Tiga Film Pendek Indonesia Angkat Toxic Masculinity hingga Kekerasan Seksual di Festival Dunia
- Isimewa
Co-Director Playvul NYRA, Nadina Habsjah, mengatakan film pendek memberikan ruang bagi kreator untuk menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton.
“Medium ini memungkinkan kami menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton. Melihat semakin banyaknya film pendek Indonesia yang mendapat tempat di festival internasional, kami percaya ada ruang yang semakin besar bagi cerita-cerita yang berani dan relevan untuk didengar di tingkat global,” ujar Nadina.
Co-Director Playvul NYRA lainnya, Yusgunawan Marto, mengatakan setiap karya yang dibuat berangkat dari keresahan nyata yang kemudian diterjemahkan ke dalam cerita tanpa memberikan jawaban yang serba hitam dan putih.
“Kami percaya film pendek memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide yang belum memiliki ruang di medium lain. Karena itu, setiap karya yang kami buat selalu berangkat dari keresahan yang nyata, lalu diterjemahkan menjadi cerita yang mengajak penonton memahami kompleksitas manusia, alih-alih memberikan jawaban yang hitam-putih,” kata Yusgunawan.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kekerasan seksual dan persoalan consent. Penulis Ambang Batas, Amanda Simandjuntak, mengatakan proses mengangkat tema tersebut membutuhkan riset dan diskusi yang panjang agar cerita tidak terasa menghakimi korban maupun penonton.
“Menulis cerita tentang consent dan kekerasan seksual bukan hal yang mudah. Saya ingin penonton merasa dipahami, bukan dihakimi, sehingga proses riset dan diskusi panjang bersama tim menjadi fondasi penting agar cerita ini terasa jujur dan dekat dengan realitas banyak orang,” ujar Amanda.
Pilihan untuk mengembangkan film pendek juga tidak terlepas dari semakin terbukanya peluang bagi karya Indonesia untuk masuk ke sirkuit festival internasional.
Berdasarkan riset Cinema Poetica, jumlah film Indonesia yang diputar di festival internasional meningkat dari 73 judul pada 2023 menjadi 126 judul pada 2025. Film-film tersebut tersebar di 91 festival di 36 negara.
Dari 48 penghargaan internasional yang diraih film Indonesia dalam periode tersebut, sebanyak 23 penghargaan diberikan kepada film fiksi pendek. Angka tersebut menjadikan kategori film fiksi pendek sebagai kategori dengan jumlah penghargaan internasional tertinggi.
Load more