Viral, Bos "Sound Horeg" Minta Maaf Usai Sebut MUI Jatim Goblok di TV Nasional
- Antara / tvOne
tvOnenews.com - Bos sound horeg Aeromax, Setyo Budi Mularso, mendadak menjadi sorotan setelah pernyataannya dalam sebuah acara televisi nasional viral di media sosial.
Saat membahas polemik aturan dan pembatasan volume sound horeg, Setyo melontarkan kritik keras terhadap sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena Setyo menggunakan kata “goblok” ketika mengomentari MUI Jawa Timur. Ucapan itu disampaikan dalam acara Catatan Demokrasi tvOne dan bahkan dilontarkan di hadapan Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur, Ma’ruf Khozin.
Potongan video pernyataan bos sound horeg tersebut kemudian beredar luas dan memicu beragam reaksi dari masyarakat maupun warganet. Setelah mendapat kritik, Setyo akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada MUI dan pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataannya.
Bos Sound Horeg Sebut MUI Jatim “Goblok” Saat Live TV
Peristiwa tersebut bermula ketika moderator Catatan Demokrasi memberikan kesempatan kepada Setyo untuk menyampaikan pandangannya mengenai fatwa atau sikap MUI Jawa Timur terkait sound horeg.
Dalam kesempatan itu, Setyo menyampaikan kritik dengan bahasa yang kemudian menjadi kontroversi.
“MUI Jawa Timur itu bagi saya sendiri, itu sebuah kegoblokan MUI-nya sendiri. Kenapa? Karena MUI itu harusnya menjaga. Ini anak-anaknya loh. Saya tuh orang Jawa Tengah, saya menghormati. Saya menghormati dan saya cinta teman-teman Jawa Timur, tapi kegoblokannya MUI ini malah justru dipertontonkan seluruh Indonesia,” jelas Setyo.
Moderator kemudian langsung mengingatkan Setyo agar menggunakan bahasa yang lebih santun mengingat acara tersebut sedang disiarkan secara langsung di televisi nasional.
“Bisa saya minta tolong menggunakan diksi yang lebih santun karena kita sedang live di TV nasional,” tegur moderator.
Setyo kemudian melanjutkan pandangannya dengan mengatakan bahwa MUI Jawa Timur seharusnya melakukan pembenahan dalam menyikapi persoalan sound horeg.
“Iya, jadi MUI Jawa Timur ini harusnya, karena kan harusnya menata diri, kasihan toh. Itu anak-anaknya beliau juga (pelaku usaha sound horeg), bukan anak liar,” tambahnya.
Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim Beri Tanggapan
Setelah Setyo menyampaikan pendapatnya, moderator memberikan kesempatan kepada Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur, Ma’ruf Khozin, untuk memberikan tanggapan.
Ma’ruf memilih merespons pernyataan tersebut dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang berada di dalam struktur MUI melalui proses dan berasal dari organisasi Islam.
“Kemudian, terkait dengan tuduhan kalau kami di MUI misalnya adalah dengan cara bahasa beliau tadi (digoblokan), mohon maaf, kami ini kemudian bukan masuk dengan tiba-tiba masuk, tapi ada seleksinya. Kami diambil dari organisasi Islam, tidak sembarangan orang kemudian berada di sana,” ungkap Ma’ruf.
Ia juga menjelaskan bahwa sikap MUI dalam persoalan sound horeg dimaksudkan sebagai bentuk menjaga masyarakat. Ia kemudian memberikan perumpamaan mengenai polisi yang menghentikan pengendara motor karena tidak menggunakan helm.
“Kami justru, ya, justru yang kami lakukan dari MUI ini adalah menjaga. Ibarat ada seorang polisi, ya, ada di kepolisian, lalu kemudian ada orang naik motor tidak pakai helm, oleh polisi dihentikan, itu adalah bagian kecintaan dia terhadap masyarakat supaya kalau ada apa-apa dia tidak sampai terjerumus kepada hal-hal yang berat. Memang seperti biasa, bagi saya kami dituduh seperti itu biasa,” tambahnya.
Menariknya, Ma’ruf mengaku tidak mempermasalahkan ucapan Setyo tersebut. Setelah acara selesai, keduanya bahkan sempat berfoto bersama.
“Ya tidak masalah, kami selalu belajar dan belajar. Setelah acara itu sudah foto bersama,” jelas Ma’ruf.
Bos Sound Horeg Aeromax Akhirnya Minta Maaf
Setelah pernyataannya viral dan menuai kritik, Setyo akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video. Permintaan maaf tersebut disampaikan pada Rabu, 9 September 2026, dari kediaman Ketua MUI Kabupaten Karanganyar, Badaruddin.
“Saya Setyo Budi Mularso. Pada hari ini Rabu, 9 September 2026, bertempat di rumah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Karanganyar, Bapak Doktor Badaruddin, menyatakan satu, saya sangat menyesal atas perkataan saya terhadap Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur pada saat acara di TV One,” ujar Setyo dalam video permintaan maafnya.
Ia kemudian meminta maaf kepada sejumlah jajaran MUI.
“Saya memohon maaf kepada Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur, MUI Jawa Tengah, MUI Pusat, dan MUI Kabupaten Karanganyar,” lanjutnya.
Setyo juga menegaskan dirinya menyesal dan berjanji tidak mengulangi perkataan tersebut.
“Saya menyesal atas perkataan yang saya sampaikan terhadap MUI Jawa Timur dan saya tidak akan mengulang perbuatan tersebut dan saya bertobat,” tambahnya.
Ketua MUI Karanganyar, Badaruddin, mengatakan dirinya telah memaafkan Setyo. Namun, ia berharap pernyataan serupa tidak kembali terjadi.
“Saya sebagai orang Islam memaafkan. Dengan meminta maaf kepada MUI Jatim, MUI Jateng, dan (MUI) Indonesia termasuk (MUI) Karanganyar, sudah saya maafkan. Jangan sampai itu terulang kembali,” kata Badaruddin.
Badaruddin juga menjelaskan bahwa persoalan sound horeg bukan semata-mata mengenai keberadaan perangkat suara, melainkan dampaknya terhadap ketenangan masyarakat dan norma yang berlaku.
“Kalau sound horeg digunakan untuk pengajian, yang positif, silakan. Tapi untuk nyanyi-nyanyi itu akibatnya ada membuka aurat, kemudian tidak sopan, menimbulkan miras, itu datanya ada, sehingga mestinya berhenti,” ucapnya.
Di tengah polemik tersebut, Setyo juga mengungkapkan bahwa bisnis sound horeg yang dijalaninya sebenarnya bukan sumber utama penghasilan. Ia menyebut aktivitas tersebut lebih banyak dilakukan karena hobi dan menjadi sarana berkumpul.
“Di sound ini tidak begitu efektif, dan signifikan untuk menambah pundi-pundi rezeki saya. Saya lebih ke hobi dan senang kumpul dengan saudara-saudara,” katanya.
Polemik ini pun berakhir dengan permintaan maaf dari bos sound horeg Aeromax dan respons terbuka dari pihak MUI. Perdebatan mengenai sound horeg sendiri masih menjadi persoalan yang mempertemukan kepentingan hiburan, aktivitas masyarakat, ketertiban, serta kenyamanan lingkungan. (udn)
Load more