Mengapa Sistem Pendingin Ruangan Gedung Tak Bisa Dipilih Sembarangan? Ini Kaitannya dengan Efisiensi Energi
- Gambar ilustrasi AI
Teknologi seperti ini dapat membantu mengoptimalkan konsumsi energi, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada desain sistem, kondisi bangunan, pengaturan suhu, pemeliharaan, dan kebiasaan pengguna.
Pengelola gedung juga perlu memperhatikan biaya sepanjang masa penggunaan perangkat, bukan hanya harga pembelian awal. Sistem yang dirancang sesuai kebutuhan dan dirawat dengan baik berpeluang mendukung operasional yang lebih efisien dalam jangka panjang.
Dengan demikian, efisiensi perlu dinilai melalui kinerja aktual, konsumsi energi, kenyamanan pengguna, dan biaya pemeliharaan.
Negara Maju Perkuat Standar dan Pengelolaan Energi Bangunan
Pengalaman negara maju menunjukkan bahwa efisiensi energi membutuhkan kombinasi teknologi, standar, dan perubahan cara mengelola bangunan. Uni Eropa memperbarui Energy Performance of Buildings Directive untuk mendorong peningkatan kinerja energi bangunan, renovasi gedung yang kurang efisien, serta transisi menuju bangunan tanpa emisi.
Kebijakan tersebut menegaskan bahwa pembenahan bangunan lama sama pentingnya dengan menerapkan standar yang lebih baik pada bangunan baru.
Di Amerika Serikat, program Better Buildings dari Departemen Energi mendorong pelaku industri dan pengelola fasilitas menerapkan strategi penghematan energi, termasuk melalui perbaikan sistem pengondisian udara.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi yang efisien perlu diikuti pengukuran dan evaluasi operasional agar potensi penghematan dapat diketahui.
Bagi Indonesia, pelajaran pentingnya adalah mengintegrasikan efisiensi sejak tahap perencanaan, pemilihan peralatan, hingga pengoperasian gedung.
Sistem pendingin yang tepat dapat menjadi salah satu komponen, tetapi bukan satu-satunya solusi. Pengaturan suhu yang wajar, perawatan berkala, pemantauan penggunaan listrik, serta desain bangunan yang mempertimbangkan iklim setempat juga diperlukan.
Berdasarkan roadmap pengembangan bangunan hijau pemerintah yang dirujuk dalam materi terkait, sektor bangunan menyumbang sekitar 33% emisi gas rumah kaca Indonesia pada periode 2011–2021.
Pemerintah juga menargetkan pengurangan emisi sebesar 1,91 juta ton CO₂e dari subsektor bangunan komersial melalui berbagai langkah efisiensi energi hingga 2030. Target ini menempatkan pengelolaan energi gedung sebagai salah satu bagian dari agenda pengurangan emisi nasional.
Sertifikasi Produk Menjadi Referensi, Bukan Satu-satunya Ukuran
Di Indonesia, penerapan prinsip bangunan berkelanjutan turut mendorong perhatian terhadap pemilihan sistem tata udara. Sertifikasi lingkungan dapat membantu pemilik dan pengelola gedung mengenali aspek yang dinilai pada suatu produk, tetapi penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi proyek.
Load more