Jejak Fredy Pratama, Gembong Narkoba Paling Diburu di Indonesia: Diduga Terkait Jaringan Sabu 128,7 Kg yang Digagalkan Polda Kalsel
- Kolase tim tvOnenews
tvOnenews.com - Perang melawan narkotika tidak pernah benar-benar usai. Di berbagai negara, aparat penegak hukum terus berpacu dengan sindikat narkoba yang semakin canggih dalam menyelundupkan barang haram.
Dari Amerika Serikat yang memburu kartel Meksiko, hingga Eropa yang menghadapi jaringan kokain Amerika Latin, pola yang sama terus berulang: para bandar besar jarang terlihat, tetapi pengaruhnya menjangkau lintas negara.
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia mengenal nama-nama besar seperti Pablo Escobar di Kolombia, Joaquin "El Chapo" Guzman di Meksiko, hingga bos-bos kartel yang mengendalikan perdagangan narkotika bernilai miliaran dolar AS.
Mereka membangun jaringan rumit yang melibatkan kurir, pencucian uang, hingga koneksi internasional untuk menghindari penangkapan.
Indonesia pun memiliki sosok yang kerap disebut sebagai salah satu bandar narkoba paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir, yakni Fredy Pratama. Namanya kembali menjadi sorotan setelah Polda Kalimantan Selatan menggagalkan peredaran 128,7 kilogram sabu pada Juni 2026.
Dalam pengungkapan tersebut, polisi menduga adanya keterkaitan dengan jaringan narkoba internasional yang selama ini dikaitkan dengan Fredy Pratama.
Meski belum ada pernyataan resmi yang menyebut keterlibatan langsung Fredy dalam kasus tersebut, jejak jaringan yang digunakan memiliki kemiripan dengan pola distribusi narkotika lintas negara yang selama ini diburu aparat.
- Antara Latif Thohir/Satrio Giri Marwanto/Arsy Fitriady
Kasus Sabu 128,7 Kilogram yang Mengarah ke Jaringan Internasional
Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Selatan berhasil menyita 128,7 kilogram sabu dari lima tersangka yang ditangkap dalam operasi yang berlangsung pada 8 hingga 12 Juni 2026.
Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menjelaskan bahwa jaringan tersebut merupakan jaringan lintas provinsi dengan jalur distribusi mulai dari Pangandaran, Tasikmalaya, Bandung, Surabaya, hingga masuk ke Banjarmasin.
Menurut Yudha, polisi menduga adanya keterkaitan dengan jaringan narkoba internasional. Barang bukti yang disita memiliki nilai ekonomi lebih dari Rp231 miliar dan diduga akan diedarkan ke kawasan pertambangan serta perkebunan di Kalimantan Selatan.
Kasus ini menambah daftar panjang pengungkapan narkoba berskala besar yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan jaringan Fredy Pratama. Aparat masih terus melakukan pengembangan guna mengungkap siapa pengendali utama di balik distribusi sabu tersebut.
Siapa Sebenarnya Fredy Pratama?
Fredy Pratama merupakan warga negara Indonesia asal Kalimantan Selatan yang dikenal luas sebagai salah satu buronan narkotika terbesar di Asia Tenggara.
Menurut keterangan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Fredy telah meninggalkan Indonesia sejak 2014. Ia diduga mengendalikan jaringan penyelundupan narkoba dari kawasan Segitiga Emas (Golden Triangle) menuju Indonesia melalui Malaysia dan sejumlah negara transit lainnya.
- Istimewa
Segitiga Emas sendiri merupakan wilayah yang mencakup sebagian Myanmar, Laos, Thailand, dan China Selatan. Kawasan ini selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat produksi narkotika terbesar dunia.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Mukti Juharsa pernah menjelaskan bahwa Fredy memiliki hubungan keluarga dengan warga Thailand. Bahkan, mertuanya diduga merupakan bagian dari jaringan kartel narkotika di kawasan tersebut.
