Gandeng UNESCO, Dewan Pers Gelar Konferensi Nasional Perkuat Kebebasan dan Kompetensi Pers Mahasiswa
- dewanpers.or.id
Jakarta, tvOnenews.com - Dewan Pers, berkolaborasi dengan UNESCO, menyelenggarakan Konferensi Nasional bertajuk Peningkatan Kapasitas dan Perlindungan Pers Mahasiswa.
Agenda ini berlangsung di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/8).
Acara ini mempertemukan 51 peserta yang terdiri dari 33 delegasi lembaga pers mahasiswa (persma) dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain mahasiswa, hadir pula perwakilan dari berbagai institusi dan organisasi profesi, seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), LPSK, LBH Pers, serta organisasi jurnalis seperti PWI, AJI, IJTI, dan PFI.
Selama konferensi, para peserta mengikuti serangkaian sesi yang meliputi seminar, pelatihan literasi media dan informasi, serta diskusi strategis.
Fokus utamanya adalah mengidentifikasi kendala yang dialami persma saat ini sekaligus menyusun rekomendasi konkret demi memperkuat kompetensi dan perlindungan kebebasan pers di lingkungan kampus.
Ketua Dewan Pers, Prof. Komarudin Hidayat, dalam pidatonya memotivasi para aktivis persma untuk terus mengasah potensi diri.
Menurutnya, keunggulan jurnalis mahasiswa terletak pada kemampuan berpikir komparatif serta penerapan prinsip cover both sides yang membuat mereka tidak mudah terpengaruh oleh satu sudut pandang saja.
"Karena aktivis pers mahasiswa terbiasa melakukan analisis dari berbagai sumber," ujarnya.
Lebih lanjut, Komarudin menekankan bahwa pengalaman di persma memberikan keterampilan penting dalam mengelola informasi dan cara berpikir yang sistematis.
Ia berharap para aktivis persma melihat konferensi ini sebagai pintu menuju peran yang lebih besar di masa depan.
"Jadikan (konferensi) ini kesempatan dan peluang. Karena Anda kelak akan jadi calon penulis, pengamat, dan pemikir bangsa. Bukan sekedar pengrajin berita," katanya.
Komitmen Dewan Pers terhadap Pers Mahasiswa
Sesi seminar diisi oleh pembicara dari berbagai lembaga, yaitu: Totok Suryanto (Wakil Ketua Dewan Pers), Prof. Garuda Wiko (Ketua Forum Rektor Indonesia), dan Neni Herlina (Ketua Tim Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi).
Totok Suryanto, dalam pemaparannya, menegaskan pentingnya peran pers mahasiswa bagi proses kaderisasi dan pengembangan pers nasional sehingga perlu dilindungi, termasuk kebebasannya. Ia menyerukan agar pimpinan perguruan tinggi menghormati independensi editorial persma, dan harus melihat kritiknya sebagai bagian dari dialektika ilmiah.
Load more