Troya Pernah Dianggap Sekadar Dongeng, hingga Seorang Saudagar Menggalinya Berbekal Puisi Homer
- Warner Bros. Pictures
Jakarta, tvOnenews.com - Selama berabad-abad, kota Troya hanya dikenal sebagai latar dalam The Iliad, epos karya penyair Yunani kuno Homer yang diperkirakan ditulis sekitar abad ke-8 SM.
Banyak cendekiawan pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 menganggap kisah Perang Troya hanyalah legenda tanpa dasar sejarah, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kajian sejarah klasik oleh Encyclopaedia Britannica dan UNESCO.
Pandangan tersebut mulai berubah pada akhir abad ke-19 ketika seorang saudagar kaya asal Jerman bernama Heinrich Schliemann memutuskan mencari kota Troya.
Berbekal keyakinan bahwa deskripsi geografis dalam puisi Homer mengandung petunjuk nyata, Schliemann melakukan penggalian di bukit Hisarlık, wilayah Çanakkale, Turki barat laut, yang kini diakui sebagai lokasi kota kuno Troya oleh UNESCO.
Terobsesi membuktikan kisah Homer
Heinrich Schliemann lahir pada 1822 di Jerman dan mengumpulkan kekayaan melalui bisnis perdagangan internasional. Setelah pensiun pada usia relatif muda, ia mengabdikan hidupnya untuk arkeologi meski tidak memiliki pendidikan formal di bidang tersebut.
- World History Encyclopedia
Menurut Encyclopaedia Britannica, Schliemann sejak kecil telah terpesona oleh kisah-kisah Homer dan bercita-cita membuktikan bahwa Troya benar-benar pernah ada.
Saat itu, sebagian besar akademisi Eropa masih memandang The Iliad sebagai karya sastra, bukan catatan sejarah. Namun Schliemann berpendapat bahwa Homer mendeskripsikan lokasi-lokasi geografis secara cukup rinci sehingga memungkinkan untuk ditelusuri di dunia nyata.
Ia mempelajari The Iliad secara mendalam sebelum melakukan perjalanan ke Yunani dan wilayah Kekaisaran Ottoman untuk mencocokkan deskripsi dalam puisi tersebut dengan kondisi geografis sebenarnya.
Bukan orang pertama yang menemukan lokasi Troya
Meski sering disebut sebagai penemu Troya, sejarah menunjukkan bahwa Schliemann bukan orang pertama yang mengidentifikasi lokasi kota tersebut.
Menurut UNESCO dan Encyclopaedia Britannica, seorang diplomat Inggris sekaligus arkeolog amatir bernama Frank Calvert telah lebih dahulu meyakini bahwa bukit Hisarlık merupakan lokasi Troya kuno.
Calvert bahkan membeli sebagian lahan di kawasan tersebut dan melakukan penggalian awal, tetapi keterbatasan dana membuat penelitiannya tidak berkembang.
Schliemann kemudian bekerja sama dengan Calvert dan memulai penggalian berskala besar pada 1870. Dari sinilah dunia mulai mengetahui bahwa bukit Hisarlık menyimpan sisa-sisa beberapa kota yang dibangun secara bertumpuk selama ribuan tahun.
Penemuan yang mengubah sejarah arkeologi
Penggalian Schliemann menghasilkan temuan spektakuler berupa tembok kota, gerbang, bangunan kuno, hingga ribuan artefak.
Pada 1873, Schliemann mengumumkan penemuan kumpulan emas, perhiasan, serta berbagai benda berharga yang ia sebut sebagai Priam's Treasure atau Harta Karun Raja Priam, tokoh dalam The Iliad.
Namun penelitian arkeologi modern menunjukkan bahwa harta tersebut berasal dari lapisan kota yang jauh lebih tua dibanding periode yang diduga menjadi latar Perang Troya, sebagaimana dijelaskan oleh Encyclopaedia Britannica. Menunjukkan bahwa tidak lokasi tersebut seperti kota yang hancur namun dibangun lagi beberapa kali (Troy I-IX)
Metode penggaliannya juga menuai kritik. Demi mencapai lapisan yang ia yakini sebagai kota Troya milik Homer, Schliemann menggali parit besar yang justru merusak sejumlah lapisan arkeologi di atasnya. Menurut UNESCO, tindakan tersebut menyebabkan sebagian bukti penting dari periode berikutnya hilang sebelum sempat dipelajari.
Benarkah Perang Troya pernah terjadi?
Saat ini, mayoritas arkeolog sepakat bahwa Hisarlık memang merupakan lokasi kota Troya kuno. Pengakuan tersebut diperkuat ketika UNESCO menetapkan Archaeological Site of Troy sebagai Situs Warisan Dunia pada 1998 karena menjadi bukti penting perkembangan peradaban Anatolia selama lebih dari 4.000 tahun.
Namun keberadaan kota Troya tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kisah dalam The Iliad benar-benar terjadi.
Menurut kajian arkeologi yang dipublikasikan UNESCO serta penelitian sejumlah ahli Zaman Perunggu, lapisan kota Troy VI dan terutama Troy VIIa menunjukkan adanya kehancuran akibat perang atau bencana sekitar abad ke-13 hingga ke-12 SM. Periode tersebut dinilai paling mendekati waktu yang secara tradisional dikaitkan dengan Perang Troya.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti arkeologis yang mampu memastikan keberadaan Kuda Troya, Achilles, Hector, maupun Odysseus sebagai tokoh sejarah. Banyak sejarawan berpendapat bahwa kisah Homer kemungkinan merupakan perpaduan antara peristiwa nyata, tradisi lisan, dan unsur mitologi yang berkembang selama berabad-abad.
Terlepas dari berbagai perdebatan, penggalian Schliemann berhasil mengubah cara dunia memandang karya Homer.
Jika sebelumnya The Iliad dianggap sekadar cerita rakyat, penemuan di Hisarlık membuktikan bahwa kota yang menjadi latar kisah tersebut memang pernah berdiri. Sejak saat itu, Troya menjadi salah satu situs arkeologi paling penting di dunia dan terus menjadi objek penelitian hingga sekarang.
Popularitasnya pun tidak pernah surut. Kisah Perang Troya telah diadaptasi ke berbagai medium, mulai dari film Troy (2004) hingga The Odyssey karya Christopher Nolan, yang kembali memperkenalkan legenda Homer kepada generasi baru.
Load more