Dari sanalah Fredy disebut memperoleh pasokan sabu yang kemudian didistribusikan ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Julukan "Cassanova" melekat pada dirinya. Selain dikenal licin dalam menghindari aparat, Fredy juga disebut kerap berpindah negara dan menggunakan berbagai identitas berbeda untuk mengaburkan jejak.
Operasi Escobar dan Besarnya Jaringan Fredy
Melansir dari berbagai sumber, nama Fredy Pratama semakin mencuat setelah Polri meluncurkan Operasi Escobar pada 2023. Operasi ini menjadi salah satu upaya terbesar dalam membongkar jaringan narkoba internasional yang diduga dipimpinnya.
Kabareskrim Polri saat itu, Komjen Pol Wahyu Widada, mengungkapkan bahwa selama periode 2020 hingga 2023 terdapat sedikitnya 408 laporan polisi yang memiliki keterkaitan dengan jaringan Fredy Pratama.
Dari rangkaian pengungkapan tersebut, aparat berhasil menyita lebih dari 10 ton sabu. Jumlah itu menunjukkan besarnya skala operasi yang dijalankan jaringan tersebut.
Polri bekerja sama dengan Royal Malaysia Police, Royal Thai Police, Royal Malaysian Customs Department, hingga Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat untuk memburu jaringan Fredy.
Hasilnya, sebanyak 884 tersangka berhasil ditangkap dan aset senilai Rp10,5 triliun diduga hasil tindak pidana pencucian uang berhasil disita selama periode 2020-2023.
Tak hanya melibatkan kurir dan pengedar biasa, jaringan Fredy juga menyeret sejumlah nama yang mengejutkan publik.
Di antaranya seorang selebgram asal Palembang yang dijuluki "ratu narkoba", hingga mantan Kasat Narkoba Polres Lampung Selatan AKP Andri Gustami yang disebut berperan sebagai kurir khusus.
Fakta ini menunjukkan bahwa jaringan Fredy tidak hanya bergerak dalam distribusi narkoba, tetapi juga diduga memiliki kemampuan membangun jejaring hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
Mengapa Fredy Pratama Sulit Ditangkap?
Meski telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 2014, Fredy hingga kini belum berhasil ditangkap.
Polri menerbitkan red notice terhadap Fredy pada 2023. Red notice merupakan permintaan internasional kepada aparat penegak hukum di berbagai negara untuk melacak dan menangkap seseorang yang menjadi buronan.
Menurut Brigjen Pol Mukti Juharsa, Polri telah bekerja sama dengan aparat Thailand dan sejumlah negara lain untuk melacak keberadaan Fredy. Namun, diduga ia kerap menggunakan jalur ilegal serta berpindah-pindah lokasi untuk menghindari penangkapan.
Sejumlah laporan bahkan menyebut Fredy diduga melakukan operasi plastik guna mengubah penampilan dan identitasnya. Meski demikian, informasi tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh aparat penegak hukum.
Para pengamat menilai sulitnya menangkap bandar kelas kakap seperti Fredy bukan hanya karena faktor lokasi persembunyian. Jaringan narkoba internasional biasanya memiliki sistem berlapis yang membuat pengendalinya berada jauh dari jalur distribusi langsung.
Kasus Fredy mengingatkan publik pada sosok Freddy Budiman, bandar narkoba yang tetap mampu mengendalikan bisnis haramnya dari balik penjara sebelum akhirnya dieksekusi mati pada 2016.
Hingga kini, aparat masih memburu Fredy Pratama yang disebut-sebut sebagai salah satu target utama pemberantasan narkotika di Indonesia.
Sementara itu, pengungkapan kasus sabu 128,7 kilogram oleh Polda Kalimantan Selatan menjadi pengingat bahwa jaringan narkoba internasional masih aktif beroperasi dan terus mencari celah untuk memasukkan narkotika ke berbagai daerah di Tanah Air.
Keberhasilan membongkar jaringan hingga ke tingkat bandar besar menjadi tantangan utama. Sebab, selama para pengendali utama masih bebas berkeliaran, rantai peredaran narkoba akan terus menemukan cara baru untuk bertahan. (udn)
Load more