Review Spider-Man: Brand New Day, Mampukah Peter Parker Mengakhiri Fenomena Superhero Fatigue?
- Sony/Columbia
Jakarta, tvOnenews.com - Empat tahun setelah peristiwa Spider-Man: No Way Home, Peter Parker menjalani hidup yang benar-benar baru. Tak ada lagi yang mengingat dirinya. MJ, Ned, bahkan dunia telah melupakan siapa Peter Parker demi menyelamatkan realitas.
Kini ia hidup sendirian di New York, bekerja, berpatroli sebagai Spider-Man, dan mencoba menerima bahwa orang-orang yang paling ia cintai tidak lagi mengenalnya. Kesepian menjadi harga yang harus ia bayar atas keputusan yang pernah ia ambil.
Di tengah upayanya membangun kembali hidupnya, ancaman baru muncul dan menyeret Peter ke dalam konspirasi yang jauh lebih rumit.
Peter dipaksa menghadapi musuh yang bukan hanya menguji kemampuan fisiknya sebagai Spider-Man, tetapi juga identitasnya sebagai Peter Parker.
Bersamaan dengan itu, kehadiran sejumlah karakter baru dan lama membuat Peter kembali mempertanyakan apakah ia bisa menjalani kehidupan normal, atau memang ditakdirkan untuk terus berkorban demi orang lain.
Spider-Man dan Superhero Fatigue
Selama beberapa tahun terakhir, Marvel Studios terus menghadapi kritik soal superhero fatigue. Superhero Fatigue merupakan anggapan bahwa film-film pahlawan super mulai membosankan karena terasa repetitif, terlalu bergantung pada CGI, multiverse, dan fan service.
Di tengah keraguan itu, Spider-Man: Brand New Day datang membawa pertanyaan besar, apakah publik benar-benar lelah dengan film superhero, atau mereka hanya merindukan cerita yang kembali berpusat pada manusia di balik superhero tersebut?
Disutradarai Destin Daniel Cretton (Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings), film keempat Spider-Man versi Tom Holland ini tidak mencoba menjadi lebih besar dari No Way Home.
Sebaliknya, Cretton justru memilih langkah yang lebih berani yaitu menjadikan emosi Peter Parker kembali menjadi fokus utama film.
Hasilnya adalah sebuah film yang lebih personal, lebih dewasa, sekaligus menjadi pengingat mengapa Spider-Man selalu menjadi wajah pahlawan paling dicintai Marvel.
Bisa dibilang Spider-Man: Brand New Day merupakan film Spider-Man terbaik Tom Holland dan bukti bahwa masalahnya bukan superhero fatigue, melainkan kelelahan terhadap film superhero yang kehilangan arah tanpa melihat sosok di balik topeng superhero tersebut.
Hal paling menarik dari Brand New Day adalah keberaniannya meninggalkan formula yang selama beberapa tahun mendominasi Marvel.
Setelah era multiverse yang semakin kompleks, film ini memilih kembali ke akar Spider-Man: seorang anak muda yang berusaha bertahan hidup di kota New York sambil memikul beban yang terlalu besar untuk usianya.
Keputusan tersebut membuat film terasa jauh lebih membumi dibanding banyak proyek MCU belakangan ini.
Film ini juga memahami bahwa kekuatan terbesar Spider-Man bukan berasal dari kostum, melainkan dari Peter Parker sendiri.
Penonton diajak melihat Peter sebagai manusia yang kesepian, kehilangan, dan terus mempertanyakan apakah semua pengorbanannya benar-benar berarti.
Kesedihan akibat dilupakan MJ dan Ned menjadi fondasi emosional yang membuat setiap aksi terasa memiliki konsekuensi. Ketika ia bertarung, yang dipertaruhkan bukan sekadar keselamatan kota, tetapi juga sisa-sisa kehidupan pribadi yang masih ia miliki.
Tom Holland memberikan penampilan paling matang sepanjang memerankan Spider-Man. Peter Parker kali ini tidak lagi terasa seperti remaja yang kebetulan memiliki kekuatan super, melainkan seorang pria dewasa muda yang dipaksa menerima bahwa menjadi pahlawan berarti hidup dalam kesendirian.
Performa Tom Holland patut dipuji karena mampu menghadirkan sisi emosional yang selama ini hanya sesekali muncul di film-film sebelumnya.
Destin Daniel Cretton juga berhasil mengembalikan rasa vigilante sederhana yang selama ini melekat pada Spider-Man.
New York kembali terasa hidup sebagai rumah Peter Parker, bukan sekadar latar CGI untuk pertarungan super besar.
Koreografi aksinya lebih dinamis dan hubungan Peter dengan karakter-karakter di sekitarnya menjadi pusat cerita, bukan sekadar jembatan menuju film Marvel berikutnya.
Apakah Spider-Man: Brand New Day berhasil mengobati superhero fatigue? Jawabannya bisa iya. Bukan karena formula baru, melainkan karena ia berani mengingat kembali formula lama yang selama ini terlupakan.
Film ini tidak berusaha menjadi film MCU terbaik. Sederhananya, film ini hanya ingin menjadi film Spider-Man yang baik bagi para penggemarnya. Fokus film ini ada pada karakternya, bukan pada cameo dan juga CGI yang eksplosif.
Meski begitu, tentu film ini pun masih memberi ruang untuk kritik. Alur yang diceritakan masih terlalu padat.
Babak akhir pada film pun masih terasa terlalu sibuk karena harus mengakomodasi banyak karakter secara bersamaan.
Namun kelemahan tersebut tidak sampai menghilangkan kekuatan emosional yang menjadi napas utama film.
Spider-Man: Brand New Day pun sedikit banyak cukup memberikan jawaban yang cukup jelas terhadap perdebatan soal superhero fatigue.
Penonton sebenarnya tidak lelah dengan superhero. Mereka hanya lelah pada film yang melupakan bahwa di balik kostum, selalu ada manusia dengan ketakutan, kehilangan, dan harapan yang membuatnya layak didukung dan diperjuangkan.
Load more