Paradox of Choice, Fenomena Psikologi yang Bikin Orang Lama Pilih Film tapi Tak Jadi Nonton
- Magnific/stockking
Jakarta, tvOnenews.com – Pernahkah membuka Netflix, Disney+, atau platform streaming lainnya dengan niat menonton film, tetapi setelah 30 menit hanya sibuk scrolling lalu menutup aplikasinya tanpa memilih satu film pun?
Ternyata fenomena tersebut ternyata bukan sekadar kebiasaan buruk atau malas. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai paradox of choice atau paradoks pilihan,yaitu fenomena ketika terlalu banyak pilihan yang membuat seseorang lebih sulit mengambil keputusan.
Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Amerika Barry Schwartz melalui bukunya The Paradox of Choice: Why More Is Less yang terbit pada 2004.
Schwartz berpendapat bahwa kebebasan memilih memang penting, tetapi ketika jumlah pilihan menjadi terlalu banyak, manfaatnya justru berubah menjadi beban psikologis.
Alih-alih merasa lebih bebas, seseorang bisa mengalami kebingungan, stres, menunda keputusan, hingga merasa kurang puas dengan pilihan yang akhirnya diambil.
Meski istilah paradox of choice dipopulerkan Schwartz, gagasan ini berakar dari penelitian psikologi yang lebih awal.
Salah satu studi paling terkenal dilakukan oleh psikolog Sheena Iyengar dari Columbia University dan Mark Lepper dari Stanford University pada tahun 2000. Penelitian yang dikenal sebagai Jam Experiment ini dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology.
Dalam eksperimen tersebut, pengunjung sebuah supermarket dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dihadapkan pada 24 varian selai, sedangkan kelompok kedua hanya melihat enam varian.
Hasilnya cukup mengejutkan. Stan yang menawarkan 24 pilihan memang berhasil menarik lebih banyak pengunjung.
Namun, pelanggan yang hanya melihat enam pilihan justru jauh lebih mungkin membeli selai dibandingkan mereka yang dihadapkan pada puluhan pilihan.
Temuan ini menjadi salah satu bukti awal bahwa terlalu banyak pilihan dapat menghambat pengambilan keputusan.
Meski demikian, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa efek tersebut tidak selalu muncul dalam semua situasi.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Psychology pada 2015 menyimpulkan bahwa efek terlalu banyak pilihan sangat bergantung pada konteks, tingkat kesulitan keputusan, serta bagaimana pilihan-pilihan tersebut disajikan.
Nah ketika kita ingin menonton film, mengapa memilihnya saha terasa begitu sulit? Fenomena ini pun justru semakin sering terjadi di era layanan streaming yang menawarkan ribuan judul film dan serial.
Load more