Peringatan untuk Warga, BMKG Sebut Kualitas Udara Memburuk di Bengkulu
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com- Kabar terbaru soal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia, sejumlah daerah juga mengalami seperti Bengkulu. Kualitas udara pun kian memburuk.
Hal tersebut dijelaskan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan kualitas udara di Kota Bengkulu cenderung memburuk pada pagi hari. Akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Dengan kondisi tersebut, BMKG menegaskan kondisi memburuk kualitas udara Bengkulu pada pagi hari berkaitan dengan karhutla di sejumlah wilayah, tidak hanya di Bengkulu.
- Ilustrated by ChatGPT
"Kalau di BMKG kita langsung mengeluarkan parameternya dari PM2,5, particulate matter 2,5. Justru di pagi hari jam enam sampai jam tujuh itu kualitas udara di Bengkulu menurun di kota, mencapai sangat tidak sehat," kata Kepala BMKG Bengkulu Luhur Tri Uji Prayitno di Bengkulu, dalam antara.
Kondisi buruknya kualitas udara, lanjut dia, juga tidak sepanjang waktu, terjadi hanya pagi hari. Artinya ada kabut asap terdorong ke wilayah Bengkulu akibat pergerakan angin.
"Saya tidak spesifik dari (provinsi) mana (asal asap), tapi itu yang jelas bukan dari wilayah Bengkulu, karena asapnya di pagi hari dan di siang hari sudah menurun menjadi bagus kualitasnya," ucap Luhur.
Namun dia menjelaskan kualitas udara membaik sekitar pukul 10.00 WIB hingga sore hari. Warga sekitar pun perlu memperhatikan hal tersebut.
"Kualitas udara kita berfluktuasi, biasanya jam 6-7 itu sangat tidak sehat dan kemudian terus membaik di jam 10 sampai sore hari," ujarnya.
Sehubungan dengan ini, ada dampak nyata yang bakal dihadapi masyarakat. Terutama warga sekitar wilayah terjadi Karhutla.
Dampak kesehatan yang muncul seperti. infeksi Saluran Pernapasan (ISPA). Kabut asap memicu lonjakan batuk, sesak napas, dan penyakit paru.
Lalu adanya iritasi. Polusi udara menyebabkan mata, hidung, dan kulit perih. Hingga bisa sebabkan penyakit kronis atau memperparah asma dan risiko gangguan jantung.
Data Dinkes Wilayah Lain
Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, Sumatera Selatan menyampaikam data selama periode Agustus 2026 menangani sebanyak 15.020 kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap.
Dalam keterangannya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, Fenty Aprina di Palembang, Jumat mengatakan bahwa dampak kabut asap mulai terasa pada sektor kesehatan dengan banyaknya kemunculan kasus ISPA.
"Selama satu bulan periode Agustus 2026 tercatat sebanyak 15.020 kasus ISPA yang muncul di Kota Palembang," katanya.
Dia mengatakan, selama periode tersebut kualitas udara di Kota Palembang berada di level tidak sehat hingga banyak masyarakat yang terjangkit ISPA.(klw)
Load more