Laba Tembus Rp1,69 Triliun, Strategi Bisnis Adaptif Jadi Penopang Kinerja Askrindo
- Unsplash/Nicholas Cappello
Jakarta, tvOnenews.com - PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo membukukan laba setelah pajak konsolidasi sebesar Rp1,69 triliun sepanjang 2025.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, serta penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin di tengah dinamika industri asuransi nasional.
Selain membukukan laba yang meningkat, anggota holding Indonesia Financial Group (IFG) itu juga mencatat total aset mencapai Rp31 triliun.
Menurut perusahaan, pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kualitas portofolio bisnis, pertumbuhan premi, serta strategi bisnis yang lebih selektif dalam mengelola risiko.
Capaian tersebut menunjukkan tren positif industri asuransi kredit yang mulai beradaptasi dengan tantangan ekonomi melalui penguatan tata kelola (governance), efisiensi operasional, serta penerapan standar akuntansi yang lebih transparan.
Direktur Utama Askrindo M. Fankar Umran mengatakan kinerja perusahaan pada 2025 merupakan hasil transformasi yang dilakukan secara berkelanjutan dengan mengedepankan pertumbuhan yang sehat dibanding sekadar mengejar volume bisnis.
"Capaian positif sepanjang tahun 2025 ini mempertegas komitmen Askrindo untuk terus tumbuh secara sehat dan berkualitas. Askrindo hadir menghubungkan kekuatan UMKM dan proyek strategis nasional, sekaligus mentransformasikan risiko menjadi penggerak pertumbuhan dan pilar ketahanan ekonomi Indonesia," ujar Fankar.
Dalam menjalankan strategi bisnisnya, Askrindo memfokuskan pengembangan usaha pada tiga sektor utama, yakni mendukung pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mendukung pembiayaan Proyek Strategis Nasional (PSN), serta memperluas perlindungan melalui produk asuransi mikro bagi masyarakat.
Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki peran penting dalam menjaga aktivitas ekonomi nasional sekaligus memperluas akses perlindungan bagi pelaku usaha maupun masyarakat.
Menurut perusahaan, strategi tersebut juga diimbangi dengan peningkatan kualitas proses underwriting atau penilaian risiko sehingga pertumbuhan bisnis tetap berada pada tingkat yang sehat.
Selain ekspansi bisnis, perusahaan menilai penguatan tata kelola (Good Corporate Governance/GCG) menjadi salah satu faktor utama yang menopang peningkatan kinerja sepanjang 2025.
Askrindo menyebut telah memperkuat aspek Governance, Risk, and Compliance (GRC) melalui penurunan profil risiko perusahaan, peningkatan budaya sadar risiko (risk awareness), serta penerapan pengawasan yang lebih disiplin di seluruh organisasi.
Perusahaan juga mulai menerapkan PSAK 117, yaitu standar akuntansi baru yang mengatur pelaporan kontrak asuransi agar lebih transparan dan selaras dengan praktik internasional.
Standar tersebut menggantikan metode pencatatan sebelumnya sehingga laporan keuangan perusahaan asuransi diharapkan menjadi lebih akurat dan mudah dibandingkan.
Penguatan tata kelola tersebut diperkuat dengan opini audit Wajar Tanpa Modifikasian (WTM) dari RSM Indonesia yang diterbitkan pada 19 Juni 2026.
Laba Lampaui Target Internal
Selain mencatat pertumbuhan laba, Askrindo menyebut realisasi laba setelah pajak sepanjang 2025 mencapai sekitar 328 persen dari target internal yang telah ditetapkan perusahaan.
Menurut Fankar, pencapaian tersebut bukan hanya mencerminkan keberhasilan dari sisi finansial, tetapi juga menunjukkan pentingnya tata kelola perusahaan yang konsisten dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
"Askrindo menegakkan tata kelola ini secara konsisten, termasuk melalui penerapan reward dan punishment yang tegas, karena disiplin dan akuntabilitas adalah syarat mutlak pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertumbuhan berkualitas adalah hasil dari tata kelola yang kuat. Ini bukan hanya tentang angka laba, tapi bukti nyata bahwa governance yang solid dan transparansi adalah fondasi kepercayaan stakeholder serta kontribusi nyata bagi stabilitas ekonomi nasional," kata Fankar.
Ke depan, Askrindo menyatakan akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan kualitas manajemen risiko, kolaborasi dengan sektor perbankan dan berbagai instansi, serta pengembangan layanan yang lebih cepat dan akurat.
Perusahaan juga akan memperluas perlindungan bagi pelaku UMKM melalui berbagai produk asuransi mikro serta meningkatkan kualitas proses penjaminan kredit dan penilaian risiko.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan perusahaan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Load more