi
tvOnenews.com - Jakarta terus berkembang menjadi kota metropolitan yang modern. Namun di balik pesatnya pembangunan dan menjamurnya restoran kekinian, ada satu hal yang perlahan mulai menghilang dari kehidupan sehari-hari warga ibu kota, yakni kuliner tradisional Betawi.
Banyak makanan khas Jakarta yang dahulu mudah ditemukan di pasar, warung kaki lima, hingga acara hajatan warga. Kini, beberapa di antaranya justru semakin jarang dijumpai. Sebagian kalah bersaing dengan tren kuliner modern, sementara sebagian lainnya membutuhkan proses pembuatan yang rumit sehingga tidak banyak lagi yang meneruskannya.
Padahal, makanan-makanan tersebut bukan sekadar hidangan biasa. Setiap sajian menyimpan cerita tentang sejarah Jakarta, akulturasi budaya, hingga kehidupan masyarakat Betawi dari masa ke masa.
Melansir dari berbagai sumber, berikut 7 kuliner legendaris Jakarta yang kini agak sulit ditemukan:
1. Roejak Shanghai, Jejak Akulturasi yang Kian Sulit Dicar
Meski namanya mengandung kata "Shanghai", makanan ini merupakan salah satu kuliner khas Betawi yang lahir dari percampuran budaya Tionghoa dan masyarakat lokal Jakarta.
Roejak Shanghai berbeda dari rujak pada umumnya. Isinya bisa berupa irisan bengkuang, timun, lobak, cumi, hingga ubur-ubur yang disiram saus merah khas bercita rasa manis, asam, dan gurih.
Dahulu makanan ini cukup mudah ditemukan di kawasan Kota Tua dan Pecinan Jakarta. Kini jumlah penjualnya semakin sedikit sehingga menjadi salah satu kuliner Betawi yang cukup langka.
2. Roti Gambang, Roti Klasik yang Mulai Terpinggirkan
Bagi generasi muda Jakarta, nama Roti Gambang mungkin terdengar asing. Padahal roti bercita rasa manis dengan aroma kayu manis ini merupakan salah satu makanan khas Betawi yang telah ada sejak zaman kolonial.
Bentuknya memanjang dengan tekstur padat dan warna cokelat kehitaman. Dahulu roti ini menjadi teman minum kopi atau teh bagi masyarakat Batavia.
Saat ini Roti Gambang lebih sering ditemukan dalam festival budaya atau toko roti tertentu dibandingkan di pasar tradisional seperti dahulu.
3. Kerak Telor, Ikon Jakarta yang Semakin Jarang Dijumpai
Kerak Telor masih identik dengan Jakarta, tetapi keberadaannya tidak lagi sebanyak beberapa dekade lalu.
Makanan berbahan beras ketan, telur bebek, ebi, dan serundeng ini dahulu banyak dijajakan di berbagai sudut kota. Kini penjualnya lebih sering terlihat saat acara budaya, perayaan HUT Jakarta, atau kawasan wisata tertentu.
Proses memasaknya yang memerlukan keterampilan khusus menjadi salah satu alasan mengapa jumlah penjual Kerak Telor terus berkurang.
4. Gado-Gado Kreo, Kuliner Sederhana dengan Cita Rasa Khas
Sekilas Gado-Gado Kreo terlihat seperti gado-gado pada umumnya. Namun kuliner yang berasal dari kawasan Kreo, Jakarta Barat, ini memiliki racikan bumbu kacang yang lebih kental dengan cita rasa khas yang telah diwariskan turun-temurun.
Popularitas makanan cepat saji membuat kuliner tradisional seperti Gado-Gado Kreo semakin sulit ditemukan dalam bentuk autentiknya. Padahal hidangan ini pernah menjadi menu favorit warga Jakarta pada era 1970-an hingga 1990-an.
5. Soto Betawi Asli yang Mulai Berkurang
Soto Betawi memang masih banyak dijual di Jakarta. Namun menemukan resep autentik dengan kuah santan atau susu yang diracik menggunakan resep turun-temurun kini semakin sulit.
Banyak penjual melakukan modifikasi agar sesuai dengan selera pasar modern. Karena itu, soto Betawi tradisional dengan cita rasa asli perlahan menjadi kuliner yang semakin langka.
6. Bakmi Betawi yang Kalah Populer dari Bakmi Modern
Tak banyak yang mengetahui bahwa Betawi memiliki tradisi bakmi sendiri. Berbeda dengan bakmi ayam modern, Bakmi Betawi memiliki karakter rasa yang dipengaruhi budaya Tionghoa dan kuliner lokal Jakarta.
Penggunaan rempah tertentu membuat cita rasanya berbeda dibandingkan bakmi yang umum dijual saat ini. Sayangnya, jumlah penjual Bakmi Betawi autentik semakin sedikit dan kalah populer dibandingkan berbagai varian bakmi modern.
7. Ikan Pesmol, Hidangan Rumahan yang Jarang Muncul di Restoran
Ikan Pesmol merupakan salah satu hidangan khas Betawi yang kaya rempah dengan warna kuning mencolok dari kunyit.
Dahulu menu ini sering disajikan dalam acara keluarga maupun perayaan adat. Namun saat ini Ikan Pesmol lebih banyak ditemukan di rumah-rumah warga Betawi dibandingkan restoran atau pusat kuliner.
Padahal perpaduan rasa gurih, asam, dan aroma rempahnya menjadikan Ikan Pesmol sebagai salah satu hidangan tradisional yang merepresentasikan kekayaan kuliner Jakarta.
Dalam rangka memperingati HUT Jakarta 2026, BW Express Jakarta menghadirkan program kuliner bertajuk Batavia Heritage Feast yang berlangsung pada 22-27 Juni 2026. Kegiatan ini mengangkat ragam hidangan tradisional Betawi yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.
Ulang tahun Jakarta menjadi momentum untuk kembali mengenalkan kuliner-kuliner khas Betawi kepada masyarakat. Banyak makanan tradisional ibu kota yang memiliki nilai sejarah panjang, tetapi mulai jarang dikenal generasi muda.
Melalui penyajian berbagai menu khas Betawi dalam Batavia Heritage Feast, masyarakat diajak kembali mengenal ragam kuliner yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warga Jakarta. Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi kota, warisan kuliner tradisional tetap memiliki tempat sebagai bagian dari identitas budaya ibu kota.
Jika tidak terus diperkenalkan dan diwariskan, bukan tidak mungkin sejumlah makanan khas Betawi tersebut hanya akan tersisa dalam catatan sejarah. Karena itu, menjaga kuliner tradisional sama pentingnya dengan melestarikan warisan budaya lainnya yang membentuk wajah Jakarta hingga hari ini. (udn)
Load more