DBD Mengintai di Tengah Ancaman El Nino, Kasus di Jakarta Tembus 5.700
- Sri Gustina
Ia menekankan pentingnya pencegahan yang dilakukan secara rutin, tidak hanya ketika kasus sedang meningkat.
“Pencegahan tidak boleh hanya dilakukan saat kasus meningkat, tetapi harus menjadi kebiasaan yang dijalankan secara rutin di rumah, sekolah, dan tempat kerja,” katanya.
Usia Rentan Kena DBD
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kelompok anak usia 5-14 tahun masih menjadi kelompok dengan angka kematian tertinggi akibat DBD. Namun, dalam lima tahun terakhir, kasus terbanyak justru ditemukan pada kelompok usia produktif 15-44 tahun.
Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), menilai masih banyak orang tua yang menganggap DBD hanya sebagai penyakit musiman.
“Hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja,” kata Prof. Hartono.
Ia mengingatkan bahwa sebagian kasus DBD dapat berkembang menjadi kondisi berat hingga syok dengue yang mengancam jiwa.
Menurutnya, perlindungan terhadap anak perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penerapan 3M Plus, kewaspadaan terhadap gejala dini, serta konsultasi dengan dokter terkait langkah pencegahan yang tepat.
Hal senada disampaikan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM. Ia menilai masyarakat masih sering menganggap DBD hanya menyerang anak-anak, padahal orang dewasa juga berisiko mengalami komplikasi serius.
“DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius,” ujarnya.
Ia menjelaskan risiko komplikasi lebih tinggi pada pasien dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, hingga gangguan paru kronik.
Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dinilai memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien beserta keluarganya.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan kasus DBD di Indonesia masih menunjukkan tren peningkatan sehingga upaya pencegahan perlu terus diperkuat.
“DBD masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh. Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya,” ujar Andreas.
Load more