Nahas! Bambang Hendak Buka Usaha Teh Solo, Malah Tewas dalam Kerusuhan Pejompongan
- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Jakarta, tvOnenews.com - Sebelum meninggal dunia dalam kerusuhan aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Bambang Setiawan (60) ternyata tengah menyiapkan usaha baru untuk menambah penghasilan keluarga.
Bambang berencana membuka usaha minuman dingin Teh Solo. Sejumlah perlengkapan bahkan telah dibelinya. Namun, rencana tersebut batal terwujud setelah Bambang menjadi salah satu korban dalam kerusuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan pada malam 27 Agustus 2026.
Hal itu diungkapkan anak Bambang, Wisnu (35), saat diwawancarai tvOnenews.com di kawasan Penjompongan Raya, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Wisnu mengatakan, rencana tersebut pertama kali diketahuinya dari sang ibu Sudarsi (56). Bambang memang diketahui sedang mengalami kendala karena telepon selulernya rusak.
“Jadi aku dapat kabar itu dari Ibu (rencana jualan Teh Solo), karena Bapak memang ya yang kita ketahui handphone-nya lagi rusak,” kata Wisnu mengawali cerita.
Menurut Wisnu, Bambang sebenarnya telah mempersiapkan usaha tersebut dengan cukup serius. Selain uang yang telah dikumpulkan, beberapa kebutuhan untuk berjualan juga sudah dibeli.
“Bapak ada rencana hari Jumat itu pada tanggal kematiannya beliau tanggal 28 (Agustus 2026), dia mau buka usaha selain toko kaca itu, mungkin dia sudah ngumpulin uang, sudah ada uangnya sudah beli beberapa barang, bahkan termos es semuanya sudah dibeli tinggal mesin press,” ungkapnya.
Rencana membuka usaha minuman itu muncul setelah usaha toko kaca yang selama ini dijalankan Bambang mengalami masa sulit. Wisnu menyebut, dalam sekitar tiga bulan terakhir, kondisi usaha tersebut sepi dan nyaris tidak memberikan pemasukan.
Bambang kemudian mencoba mencari alternatif sumber penghasilan dengan menjajakan minuman dingin di depan toko cerminnya.
“Dia ada rencana buat buka Teh Solo gitu, minumanlah ibaratnya kopi, teh, atau apa pun. Ya mungkin dengan pengalaman beliau tiga bulan ke belakang yang sepi nih enggak ada pemasukan, mungkin ya sudah coba eh berjualan yang lain gitu buat alternatif mencari solusi yang lain gitu kayak gitu,” ujar Wisnu.
Bagi Bambang dan istrinya, usaha minuman dinilai memiliki peluang karena menyasar kebutuhan sehari-hari masyarakat. Persiapannya pun sudah berjalan, termasuk berdiskusi dengan Wisnu yang sehari-hari bekerja di bidang minuman.
“Karena kan manusia enggak ada yang bisa tahan haus, harus itu kebutuhan khusus dan itu rencana dari Bapak sama Ibu sudah ya sudah belanja sudah nanya sama aku, aku juga kan kerjaanku sehari-hari buat minuman, nanya ‘Nanti bantuin ya bikin minuman bikin apa saja.’ gitu sih,” jelas dia.
Namun, rencana sederhana untuk kembali menghidupkan roda ekonomi keluarga itu kini tinggal kenangan.
Bambang diketahui menjadi salah satu korban dalam kerusuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan pada malam setelah demonstrasi pada 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR/MPR RI.
Polisi masih menyelidiki kematian Bambang yang diduga menjadi korban pengeroyokan. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya masih mengumpulkan fakta-fakta hukum dari lokasi kejadian.
“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.
Polisi sebelumnya menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di kawasan tersebut. Namun, proses evakuasi tidak dapat langsung dilakukan lantaran kondisi di lapangan masih belum kondusif.
“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” katanya.
Bambang kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Mintohardjo. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia. Jenazah Bambang selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi. (agr/aag)
Load more