Pelaku UMKM Alami Peningkatan Omzet Siginifikan Usai Jalani Program Inkubasi
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Berbagai pihak turut berperan dalam menumbuh kembangkan kewirausahaan masyarakat melalui berbagai program pelatihan UMKM.
Tiga bulan lamanya, Yayasan Indonesia Setara (YIS) melangsungkan program pendampingan atau inkubasi berupa UMKM GemaWira.
Alhasil, tiga peserta terbaik program tersebut berhasil meningkatkan omzet usahanya setelah menerapkan berbagai materi pendampingan berupa penyusunan model bisnis, pengelolaan keuangan, digital marketing, legalitas usaha, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pengembangan usaha.
Founder YIS, Sandiaga Uno mengatakan program inkubasi dirancang bukan sekadar memberikan pelatihan, melainkan membangun kapasitas pelaku UMKM agar mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
“Kami ingin para pelaku UMKM tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas. Pendampingan yang intensif harus mampu mengubah cara berpikir pelaku usaha, memperkuat tata kelola bisnis, memanfaatkan teknologi digital, hingga membuka akses terhadap pasar dan pembiayaan. Ketika kapasitas pelaku usaha meningkat, maka omzet dan daya saingnya juga akan ikut tumbuh,” kata Sandiaga, Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Salah satu peserta program yakni Dwi Komalasari dengan usahanya Nain Toe Sik Catering yang dirintis sejak 2018 itu berhasil mencatatkan peningkatan signifikan dengan omset bulanan mencapai Rp20 juta dari sebelumnya Rp10 juta.
Dwi mengatakan sebelum mengikuti pendampingan, ia menjalankan usaha berdasarkan pengalaman tanpa memiliki perencanaan bisnis yang terstruktur.
Berbagai instrumen pengembangan usaha seperti Business Model Canvas (BMC), audit usaha, growth planning, hingga pemanfaatan AI untuk promosi masih asing baginya.
Selama mengikuti inkubasi, ia memperoleh pendampingan mengenai penyusunan model bisnis, penyusunan SOP, penerapan prinsip Kaizen dalam proses produksi, legalitas usaha, pencatatan keuangan, audit bisnis, hingga penggunaan ChatGPT dan teknologi AI untuk membuat materi promosi.
“Ilmu yang saya peroleh tidak berhenti di teori, tetapi langsung saya terapkan dalam usaha. Operasional menjadi lebih tertata, saya lebih percaya diri mengambil keputusan, lebih berani berinovasi, dan Alhamdulillah omzet usaha terus meningkat,” ujar Dwi.
Keberhasilan serupa diraih ByNiNe, usaha kuliner milik Vemmy Magdaliena, yang meningkatkan omzet dari Rp6 juta menjadi Rp10 juta per bulan.
Vemmy mengaku sebelum mengikuti inkubasi, usahanya masih dikelola secara konvensional. Pencatatan keuangan dilakukan secara manual, strategi pemasaran digital belum optimal, serta pemahaman mengenai legalitas usaha dan akses pembiayaan masih terbatas.
Melalui pendampingan, ia mulai mampu menyusun Business Model Canvas, memperbaiki operasional usaha, menerapkan digitalisasi pencatatan keuangan, memanfaatkan pemasaran digital untuk memperluas pasar, hingga melakukan evaluasi bisnis secara lebih sistematis.
“Program ini tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri saya sebagai pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional, terstruktur, dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Indah Purnamasari, pemilik Ninu Culinary, juga mencatat peningkatan omzet dari Rp7 juta menjadi Rp9 juta setelah mengikuti program inkubasi.
Pelaku usaha kuliner yang memulai bisnisnya sejak 2016 itu mengaku sebelumnya belum memiliki visi bisnis jangka panjang, pencatatan keuangan belum tertata, dan inovasi produk masih terbatas.
Pendampingan yang diterimanya mendorong perubahan cara mengelola usaha, mulai dari menyusun strategi pengembangan produk, membangun sistem pencatatan keuangan yang lebih rapi, hingga membuka diri terhadap inovasi dan kolaborasi dengan pelaku UMKM lainnya.(raa)
Load more